TEOLOGI KERBAU dalam Ortodoksi Teologi - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

TEOLOGI KERBAU dalam Ortodoksi Teologi

 



Penulis: Hendrikus Dasrimin

Bagi pembaca yang ingin menyumbangkan artikel dengan tema Katolisitas, dalam bentuk renungan, katekese, sharing pengalaman iman, atau opini, silakan kirim ke email: dasrimino.carm@gmail.com




I.   PENDAHULUAN

Stephen Bevans dalam bukunya Model-Model Teologi Kontekstual, pada bagian penutup dalam bab pertamanya menyatakan:
“Teologi dewasa ini dapat kita simpulkan, mesti berupa sebuah teologi yang kontekstual. Beberapa pergerakan dan aliran penting yang terdapat pada zaman kita sekarang ini menunjukkan dengan jelas segi-segi dalam agama Kristen sendiri yang menjadikan sebagai imperatif sebuah teologi yang sungguh-sungguh menggubris pengalaman manusia, lokasi sosial, kebudayaan-kebudayaan partikular dan perubahan-perubahan sosial yang terjadi di dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut”[1].

Di sini, konteks riil di mana masyarakat hidup dan berada mesti dilihat sebagai partner dalam berteologi. Dengannya teologi bisa mendarat atau menyapa hidup suatu masyarakat. Sebuah karya pewartaan yang terlepas atau terpisah dari konteks riil hidup suatu masyarakat akan menjadi tidak berdaya guna karena pewartaan itu tidak menyentuh aspek-aspek yang melingkupi kehidupan  suatu masyarakat. 

Dalam rangka mewujudkan maksud itu, teolog Jepang, Kosuke Koyama[2], berusaha untuk memahami realitas budaya, agama, sejarah dan alam di Asia Tenggara umumnya dan di Muangthai Utara khususnya. Gagasan ini dituangkan dalam bukunya yang berjudul Waterbuffalo Theology. Dalam buku ini ia berusaha untuk mengkontekstualisasikan teologi seturut situasi dan kebutuhan riil umat setempat. Ia bertolak dari pengalaman umat untuk kemudian diberi isi teologis dalam terang Firman Allah.


II.  APA ITU TEOLOGI KERBAU?

Teologi Kerbau lahir dengan bertitik tolak pada realitas pastoral yang ada dalam lingkup masyarakat Muangthai. Dalam pengamatan dan refleksinya, Kosuke Koyama menemukan dua masalah teologis yang menjadi locus theologicus untuk penginjilan di Muangthai, antara lain  konfrontasi antara Muangthai Satu dan Muangthai Dua dan “bermurah hati” dalam teologi tentang pribadi ideal, raja, dan Yesus Kristus.

Muangthai satu berarti Muangthai dengan nilai-nilai tradisional yang dibentuk oleh berbagai pengaruh nilai-nilai agama Budha Teravada yang berasal dari India dan Sri Lanka. Ini dicirikan oleh Antropologi dan sejarah yang apatis, suatu pandangan hidup yang dingin yang muncul dari pengamatan yang jujur terhadap kehancuran manusia sebagaimana yang menyebabkan Gautama menarik diri menuju kesunyian hidup. Sedangkan Muangthai dua dihasilkan oleh kolonialisme Barat dengan senjata dan obatnya. Kekuasaan kolonial menyebabkan luka, namun juga membawa modernitas dan kekristenan. 

Antropologi barat akhirnya ditelusuri kepada keprihatinan Allah pribadi dengan kasih dan keterlibatanNya membuat sejarah Israel menjadi unik di antara sejarah para bangsa di dunia ini. Sifat antropologi ini adalah sebagai hasil teologi kekristenan, modernisasi, dan sekulerisasi.[3]

Masalah teologi yang kedua bagi Koyama ialah ajaran tentang “bermurah hati”. Ajaran ”bermurah hati” merupakan salah satu tradisi yang begitu kuat dan tetap di negeri agama Buddhisme Teravada yang terus-menerus dipupuk oleh dua tokoh besar yaitu Gautama Siddharta, sang Buddha, dan Bhumibol Abulyadej, sri baginda raja. Sang Buddha mengajarkan kepada rakyat Thai supaya harus “bermurah hati”. 

Ajaran ini sedikit bercorak imperatif karena dianggap sebagai suatu kekuatan religius yang berasal dari manusia idaman, yakni raja, seorang penganut agama Buddha yang bermurah hati. Dalam kemurahan hatinya mengalirlah kemuliaan sang raja, ajarannya memberi keselamatan dan kehadirannya merupakan suatu berkat.[4]

Teologi kerbau merupakan suatu bentuk teologi kontekstual; teologi yang berakar pada kondisi riil umat Allah. Karena itu unsur yang juga sangat penting dalam berteologi adalah melihat konteks sejarahnya. Bagi Koyama, sejarah Asia adalah sejarah ‘senjata’ yang meninggalkan luka, tapi sekaligus sejarah ‘balsem’ yang menyembuhkan dan menyelamatkan jiwa-jiwa orang Asia secara teologis. Dari mulut yang satu, keluarlah berkat dan kutuk. Sejarah senjata dan balsem dalam kenyataan konteks Asia selalu berjalan bersamaan. 

Zaman kolonialisme ini adalah momen perubahan total dan saat terjadinya berbagai goncangan di Asia. Kehidupan ekonomi, politik dan kebudayaan menjadi berantakan.[5] Dalam perspektif Koyama, sejarah itu masih berlangsung sampai sekarang. Sebab itu, bagi Koyama, kenyataan ini turut mempengaruhi watak dan struktur relasi Barat dan Asia. Barat selalu bersikap keras dalam hubungannya dengan Asia, karena ketamakan perdagangan dan mau benar sendiri secara teologis.[6]

Sebagai seorang pewarta, seorang teolog mesti berkemampuan mengidentifikasi diri sebagai aku yang “doktriner” dan aku yang “misioner”. Aku yang doktriner cenderung mewartakan Injil menurut konsep-konsep yang dogmatis dan bertolak dari refleksi Aristotelesian. Ia mewartakan Injil menurut cara pendangnya sendiri. Dalam pespektif ini, seorang pewarta akan melupakan yang lain. Berseberangan dengan itu, aku yang misioner selalu terpanggil untuk hidup di tengah realitas saudara tetangganya, peduli dengan situasi sesamanya, dan bertolak dari keadaan sesamanya itu. 

Sarana untuk mendekati yang lain dalam pewartaan itu ialah tetangga-logi. Menurut Koyama, saudara-saudara tetangga di Asia bersedia mendengarkan berita tentang Kristus, kalau hal itu disampaikan kepada mereka dalam bahasa “tetangga-logi”. Tetapi mereka akan menolak Kristus kalau pewarta menyampaikannya menurut istilah-istilah Kristologi kepada mereka.[7] Secara singkat, tujuan dari teologi Kerbau menurut Koyama adalah [8] 
Pertama: Untuk menyampaikan Yesus Kristus dalam kata-kata yang secara kultural cocok, tetapi juga mengkritisi dan memperbaiki kultur itu sendiri bila dirasa penting dalam pembentukan “teologi in locu”.
Kedua: Untuk menjadi interpersonal dan bukannya inter-doktrinal dalam proses dialog dan saling memperkaya.
Ketiga: Untuk mengejar teologi ekumenis yang dilakukan demi kesehatan ekologis dan keadilan.


III. TEOLOGI KERBAU DALAM KRITERIA ORTODOKSI

Dalam bukunya, Constructing Local Theologies, Robert Schreiter menyebutkan lima kriteria untuk menentukan kesejatian sebuah ungkapan teologi lokal tertentu. Dalam terang kriteria tersebut, saya akan memberikan penilaian terhadap Teologi Kerbau dari Koyama.

Pertama: sebuah rumusan teologi harus memiliki konsistensi internal. Hal ini serupa dengan kriteria pertama de Mesa dan Wostyn, menyangkut arah dasar. Bagi orang Kristen, dalil yang mendasar itu ialah “Allah adalah kasih”, dan segala sesuatu yang tidak searah dengannya tidak mungkin menjadi ungkapan teologi Kristen yang benar.[9] Kriteria ini terjawab dalam Teologi Kerbau yang diangkat oleh Koyama dalam ajarannya tentang “bermurah hati”. Namun ajaran ini sedikit bercorak imperatif karena dianggap sebagai suatu kekuatan religius yang berasal dari manusia idaman, yakni raja, seorang penganut agama Buddha yang bermurah hati. 

Dalam kemurahan hatinya mengalirlah kemuliaan sang raja, ajarannya memberi keselamatan dan kehadirannya merupakan suatu berkat.[10] Keyakinan ini menimbulkan aneka problem teologis bagi Kristologi. Hubungan apakah yang ada antara sikap bermurah hati yang ditunjukkan oleh sang Buddha dan sikap bermurah hati yang ditunjukkan oleh nama Yesus Kristus?

Kedua: sebuah ungkapan yang benar tentang teologi kontekstual mesti bisa diterjemahkan ke dalam ulah kebaktian. Apa yang terjadi ketika teologi di bawah masuk ke dalam konteks peribadatan? Bagaimana teologi ini dapat berkembang dalam komunitas Gereja yang berdoa? Apa yang terjadi dengan sebuah jemaat yang memasukan teologi ke dalam doa mereka?[11] Pertanyaan-pertanyaan Schreiter ini turut menentukan kesejatian sebuah ungkapan teologi tertentu. Ajaran-ajaran dalam Teologi Kerbau sangat muda diterjemahkan ke dalam ulah kebaktian. Di samping ajarannya yang tidak bertentangan dengan Gereja, Teologi Kerbau mudah diterjemahkan dalam kehidupan konkrit karena sesuai dengan konteks umat setempat. 

Dalam epilognya pada Edisi 25 tahun Teologi Kerbau, Koyama dengan lebih tegas menjawabi pertanyaan-pertanyaan ini. Epilog tersebut diakhiri dengan sebuah refleksi atas meluasnya kekerasan di hampir semua tempat di dunia yang walaupun dilawan dalam setiap kehidupan religius, tetap menjadi misteri yang hanya bisa diekspos melalui Ekaristi.[12] Di sini Koyama menyadari bahwa Ekaristi adalah puncak dari iman Kristiani. Ajaran teologinya tetap memandang Ekaristi sebagai praktek  liturgi yang hakiki.

Ketiga: tidak boleh bersifat eksklusif atau bertentangan dengan yang sebelumnya.[13] Teologi Kerbau merupakan sebentuk teologi yang sungguh-sungguh menghargai konteks di mana Injil diwartakan. Ia menaruh perhatian besar pada kekayaan realitas yang mengitari konteks pewartaan injil. Konteks yang dimaksudkan di sini ialah situasi sosial, adat-istiadat, budaya, kepercayaan, konsep-konsep atau cara pandang yang sedang dihidupi oleh sesama tentang realitas. Inilah yang Kosuke Koyama sebut sebagai “tetangga-logi”.[14]

Ajaran dalam Teologi Kerbau tidak bertentangan dengan yang sebelumnya. Secara sepintas terkesan ide Koyama bertentangan dengan dokotrin-doktrin yang dihasilkan sebelumnya. Namun sebenarnya ia tidak menolak doktrin-doktrin itu. Koyama hanya mengkritisi cara pewartaan injil yang cenderung menggunakan konsep-konsep yang dogmatis dan bertolak dari refleksi Aristoteles yang terkesan kaku dan sulit dipahami. Ajaran Gereja tetap dijunjung tinggi, namun cara mewartakan Injil yang bersifat dogmatis perlu diganti dengan cara baru sesuai dengan konteks riil, sehingga dapat dipahami oleh umat.

Keempat: sebuah teologi lokal atau perumusan teologis yang sedang berkembang harus terbuka terhadap kritik dari Gereja-Gereja lain.[15] Teologi Kerbau pada dasarnya hendak memahami yang partikular dari perspektif Kristiani. Suatu realitas lokal baik budaya, sosial maupun ajaran religius disoroti dalam terang Alkitab dan Tradisi dan sebaliknya Sabda Allah dan Tradisi mendapat arti baru dalam konteks budaya tertentu. 

Jika demikian, maka terjadilah suatu proses kontekstualisasi dengan menghargai yang partikular. Partikularitas merupakan bagian dari yang universal. Kesadaran ini berdasar pada Gereja Yesus Kristus yang universal dan selalu berarti Kudus dan Katolik. Karena itu, tujuan kontekstualiasi yang searah dengan Teologi Kerbau adalah dengan menciptakan sikap saling menghargai kepribadian masing-masing, saling belajar dan tidak memaksakan unsur-unsur budaya sendiri sebagai suatu Kebenaran Injil yang harus diterima oleh budaya lain.[16] Dalam hal ini Teologi Kerbau selalu bersifat terbuka dan memberikan ruang kebebasan bagi setiap kritikan.

Kelima: teologi harus memberikan sumbangsih positif menyangkut ikwal dialog di antara rupa-rupa teologi kontekstual, maka vitalitas semacam itu menjadi tanda bahwa ia merupakan pengukuhan iman yang sejati.[17] Teologi Kerbau sesungguhnya adalah ungkapan lain dari teologi kontekstual. Sebab teologi kontekstual selalu berarti dialog intens antara teks dengan konteks. Teks merujuk ke pengalaman masa lalu, sedangkan konteks meliputi pengalaman aktual masa kini. 

Dalam Teologi Kerbau, Koyama mampu mewartakan Injil secara kontekstual dan berdaya transformatif bagi umat. Koyama mengajarkan kepada para pewarta Injil agar mengalami secara langsung umat Allah sebagai subjek pewartaan, karena pengalaman langsung itu jauh lebih kaya dan aktual dari yang kita pelajari melalui doktrin-doktrin atau ajaran-ajarannya.

    Di sini Teologi Kerbau memberikan sumbangsih yang sangat berarti bagi perkembangan rupa-rupa teologi kontekstual untuk mengembangkan teologinya mulai dari hal-hal riil dan sederhana yang sesuai dengan konteks umat setempat agar bisa dipahami dengan baik.


IV.   PENUTUP

Teologi Kerbau mampuh menjawabi semua kriteria yang menentukan kesejatian sebuah ungkapan teologi lokal. Rumusan teologinya memiliki konsistensi internal, tidak bertentangan dengan yang sebelumnya dan bisa diterjemahkan ke dalam ulah kebaktian. Sebagai sebuah teologi lokal, Teologi Kerbau  bersifat terbuka terhadap kritik dari Gereja-Gereja lain sembari memberikan sumbangsih positif menyangkut ikwal dialog di antara rupa-rupa teologi kontekstual.

Teologi Kerbau berusaha untuk berteologi dari bawah. Ia bertolak dari realitas konkrit menuju Firman Allah. Ia menuntut suatu cara berteologi yang sungguh-sungguh mengenal situasi riil umat agar bisa menghasilkan iman dan pertobatan dalam diri umat. Rumusan bahasa pewartaan juga mesti sederhana, tidak mengawang-awang tapi mendarat pada pengalaman nyata umat yang diinjili.


BIBLIOGRAFI:
Bevans, Stephen Model-Model Teologi Kontekstual, Maumere: Penerbit Ledalero, 2002.
England, Jhon C. Jhon Mansford Prior, dkk (editor), Asian Christian Theologies. Vol. 3, Delhi:   ISPCK/Claretion Plubishers/Orbis Books, 2004.
Koyama, Kosuke Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia,  terjemahan dari edisi Bahasa Belanda, “Creatieve Theology”, Jakarta: Yayasan Satya Karya, 1976.
 -------. Waterbuffaloes Theology, New York: Orbis Books, 1981.
 Teologi Kerbau oleh Kosuke Koyama: Penilaian Kritis Terhadap Teologi Kerbau (Online),http://justinpeter.wordpress.com/2010/11/21/book-review-water-buffalo-theology, diakses 24 September 2012.


[1] Stephen Bevans, Model-Model Teologi Kontekstual, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2002), p. 26.
[2] Koyama pernah  menjabat Director Association for Theological School East Asia (ATESEA) selama kurang lebih 10 tahun di Chiang Mai, Muangthai Utara. Pernah melayani di Muangthai sebagai pengajar di Thailand Theollogical Seminary. Kemudian menjadi dosen Union Theological Seminary di New York; Kosuke Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, terjemahan dari edisi Bahasa Belanda, “Creatieve Theology” (Jakarta: Yayasan Satya Karya, 1976), p. i.
[3]Teologi Kerbau oleh Kosuke Koyama: Penilaian Kritis Terhadap Teologi Kerbau (Online), (http://justinpeter.wordpress.com/2010/11/21/book-review-water-buffalo-theology, diakses 24 September 2012)
[4]Kosuke Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 10.
[5]Ibid., 67.
[6]Kosuke Koyama, Waterbuffaloes Theology (New York: Orbis Books, 1981), p. 48.
[7]Kosuke Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 121.
[8] Jhon C. England, Jhon Mansford Prior, dkk (editor), Asian Christian Theologies. Vol. 3 (Delhi: ISPCK/Claretion Plubishers/Orbis Books, 2004), p. 411.
[9] Stephen B. Bevans, Op. Cit., p. 42.
[10]Kosuke Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 10.
[11] Stephen B. Bevans., Loc. Cit.
[12] Jhon C. England, Jhon Mansford Prior, dkk, Op. Cit., p. 412.
[13] Stephen B. Bevans., Op. Cit., p. 43.
[14]Kosuke Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 89.
[15] Stephen B. Bevans., Loc. Cit.
[16] Kosuke Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 25.
[17] Stephen B. Bevans., Op. Cit., p. 44.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar