MAN THE PLAYER (Refleksi Filosofis FIFA World Cup 2022) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Jumat, 02 Desember 2022

MAN THE PLAYER (Refleksi Filosofis FIFA World Cup 2022)

Ilustrasi pemain Timnas Brasil Piala Dunia 2022 (Foto: Victory News)


Manusia adalah makhluk yang berakal budi. Dari situ muncul istilah "Homo Sapiens". Dalam perkembangannya, muncul pula istilah "Homo Faber” atau “Man the Maker" untuk menyebut "manusia sebagai makluk pekerja". Sementara itu, filsuf Johan Huizinga memberi penekanan bahwa manusia tidak hanya ditandai dengan kualitas berpikir atau akal budi (thinking) dan bekerja (working/ making), tetapi juga "playing" (bermain).

Filsuf Belanda ini memelopori studi permainan dan permainan (sering disebut sebagai teori ludis). Ia melihat bagaimana ahli matematika dan militer telah menggunakan istilah 'teori permainan', yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan permainan.  Profesor, teoritisi budaya dan sejarahwan Belanda ini akhirnya menulis sebuah buku berjudul: Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture, pada tahun 1938.

Dari buku tersebut kemudian munculah istilah Homo Ludens atau "Man the Player", untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”, yang populer hingga saat ini. Bagi Huizinga, manusua juga merupakan makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Dengan kata lain Homo Ludens adalah sebuah konsep yang memahami  manusia sebagau seorang pemain yang memainkan permainan.

Dalam perspektif refleksi teologi-filosofi, kemampuan bermain manusia bersumber dari Sang Pencipta. Manusia mengada sebagai co-creator, yakni sebagai pencipta bersama Pencipta. Allah menciptakan manusia dan memberinya kemampuan untuk mencipta. Bedanya, Allah mencipta dari ketiadaan (creatio ex nihilo) menjadi ada, sedangkan manusia mencipta dari yang sudah ada menjadi ada dalam wujud yang lain.

Permainan merupakan elemen penting dalam lakon hidup manusia. Dari usia balita hingga lanjut usia, manusia selalu terlibat dalam permainan. Maka pantaslah ia disebut sebagai homo ludens, makhluk bermain. Kemampuannya untuk bermain adalah kekhasan hidup manusia. Dalam bermain, manusia menegaskan keberadaannya. Ia menghadirkan totalitas diri yang terungkap dalam kegembiraan dan kebebasan. Ketika manusia larut dalam permainan, ia mengalami semacam ekstase yang mengangkatnya ke titik kulminasi.  

Dalam hidup, terdapat banyak jenis permainan. Salah satu di antaranya adalah permainan sepak bola atau bola kaki. Permainan sepak bola sangat populer di semua kalangan masyarakat. Sepak bola telah diminati oleh banyak penghuni planet ini, tidak mengenal tingkat usia atau jenis kelamin. Sepak bola selalu menjadi topik perbincangan menarik, khususnya pada perhelatan akbar FIFA World Cup yang saat ini sedang berlangsung.

Sebagai salah satu jenis olah raga yang mendunia, sepak bola tidak hanya sebagai sebuah pertandingan semata, namun memiliki makna filosofis bagi manusia. Dalam permainan bola kaki kecitraan homo ludens merealisasikan wujudnya. Dalam pertandingan, citra itu nampak secara riil dalam komunikasi dan bahasa tubuh yang terolah oleh bakat para pemain. Di sana ada pula kata hati dan naluri yang mengalir dalam rentang momen-momen menakjubkan. Ada kesempatan yang menciptakan kejutan, keasyikan, tetapi juga kadang kekecewaan.

Dalam permainan bola kaki, selalu terkandung unsur kebersamaan dengan orang lain. Di tengah lapangan, sikap idividual pemain diolah, emosi ditata, dan konsentrasi diasah. Bola kaki bahkan begitu digandrungi bukan hanya oleh mereka yang mahir mengolah si kulit bundar. Mereka yang hanya tahu menonton pun ikut tersihir magis sepak bola. Malah dalam hal tertentu, penonton seakan lebih tahu tentang sepak bola, ketimbang pemain bola itu sendiri. Suporter seolah-olah lebih paham dari para pelatih sepak bola.

Hadirnya sepak bola sebagai permainan abad modern turut membentuk pola rasionalisasi yang berjalan di atas kesadaran bahwa sepak bola merupakan arena pemersatu, nasionalisme, fair play, anti-rasis dan ketaatan pada keputusan tertinggi federasi. Namun di pihak lain, ada kesan bahwa sepak bola cenderung bergerak menuju chaos. Kerelaan bertindak pada seragam tim kesayangan yang dibela sepenuh jiwa-raga, kadang melampaui kewajaran.  

Selama 2 kali 45 menit waktu normal, si kulit bundar dimainkan. Kalah atau menang adalah konsekwensi logis dalam permainan itu. Kericuhan dalam pertandingan maupun di luar pertandingan yang dilakukan para pemain atau suporter adalah carut-marut yang menodai eksistensi homo ludens.

Mari kita bermain, tapi jangan “main-main” dengan permainan. Lebih baik kita bermain dengan permainan, daripada mempermainkan orang. Sebaliknya jika kita hanya penikmat permainan, jadilah pendukung fanatik yang bersyukur kalau menang, tetapi tetap sportif kalau kalah. Ini hanya permainan, jangan mau dipermainkan dan mempermainkan permainan.

*)Hendrikus Dasrimin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar