Ketika Iman Menjadi Tidak Aman (Pengalaman Malam Gelap dalam Terang Pemikiran Juan de la Cruz) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

Ketika Iman Menjadi Tidak Aman (Pengalaman Malam Gelap dalam Terang Pemikiran Juan de la Cruz)

 

St. Yohanes dari Saib (Foto: Renungan Pagi)


Penulis: Hendrikus Dasrimin
(Artikel ini sudah diterbitkan juga di Majalah Ziarah, 2011)

Aneka peristiwa yang terungkap akhir-akhir ini sungguh memperlihatkan kepada kita suatu gambaran kemanusiaan yang tercabik-cabik oleh egoisme, keserakahan, nafsu, ankara murka dan dendam. Betapa memprihatinkan manakala kita mendengar, melihat, bahkan mengalami aneka kekerasan, kebrutalan, dan kesadisan yang bertubi-tubi muncul di sekitar kita. Seorang istri dan bayi dalam kandungan dibantai oleh suami sendiri. Seorang anak diperkosa oleh ayahnya sendiri. Ibu menganiaya dan membunuh anak kandungnya. Dan masih banyak lagi litani contoh yang bisa dipaparkan. Alam pun seakan turut menggugat dan menambah penderitaan manusia. Bencana banjir, tanah longsong, gempa bumi, gunung meletus terjadi di mana-mana. 

Mencermati dan merenungkan aneka peristiwa yang berkecamuk di medan kehidupan akhir-akhir ini, kita terpekur dalam kepedihan hati yang mendalam, seraya merakit pertanyaan-pertanyaan yang menggugat kemanusiaan juga keberimanan kita. Dalam kondisi tanpa harapan, orang bisa saja mempersoalkan atau menggugat serta meragukan dasar terakhir keyakinan hidupnya. Iman menjadi tidak aman. Kehadiran Allah semakin dipertanyakan. Jika Allah ada, mengapa Ia tetap membiarkan adanya kejahatan di dunia ini terus merajalela? Jika Allah yang kita imani adalah Kasih, mengapa Ia terus membiarkan penderitaan dialami manusia ciptaan-Nya? 

Pengalaman “ketidakhadiran” Allah atau dalam theologi dikenal dengan persoalan teodice ini, oleh Juan de la Cruz (St. Yohanes dari Salib) disebut sebagai “Malam Gelap”. Santo Yohanes dari Salib, seorang mistikus besar dari Ordo Karmel, dalam buku Mendaki Gunung Karmel (selanjutnya disingkat MGK), tanpa ragu-ragu menetapkan dan menamakan seluruh perjalanan, atau hidup iman itu suatu “Malam Gelap”. 

Istilah “Malam Gelap” dipakai untuk melukiskan pengalaman jiwa (orang) yang sedang menempuh perjalanan hidup rohani menuju persatuan dengan Tuhan. Malam Gelap merupakan suatu pengalaman mistik dimana orang tidak mengalami kehadiran Allah. Namun doktor mistik yang lahir pada tanggal 24 Juni 1542 ini, menambahkan bahwa sebenarnya orang mengalami kehadiran Allah tetapi secara negatif, yang artinya Allah sama sekali berbeda dari yang pernah dikenal dan dialami sebelumnya. Ia bagaikan sinar yang membutakan mata. Malam gelap adalah lorong yang mempertemukan usaha manusia untuk mendekati Allah dan inisiatif Allah untuk menarik manusia kepada Diri-Nya. 

Lewat pengalaman malam gelap, Allah secara aktif mengambil peranan membersihkan jiwa (orang) dari segala egoisme atau kelekatannya yang tidak teratur kepada hal-hal yang bukan Allah. St. Yohanes dari Salib mengajarkan bahwa iman membimbing kita untuk percaya akan kebenaran yang diwahyukan Allah, yakni kebenaran-kebenaran yang mengatasi setiap terang cahaya kodrati dan sama sekali mengatasi semua pengertian manusia (MGK 2, 3, 1).

Orang Kudus yang diangkat menjadi santo pada tanggal 26 Desember 1726 oleh Paus Benediktus XIII ini, mengatakan bahwa iman adalah satu-satunya jalan yang paling singkat dan paling cocok menuju persatuan dengan Allah. Untuk pergi kepada Allah orang harus bersandar pada kegelapan iman, menerimanya sebagai pembimbing dan terang cahayanya, dan tidak bersandar pada apapun yang dipahaminya, dirasakan dan dibayangkannya (MGK 2, 4, 2). Untuk berjalan menuju persatuan dengan Allah dalam iman, seseorang pasti terhalang apabila ia melekat pada suatu pengetahuan, perasaan, bayangan, pendapat atau caranya sendiri (MGK 2, 4, 4). 

Alasan dari hambatan ini terdapat dalam kebenaran bahwa tidak ada sesuatupun dari pengetahuan atau perasaan khusus itu memberikan jalan yang paling singkat menuju persatuan dengan Allah, karena Allah itu sama sekali mengatasi semua itu. Bagi Yohanes dari Salib, dengan berjalan melalui iman, seseorang berjalan maju juga dalam pengharapan dan cinta kasih. Iman menyebabkan kegelapan dan suatu kekosongan pengertian di dalam akal budi, pengharapan melahirkan suatu kekosongan harta milik di dalam ingatan, dan cinta kasih menghasilkan ketelanjangan dan kekosongan perasaan cinta dan suka cita atas segala sesuatu yang bukan Allah (MGK 2, 6, 2). 

