![]() |
| Ilustrasi pemain Timnas Brasil Piala Dunia 2022 (Foto: Victory News) |
Manusia adalah makhluk yang
berakal budi. Dari situ muncul istilah "Homo Sapiens". Dalam
perkembangannya, muncul pula istilah "Homo Faber” atau “Man the
Maker" untuk menyebut "manusia sebagai makluk pekerja". Sementara
itu, filsuf Johan Huizinga memberi penekanan bahwa manusia tidak hanya ditandai
dengan kualitas berpikir atau akal budi (thinking) dan bekerja (working/
making), tetapi juga "playing" (bermain).
Filsuf Belanda ini
memelopori studi permainan dan permainan (sering disebut sebagai teori ludis).
Ia melihat bagaimana ahli matematika dan militer telah menggunakan istilah
'teori permainan', yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan permainan. Profesor, teoritisi budaya dan
sejarahwan Belanda ini akhirnya menulis sebuah buku berjudul: Homo
Ludens; a Study of Play Element in Culture, pada tahun 1938.
Dari buku tersebut kemudian munculah
istilah Homo Ludens atau "Man the
Player", untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”,
yang populer hingga saat ini. Bagi Huizinga, manusua juga merupakan makhluk
yang suka bermain atau menciptakan permainan. Dengan kata lain Homo
Ludens adalah sebuah konsep yang memahami manusia sebagau seorang pemain
yang memainkan permainan.
Dalam perspektif
refleksi teologi-filosofi, kemampuan bermain manusia bersumber dari Sang Pencipta.
Manusia mengada sebagai co-creator, yakni sebagai pencipta
bersama Pencipta. Allah menciptakan manusia dan memberinya kemampuan untuk mencipta.
Bedanya, Allah mencipta dari ketiadaan (creatio ex nihilo) menjadi
ada, sedangkan manusia mencipta dari yang sudah ada menjadi ada dalam
wujud yang lain.
Permainan merupakan
elemen penting dalam lakon hidup manusia. Dari usia balita hingga lanjut usia,
manusia selalu terlibat dalam permainan. Maka pantaslah ia disebut sebagai homo
ludens, makhluk bermain. Kemampuannya untuk bermain adalah kekhasan hidup manusia.
Dalam bermain, manusia menegaskan keberadaannya. Ia menghadirkan totalitas diri
yang terungkap dalam kegembiraan dan kebebasan. Ketika manusia larut dalam
permainan, ia mengalami semacam ekstase yang mengangkatnya ke titik kulminasi.
Dalam hidup, terdapat banyak jenis permainan. Salah
satu di antaranya adalah permainan sepak bola atau bola kaki. Permainan sepak
bola sangat populer di semua kalangan masyarakat. Sepak bola telah diminati oleh banyak penghuni planet ini, tidak mengenal tingkat usia
atau jenis kelamin. Sepak bola
selalu menjadi topik perbincangan menarik, khususnya pada perhelatan akbar FIFA
World Cup yang saat ini sedang berlangsung.
Sebagai salah satu jenis olah
raga yang mendunia, sepak bola tidak hanya sebagai sebuah pertandingan semata, namun
memiliki makna filosofis bagi manusia. Dalam permainan bola kaki kecitraan homo
ludens merealisasikan wujudnya. Dalam pertandingan, citra itu nampak
secara riil dalam komunikasi dan bahasa tubuh yang terolah oleh bakat para pemain.
Di sana ada pula kata hati dan naluri yang mengalir dalam rentang momen-momen menakjubkan.
Ada kesempatan yang menciptakan kejutan, keasyikan, tetapi juga kadang
kekecewaan.
Dalam permainan bola kaki,
selalu terkandung unsur kebersamaan dengan orang lain. Di tengah lapangan,
sikap idividual pemain diolah, emosi ditata, dan konsentrasi diasah. Bola kaki bahkan begitu
digandrungi bukan hanya oleh mereka yang mahir mengolah si kulit bundar. Mereka
yang hanya tahu menonton pun ikut tersihir magis sepak bola. Malah dalam hal
tertentu, penonton seakan lebih tahu tentang sepak bola, ketimbang pemain bola
itu sendiri. Suporter seolah-olah lebih paham dari para pelatih sepak bola.
Hadirnya
sepak bola sebagai permainan abad modern turut membentuk pola rasionalisasi yang
berjalan di atas kesadaran bahwa sepak bola merupakan arena pemersatu,
nasionalisme, fair play, anti-rasis dan ketaatan pada keputusan tertinggi
federasi. Namun di pihak lain, ada kesan bahwa sepak bola cenderung bergerak
menuju chaos. Kerelaan bertindak pada seragam tim kesayangan yang dibela
sepenuh jiwa-raga, kadang melampaui kewajaran.
Selama
2 kali 45 menit waktu normal, si kulit bundar dimainkan. Kalah atau menang
adalah konsekwensi logis dalam permainan itu. Kericuhan dalam pertandingan maupun
di luar pertandingan yang dilakukan para pemain atau suporter adalah carut-marut
yang menodai eksistensi homo ludens.
Mari kita bermain, tapi
jangan “main-main” dengan permainan. Lebih baik kita bermain dengan permainan,
daripada mempermainkan orang. Sebaliknya jika kita hanya penikmat permainan,
jadilah pendukung fanatik yang bersyukur kalau menang, tetapi tetap sportif
kalau kalah. Ini hanya permainan, jangan mau dipermainkan dan mempermainkan
permainan.
*)Hendrikus Dasrimin


Tidak ada komentar:
Posting Komentar