![]() |
| St. Yohanes dari Saib (Foto: Renungan Pagi) |
Penulis: Hendrikus Dasrimin
(Artikel ini sudah diterbitkan juga di Majalah Ziarah, 2011)
Aneka peristiwa yang terungkap akhir-akhir ini sungguh
memperlihatkan kepada kita suatu gambaran kemanusiaan yang
tercabik-cabik oleh egoisme, keserakahan, nafsu, ankara murka dan
dendam. Betapa memprihatinkan manakala kita mendengar, melihat, bahkan
mengalami aneka kekerasan, kebrutalan, dan kesadisan yang bertubi-tubi
muncul di sekitar kita. Seorang istri dan bayi dalam kandungan dibantai
oleh suami sendiri. Seorang anak diperkosa oleh ayahnya sendiri. Ibu
menganiaya dan membunuh anak kandungnya. Dan masih banyak lagi litani
contoh yang bisa dipaparkan.
Alam pun seakan turut menggugat dan menambah penderitaan manusia.
Bencana banjir, tanah longsong, gempa bumi, gunung meletus terjadi di
mana-mana.
Mencermati dan merenungkan aneka peristiwa yang berkecamuk di
medan kehidupan akhir-akhir ini, kita terpekur dalam kepedihan hati yang
mendalam, seraya merakit pertanyaan-pertanyaan yang menggugat
kemanusiaan juga keberimanan kita. Dalam kondisi tanpa harapan, orang
bisa saja mempersoalkan atau menggugat serta meragukan dasar terakhir
keyakinan hidupnya. Iman menjadi tidak aman. Kehadiran Allah semakin
dipertanyakan. Jika Allah ada, mengapa Ia tetap membiarkan adanya
kejahatan di dunia ini terus merajalela? Jika Allah yang kita imani
adalah Kasih, mengapa Ia terus membiarkan penderitaan dialami manusia
ciptaan-Nya?
Pengalaman “ketidakhadiran” Allah atau dalam theologi
dikenal dengan persoalan teodice ini, oleh Juan de la Cruz (St. Yohanes
dari Salib) disebut sebagai “Malam Gelap”.
Santo Yohanes dari Salib, seorang mistikus besar dari Ordo Karmel, dalam
buku Mendaki Gunung Karmel (selanjutnya disingkat MGK), tanpa ragu-ragu
menetapkan dan menamakan seluruh perjalanan, atau hidup iman itu suatu
“Malam Gelap”.
Istilah “Malam Gelap” dipakai untuk melukiskan pengalaman jiwa
(orang) yang sedang menempuh perjalanan hidup rohani menuju persatuan
dengan Tuhan. Malam Gelap merupakan suatu pengalaman mistik dimana orang
tidak mengalami kehadiran Allah. Namun doktor mistik yang lahir pada
tanggal 24 Juni 1542 ini, menambahkan bahwa sebenarnya orang mengalami
kehadiran Allah tetapi secara negatif, yang artinya Allah sama sekali
berbeda dari yang pernah dikenal dan dialami sebelumnya. Ia bagaikan
sinar yang membutakan mata. Malam gelap adalah lorong yang mempertemukan
usaha manusia untuk mendekati Allah dan inisiatif Allah untuk menarik
manusia kepada Diri-Nya.
Lewat pengalaman malam gelap, Allah secara
aktif mengambil peranan membersihkan jiwa (orang) dari segala egoisme
atau kelekatannya yang tidak teratur kepada hal-hal yang bukan Allah.
St. Yohanes dari Salib mengajarkan bahwa iman membimbing kita untuk
percaya akan kebenaran yang diwahyukan Allah, yakni kebenaran-kebenaran
yang mengatasi setiap terang cahaya kodrati dan sama sekali mengatasi
semua pengertian manusia (MGK 2, 3, 1).
Orang Kudus yang diangkat menjadi santo pada tanggal 26 Desember 1726
oleh Paus Benediktus XIII ini, mengatakan bahwa iman adalah satu-satunya
jalan yang paling singkat dan paling cocok menuju persatuan dengan
Allah. Untuk pergi kepada Allah orang harus bersandar pada kegelapan
iman, menerimanya sebagai pembimbing dan terang cahayanya, dan tidak
bersandar pada apapun yang dipahaminya, dirasakan dan dibayangkannya
(MGK 2, 4, 2). Untuk berjalan menuju persatuan dengan Allah dalam iman,
seseorang pasti terhalang apabila ia melekat pada suatu pengetahuan,
perasaan, bayangan, pendapat atau caranya sendiri (MGK 2, 4, 4).
Alasan
dari hambatan ini terdapat dalam kebenaran bahwa tidak ada sesuatupun
dari pengetahuan atau perasaan khusus itu memberikan jalan yang paling
singkat menuju persatuan dengan Allah, karena Allah itu sama sekali
mengatasi semua itu.
Bagi Yohanes dari Salib, dengan berjalan melalui iman, seseorang
berjalan maju juga dalam pengharapan dan cinta kasih. Iman menyebabkan
kegelapan dan suatu kekosongan pengertian di dalam akal budi,
pengharapan melahirkan suatu kekosongan harta milik di dalam ingatan,
dan cinta kasih menghasilkan ketelanjangan dan kekosongan perasaan cinta
dan suka cita atas segala sesuatu yang bukan Allah (MGK 2, 6, 2).
Pujangga Gereja yang digelari pada tanggal 24 Agustus 1926 oleh
Paus Pius XI ini, menegaskan bahwa untuk dapat berjalan maju di dalam
iman, seseorang harus dibimbing dalam segala sesuatu oleh hukum Kristus
dan hukum Gereja. Tidak boleh orang melanggar batas-batas yang sudah
ditetapkan Allah dengan mencari pengetahuan sendiri, dengan cara-cara
yang luar biasa, karena seseorang dapat cukup dibimbing oleh pikiran
kodrati dan hukum serta ajaran Injil (MGK 2, 21, 4). Melalui kebiasaanya
atau sikap serta kebajikannya yang baik, ia dapat mengarahkan
pandangannya hanya pada pelayanan dan penghormatan kepada Allah (MGK 3,
27, 4). Dengan kata lain, melalui hidup dalam iman, pengharapan dan
cinta kasih, jiwa mencabut segala sesuatu yang bukan Allah dan
menyatukan dirinya sendiri dengan Allah.
Lewat hidup dan karya mistiknya, St. Yohanes dari Salib
membagikan pengalaman rohaninya akan Allah. Dalam pelbagai tulisannya,
Juan de la Cruz melukiskan Allah sebagai Kekasih yang dirindukan oleh
jiwa yakni manusia. Untuk mencapai Sang Kekasih, segala-galanya harus
ditinggalkan; Todo O Nada. Jiwa perlu dibersihkan dari segala kelekatan
barang-barang duniawi sebab kelekatan pada barang-barang duniawi dapat
menghambat perjalanan menuju Allah. Jalan menuju persatuan dengan Allah,
“malam gelap” ini merupakan suatu “lorong sempit” menuju kehidupan.
Di
jalan itu seseorang harus menyangkal diri sendiri, memanggul salibnya
dan menyerahkan nyawanya.
Semakin jauh seseorang berpaling dari apa yang tidak sempurna dalam
aktivitasnya, semakin bertambah besar kemampuannya untuk bergerak jauh
dari kodrat Allah. Jika ia sudah menarik mundur semua cacat-celah dalam
pekerjaannya, ia akan menjadi sungguh-sungguh kosong dari makluk
ciptaan, dimurnikan seluruhnya dan sungguh-sungguh mampu menerima
terang, kehangatan, kekuatan dan kepenuhan rahmat Allah.
Dalam hal ini, Yohanes dari Salib menekankan pentingnya
melucuti, memurnikan, mencabut, membasmi segala yang bertentangan dengan
persatuan sempurna dengan Allah. Ini adalah suatu perjalanan pulang;
jalan pertobatan menuju iman yang benar.
Apabila iman kita mulai tidak aman (tergoncang), hendaknya kita kembali
dan menemukan iman itu sendiri. Menemukan kembali iman Katolik berarti
menemukan cara Allah mencintai kita dan mempersiapkan diri menyambut
kasih itu. Lantas, bagaimana caranya? Paus Benediktus XVI, pada perayaan
Tahun Imam (2012-2013), menegaskan bahwa setiap umat Katolik mesti
mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan “pertobatan”, atau mengubah
arah. Itu berarti kita hendaknya memilih cara hidup yang sesuai dengan
ajaran Yesus yang telah disampaikan melalui Gereja.
Secara praktis kita
diajak untuk menghayati Sakramen Tobat, untuk hidup secara baru di masa
yang akan datang. Lebih lanjut, dalam ensiklik Porta Fidei, no. 15, Paus
Benediktus XVI menulis: “Iman mengharuskan masing-masing kita untuk
menjadi tanda yang hidup dari kehadiran Yesus Kristus yang bangkit dalam
dunia ini. Apa yang sekarang dunia ini butuhkan ialah
kesaksian-kesaksian yang terpercaya dari seorang yang pikiran dan
hatinya disinari oleh Sabda Tuhan dan mampu membuka hati dan pikiran
dari banyak orang lain untuk merindukan Allah, dan hidup sejati, hidup
yang tidak berkesudahan”.
Di sini ditekankan pentingnya mewujudkan iman dalam perbuatan
atau kesaksian hidup, sebagaimana yang diserukan oleh rasul Yakobus
bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.
Gereja mengajarkan bahwa perjalanan iman kita dimulai dengan pembaptisan
dan berlangsung sepanjang hidup. Dalam perjalanan itu sering kita
sedikit tersesat atau lupa di mana posisi kita dan ke mana kita mau
pergi.
Laksana berjalan dalam Malam Gelap, kita membutuhkan pelita
sebagai titik terang yang menghantar kita ke tempat tujuan yakni
persatuan dengan Allah. Satu-satunya harapan kita di tengah penderitaan,
atau malam gelap kehidupan ini adalah mendekatkan diri pada Sang
Terang. Kristus Tuhan kita telah mewahyukan diri sebagai cahaya dunia,
agar kita tidak berjalan dalam kegelapan, melainkan disinari oleh terang
kehidupan.


Gelap malam mengarahkan kita pada terang yang sejati yaitu Yesus Kristus
BalasHapusMantap
Hapus