Pujangga Gereja yang digelari pada tanggal 24 Agustus 1926 oleh Paus Pius XI ini, menegaskan bahwa untuk dapat berjalan maju di dalam iman, seseorang harus dibimbing dalam segala sesuatu oleh hukum Kristus dan hukum Gereja. Tidak boleh orang melanggar batas-batas yang sudah ditetapkan Allah dengan mencari pengetahuan sendiri, dengan cara-cara yang luar biasa, karena seseorang dapat cukup dibimbing oleh pikiran kodrati dan hukum serta ajaran Injil (MGK 2, 21, 4). Melalui kebiasaanya atau sikap serta kebajikannya yang baik, ia dapat mengarahkan pandangannya hanya pada pelayanan dan penghormatan kepada Allah (MGK 3, 27, 4). Dengan kata lain, melalui hidup dalam iman, pengharapan dan cinta kasih, jiwa mencabut segala sesuatu yang bukan Allah dan menyatukan dirinya sendiri dengan Allah. 

Lewat hidup dan karya mistiknya, St. Yohanes dari Salib membagikan pengalaman rohaninya akan Allah. Dalam pelbagai tulisannya, Juan de la Cruz melukiskan Allah sebagai Kekasih yang dirindukan oleh jiwa yakni manusia. Untuk mencapai Sang Kekasih, segala-galanya harus ditinggalkan; Todo O Nada. Jiwa perlu dibersihkan dari segala kelekatan barang-barang duniawi sebab kelekatan pada barang-barang duniawi dapat menghambat perjalanan menuju Allah. Jalan menuju persatuan dengan Allah, “malam gelap” ini merupakan suatu “lorong sempit” menuju kehidupan. 

Di jalan itu seseorang harus menyangkal diri sendiri, memanggul salibnya dan menyerahkan nyawanya. Semakin jauh seseorang berpaling dari apa yang tidak sempurna dalam aktivitasnya, semakin bertambah besar kemampuannya untuk bergerak jauh dari kodrat Allah. Jika ia sudah menarik mundur semua cacat-celah dalam pekerjaannya, ia akan menjadi sungguh-sungguh kosong dari makluk ciptaan, dimurnikan seluruhnya dan sungguh-sungguh mampu menerima terang, kehangatan, kekuatan dan kepenuhan rahmat Allah. 

Dalam hal ini, Yohanes dari Salib menekankan pentingnya melucuti, memurnikan, mencabut, membasmi segala yang bertentangan dengan persatuan sempurna dengan Allah. Ini adalah suatu perjalanan pulang; jalan pertobatan menuju iman yang benar. Apabila iman kita mulai tidak aman (tergoncang), hendaknya kita kembali dan menemukan iman itu sendiri. Menemukan kembali iman Katolik berarti menemukan cara Allah mencintai kita dan mempersiapkan diri menyambut kasih itu. Lantas, bagaimana caranya? Paus Benediktus XVI, pada perayaan Tahun Imam (2012-2013), menegaskan bahwa setiap umat Katolik mesti mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan “pertobatan”, atau mengubah arah. Itu berarti kita hendaknya memilih cara hidup yang sesuai dengan ajaran Yesus yang telah disampaikan melalui Gereja. 

Secara praktis kita diajak untuk menghayati Sakramen Tobat, untuk hidup secara baru di masa yang akan datang. Lebih lanjut, dalam ensiklik Porta Fidei, no. 15, Paus Benediktus XVI menulis: “Iman mengharuskan masing-masing kita untuk menjadi tanda yang hidup dari kehadiran Yesus Kristus yang bangkit dalam dunia ini. Apa yang sekarang dunia ini butuhkan ialah kesaksian-kesaksian yang terpercaya dari seorang yang pikiran dan hatinya disinari oleh Sabda Tuhan dan mampu membuka hati dan pikiran dari banyak orang lain untuk merindukan Allah, dan hidup sejati, hidup yang tidak berkesudahan”. 

Di sini ditekankan pentingnya mewujudkan iman dalam perbuatan atau kesaksian hidup, sebagaimana yang diserukan oleh rasul Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Gereja mengajarkan bahwa perjalanan iman kita dimulai dengan pembaptisan dan berlangsung sepanjang hidup. Dalam perjalanan itu sering kita sedikit tersesat atau lupa di mana posisi kita dan ke mana kita mau pergi. 

Laksana berjalan dalam Malam Gelap, kita membutuhkan pelita sebagai titik terang yang menghantar kita ke tempat tujuan yakni persatuan dengan Allah. Satu-satunya harapan kita di tengah penderitaan, atau malam gelap kehidupan ini adalah mendekatkan diri pada Sang Terang. Kristus Tuhan kita telah mewahyukan diri sebagai cahaya dunia, agar kita tidak berjalan dalam kegelapan, melainkan disinari oleh terang kehidupan. 

2 komentar: