BERJAGA-JAGA SECARA KREATIF (Renungan Minggu Adven I - Tahun A) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Jumat, 25 November 2022

BERJAGA-JAGA SECARA KREATIF (Renungan Minggu Adven I - Tahun A)

 

Ilustrasi (Foto: hidupkristen.com)

Hari ini kita mulai memasuki masa “Adventus”, masa penantian kedatangan Kristus Sang Juru damai pada hari natal dan pada akhir zaman nanti. Tema bacaan pada hari ini adalah sebuah ajakan untuk senantiasa berjaga-jaga. Tema ini sejajar dengan beberapa perikop Injil lainnya yang menceriterakan tentang perumpamaan talenta dan kisah tentang sepuluh gadis. Kedua cerita tersebut mengingatkan kita juga supaya kita menunggu  Tuhan yang sedang berkarya.

Yesus mengundang kita untuk berjaga-jaga sambil menantikan kedatangan-Nya. Bagaimana Ia akan datang nanti dan tanda-tanda apa menjelang kedatangannya, secara jelas dinyatakan dalam kisah-kisah Injil; bahwa kedatangan-Nya tidak diketahui kapan akan terjadi. Kitab Suci hanya mencatat bahwa peristiwa itu didahului tanda-tanda alamiah: nampak pada matahari, bulan dan bintang-bintang: langit akan bergoncang.

Penginjil agaknya menghayati betul bahwa peristiwa alam berhubungan erat dengan kekuatan dan kemahabesaran Allah. Kitab Suci sering mengungkapkan keadaan Allah: Allah murka, Allah yang setia dan belas kasih dengan menggunakan keadaan langit dan dunia. Kekuatan alam raya menjadi tak berarti dalam berhadapan dengan kekuatan Allah yang maha dahsyat. Dunia seakan tak berarti ditangan Tuhan.

Apa yang mau disampaikan kepada manusia? Jelas, bahwa manusia senantiasa harus berjaga-jaga dan selalu siap. Dalam bacaan Injil Yesus mengingatkan para murid-Nya agar tidak terjadi lagi hal yang sama seperti pada zaman Nuh. Mereka tidak pernah menyadari akan datangnya akhir zaman, karena itu mereka makan dan minum, berpesta pora, hidup senang-senang saja, akhirnya mereka semua binasa, kecuali Nuh dan keluarganya yang selamat: menyiapkan kapal dan segala perlengkapannya.  

Kita diminta untuk memiliki sikap berjaga-jaga. Berjaga-jaga berarti kita hidup dengan sadar, selalu bangun. St. Paulus dalam Bacaan II menggunakan istilah “Selalu bangun dari tidur”. Yesus meminta kepada kita semua untuk hidup dalam keadaan “siap” atau dalam keadaan selalu berjaga-jaga secara kreatif. Itu berarti Yesus mengendaki agar kita selalu berjaga sambil berdoa; hidup dengan kesadaran penuh kapan dan dimana saja kita berada; hidup sesuai dengan ruang dan waktu secara tepat.

Hal yang sama juga ditegaskan Paulus dalam Bacaan II. Paulus mengajak kita untuk hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Ia menambahkan, kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginanmu.

Cara hidup seperti inilah yang dikehendaki Allah. Berjada-jaga secara kreatif, berjaga-jaga sambil berdoa adalah satu kewaspadaan hidup yang menolak sikap santai dan bermalas-malasan, yang menolak sikap “mental enak” dan menyerah pada nasib.

Berjaga-jaga berarti hidup menurut kehendak Allah, hidup dalam keadaan pinggang yang tetap terikat dan pelita yang tetap bernyala. Yesaya sungguh menyadari bagaimana kalau Bangsa Israel tidak hidup menurut kehendak Allah. Kelambanan umat yang melupakan Tuhan, mengakibatkan kesedihan dan malapetaka yang kini dialaminya sendiri.

Berjaga-jaga mengarah manusia kepada pengadilan paripurna. Bagaimana pengadilan paripurna itu? Dikatakan secara jelas oleh nabi Yesaya dalam bacaan I: Tuhan mengumpulkan segala bangsa dalam damai abadi kerajaan Allah; Kerajaan Allah dilihat sebagai gunung Tuhan, rumah Allah Yakub, Sion, tempat Allah mengajarkan manusia tentang jalan-jalan-Nya. Dari sana Allah akan menjadi hakim bagi banyak suku bangsa.

Berjaga-jaga adalah satu cara hidup kristen yang coba berjalan berdasarkan keutamaan-keutamaan kristiani dan keutamaan-keutamaan Ilahi, antara lain kerendahan hati, kesetiaan, cinta, dan semangat berkorban.

Masi kita berjaga-jaga secara kreatif, bukan hanya puas dengan apa yang ada hari ini, apa yang kita alami saat ini, tetapi coba berjalan ke kedalaman batin dan sanubari. Mari menelusuri sudut-sudut hati dan nurani kita, melihat kehendak dan kebesaran Allah. Dengan itu kita akan semakin rendah hati dan patuh di hadirat Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar