![]() |
Dalam
Injil hari ini, kita diajak melihat pengalaman iman Yusuf akan
firman Allah kepadanya. Kita pun diajak merenungkan kegalauan hati Yusuf karena
gadis yang sangat ia cintai sekaligus hormati mengandung.
Kegelisahan Yusuf juga dipicu dengan kegalauan hatinya sebagai orang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama Maria di depan umum. Ia bingung bagaimana bisa meninggalkan Maria diam-diam? Kalau ia meninggalkan, bukankah Maria lebih menderita karena akan dituduh yang bukan-bukan? Bagaimana Maria bisa mempertanggungjawabkan kehamilannya?
Dalam kegelisahannya, Malaikat Tuhan menyapa Yusuf lewat mimpi. Malaikat menegaskan kehamilan Maria adalah kehendak Allah karena Roh kudus dan Yusuf diminta untuk mengambil Maria menjadi istrinya. Maria akan melahirkan seorang anak laki- laki yang harus dinamai Yesus, sebab Dia akan menyelamatkan umat manusia dari dosa-dosa mereka. Malaikat Tuhan juga menegaskan misi dan panggilan Yusuf, “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14).
Perjumpaan kegalauan Yusuf dengan kehendak Allah melalui Malaikat dalam mimpinya membuat Yusuf segera bangun dari tidur. Tanpa banyak kata, Yusuf menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Percaya pada firman Allah menjadikan Yusuf dengan tegas mengambil Maria menjadi istrinya dan percaya apa yang dialami Maria sungguh karena karya Allah.
Keberanian menyerahkan diri kepada kehendak dan bimbingan Allah menjadikan kegelapan yang dialami Yusuf sirna. Ia pun berani menempuh jalan baru yang sebelumnya tak pernah dipikirkan dan direncanakan. Sejak itu, Yusuf percaya Allah memiliki rencana besar melalui dirinya, menjadi bapa bagi Yesus.
Peristiwa kelahiran Yesus melibatkan Yusuf dan harus melibatkan orang yang benar ini. Peranan Yusuf bukan main-main. Ia harus menjaga kemurnian Maria dan memelihara Yesus yang datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa.
Yusuf tak menduga bahwa ia juga dipanggil untuk melaksanakan tugas yang amat luhur. Yusuf menerima tugas itu dengan penuh penyerahan diri dan percaya, seperti Maria ketika menerima kabar Malaikat Tuhan.
Pada zaman ini, kisah perjalanan iman Yusuf seperti kisah kita. Kegalauan, kebingungan, kepenatan, kekhawatiran, gelisah dan putus asa adalah peristiwa dalam hidup kita sehari-hari. Kita pernah mengalami saat-saat yang sulit untuk membuat keputusan, karena kekhawatiran dan kecemasan berkecamuk dalam diri. Seringkali kita semakin terpuruk karena kurang berani menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Kita masih memikirkan kepentingan manusiawi kita, enggan berkorban, gelisah dengan tuntutan peduli, ragu-ragu ketika harus berbelas kasih. Bahkan kerap kita berpikir untung dan rugi kalau berjumpa dengan kehendak Allah itu.
Keteladanan Yusuf sebagai pribadi yang segera bangun dan mengikuti kehendak Allah merupakan sikap yang pas untuk mendampingi Maria dalam peristiwa kelahiran Yesus dan menjaga Yesus. Pengalaman iman Yusuf menjadikannya pantas untuk terlibat dalam peristiwa kelahiran Yesus; Yusuf menjadi benar di hadapan Allah. Kebenaran ini teruji dengan mantap ketika Yusuf dengan segera meninggalkan pamrih pribadinya dan mengikuti kehendak Allah dengan tegas. Kebenaran hidupnya dilanjutkan bersama Maria dengan sehati sejiwa, berjalan bersama Allah untuk mendampingi hidup Yesus selanjutnya.
Kelahiran
Yesus di zaman sekarang menuntut kita sebagai orang beriman untuk menjadi
orang-orang benar di hadapan Allah. Seperti Yusuf, karena benar ia menjadi berarti
dalam peristiwa kelahiran Yesus. Demikian juga kebenaran orang-orang beriman,
sikap adil, belas kasih, rela berkorban dalam hidup jemaat semakin menjelaskan
arti Natal, kelahiran Yesus bagi dunia yang terpuruk karena hancurnya
nilai-nilai peradaban publik.
Peristiwa
kelahiran Yesus menjadi peristiwa kegembiraan dan keselamatan. Ini harus
dimulai dengan mewujudkan hidup yang benar, adil, murah hati, peduli, rela
berkorban. Yesus menunggu keberanian kita untuk merelakan diri dan menghadirkan
kasih serta penebusan bagi umat manusia; berani menderita demi kebenaran. Jika
hal itu bisa kita wujudkan, kelahiran Yesus akan semakin membawa keselamatan
dan kedamaian di bumi. Jika tidak, peristiwa kelahiran Yesus hanya menjadi
sebatas kisah kelahiran tanpa arti.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar