![]() |
Penulis: Hendrikus Dasrimin
Bagi pembaca yang ingin menyumbangkan artikel dengan tema Katolisitas, dalam bentuk renungan, katekese, sharing pengalaman iman, atau opini, silakan kirim ke email: dasrimino.carm@gmail.com
I. PENDAHULUAN
Stephen Bevans dalam bukunya Model-Model Teologi Kontekstual, pada
bagian penutup dalam bab pertamanya menyatakan:
“Teologi dewasa ini dapat kita
simpulkan, mesti berupa sebuah teologi yang kontekstual. Beberapa pergerakan
dan aliran penting yang terdapat pada zaman kita sekarang ini menunjukkan
dengan jelas segi-segi dalam agama Kristen sendiri yang menjadikan sebagai
imperatif sebuah teologi yang sungguh-sungguh menggubris pengalaman manusia,
lokasi sosial, kebudayaan-kebudayaan partikular dan perubahan-perubahan sosial
yang terjadi di dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut”[1].
Di
sini, konteks riil di mana masyarakat hidup dan berada mesti dilihat sebagai
partner dalam berteologi. Dengannya teologi bisa mendarat atau menyapa hidup
suatu masyarakat. Sebuah karya pewartaan yang terlepas atau terpisah dari
konteks riil hidup suatu masyarakat akan menjadi tidak berdaya guna karena
pewartaan itu tidak menyentuh aspek-aspek yang melingkupi kehidupan suatu masyarakat.
Dalam
rangka mewujudkan maksud itu, teolog Jepang, Kosuke Koyama[2],
berusaha untuk memahami realitas budaya, agama, sejarah dan alam di Asia
Tenggara umumnya dan di Muangthai Utara khususnya. Gagasan ini dituangkan dalam
bukunya yang berjudul Waterbuffalo
Theology. Dalam buku ini ia
berusaha untuk mengkontekstualisasikan teologi seturut situasi dan kebutuhan
riil umat setempat. Ia bertolak dari pengalaman umat untuk kemudian diberi isi
teologis dalam terang Firman Allah.
II. APA ITU TEOLOGI KERBAU?
Teologi
Kerbau lahir dengan bertitik tolak pada realitas pastoral yang ada dalam
lingkup masyarakat Muangthai. Dalam pengamatan dan refleksinya, Kosuke Koyama
menemukan dua masalah teologis yang menjadi locus theologicus untuk
penginjilan di Muangthai, antara lain
konfrontasi antara Muangthai Satu dan Muangthai Dua dan “bermurah hati”
dalam teologi tentang pribadi ideal, raja, dan Yesus Kristus.
Muangthai satu berarti Muangthai
dengan nilai-nilai tradisional yang dibentuk oleh berbagai pengaruh nilai-nilai
agama Budha Teravada yang berasal dari India dan Sri Lanka. Ini dicirikan oleh
Antropologi dan sejarah yang apatis, suatu pandangan hidup yang dingin yang
muncul dari pengamatan yang jujur terhadap kehancuran manusia sebagaimana yang
menyebabkan Gautama menarik diri menuju kesunyian hidup. Sedangkan Muangthai
dua dihasilkan oleh kolonialisme Barat dengan senjata dan obatnya. Kekuasaan kolonial
menyebabkan luka, namun juga membawa modernitas dan kekristenan.
Antropologi
barat akhirnya ditelusuri kepada keprihatinan Allah pribadi dengan kasih dan
keterlibatanNya membuat sejarah Israel menjadi unik di antara sejarah para
bangsa di dunia ini. Sifat antropologi ini adalah sebagai hasil teologi
kekristenan, modernisasi, dan sekulerisasi.[3]
Masalah
teologi yang kedua bagi Koyama ialah ajaran tentang “bermurah hati”. Ajaran
”bermurah hati” merupakan salah satu tradisi yang begitu kuat dan tetap di
negeri agama Buddhisme Teravada yang terus-menerus dipupuk oleh dua tokoh besar
yaitu Gautama Siddharta, sang Buddha, dan Bhumibol Abulyadej, sri baginda raja.
Sang Buddha mengajarkan kepada rakyat Thai supaya harus “bermurah hati”.
Ajaran
ini sedikit bercorak imperatif karena dianggap sebagai suatu kekuatan religius
yang berasal dari manusia idaman, yakni raja, seorang penganut agama Buddha
yang bermurah hati. Dalam kemurahan hatinya mengalirlah kemuliaan sang raja,
ajarannya memberi keselamatan dan kehadirannya merupakan suatu berkat.[4]
Teologi
kerbau merupakan suatu bentuk teologi kontekstual; teologi yang berakar pada
kondisi riil umat Allah. Karena itu unsur yang juga sangat penting dalam
berteologi adalah melihat konteks sejarahnya. Bagi Koyama, sejarah Asia adalah
sejarah ‘senjata’ yang meninggalkan luka, tapi sekaligus sejarah ‘balsem’ yang
menyembuhkan dan menyelamatkan jiwa-jiwa orang Asia secara teologis. Dari mulut
yang satu, keluarlah berkat dan kutuk. Sejarah senjata dan balsem dalam
kenyataan konteks Asia selalu berjalan bersamaan.
Zaman kolonialisme ini adalah
momen perubahan total dan saat terjadinya berbagai goncangan di Asia. Kehidupan
ekonomi, politik dan kebudayaan menjadi berantakan.[5] Dalam
perspektif Koyama, sejarah itu masih berlangsung sampai sekarang. Sebab itu,
bagi Koyama, kenyataan ini turut mempengaruhi watak dan struktur relasi Barat
dan Asia. Barat selalu bersikap keras dalam hubungannya dengan Asia, karena
ketamakan perdagangan dan mau benar sendiri secara teologis.[6]
Sebagai
seorang pewarta, seorang teolog mesti berkemampuan mengidentifikasi diri sebagai
aku yang “doktriner” dan aku yang “misioner”. Aku yang doktriner cenderung
mewartakan Injil menurut konsep-konsep yang dogmatis dan bertolak dari refleksi
Aristotelesian. Ia mewartakan Injil menurut cara pendangnya sendiri. Dalam
pespektif ini, seorang pewarta akan melupakan yang lain. Berseberangan dengan
itu, aku yang misioner selalu terpanggil untuk hidup di tengah realitas saudara
tetangganya, peduli dengan situasi sesamanya, dan bertolak dari keadaan
sesamanya itu.
Sarana untuk mendekati yang lain dalam pewartaan itu ialah
tetangga-logi. Menurut Koyama, saudara-saudara tetangga di Asia bersedia
mendengarkan berita tentang Kristus, kalau hal itu disampaikan kepada mereka
dalam bahasa “tetangga-logi”. Tetapi mereka akan menolak Kristus kalau pewarta
menyampaikannya menurut istilah-istilah Kristologi kepada mereka.[7] Secara singkat, tujuan dari teologi Kerbau menurut Koyama adalah [8]
Pertama: Untuk
menyampaikan Yesus Kristus dalam kata-kata yang secara kultural cocok, tetapi
juga mengkritisi dan memperbaiki kultur itu sendiri bila dirasa penting dalam
pembentukan “teologi in locu”.
Kedua: Untuk
menjadi interpersonal dan bukannya inter-doktrinal dalam proses dialog dan
saling memperkaya.
Ketiga: Untuk
mengejar teologi ekumenis yang dilakukan demi kesehatan ekologis dan keadilan.
III. TEOLOGI
KERBAU DALAM KRITERIA ORTODOKSI
Dalam bukunya, Constructing Local Theologies, Robert Schreiter menyebutkan lima
kriteria untuk menentukan kesejatian sebuah ungkapan teologi lokal tertentu.
Dalam terang kriteria tersebut, saya akan memberikan penilaian terhadap Teologi
Kerbau dari Koyama.
Pertama: sebuah rumusan
teologi harus memiliki konsistensi internal. Hal ini serupa dengan kriteria
pertama de Mesa dan Wostyn, menyangkut arah dasar. Bagi orang Kristen, dalil
yang mendasar itu ialah “Allah adalah kasih”, dan segala sesuatu yang tidak
searah dengannya tidak mungkin menjadi ungkapan teologi Kristen yang benar.[9] Kriteria
ini terjawab dalam Teologi Kerbau yang diangkat oleh Koyama dalam ajarannya
tentang “bermurah hati”. Namun ajaran ini sedikit bercorak imperatif karena
dianggap sebagai suatu kekuatan religius yang berasal dari manusia idaman,
yakni raja, seorang penganut agama Buddha yang bermurah hati.
Dalam kemurahan
hatinya mengalirlah kemuliaan sang raja, ajarannya memberi keselamatan dan
kehadirannya merupakan suatu berkat.[10]
Keyakinan ini menimbulkan aneka problem teologis bagi Kristologi. Hubungan apakah
yang ada antara sikap bermurah hati yang ditunjukkan oleh sang Buddha dan sikap
bermurah hati yang ditunjukkan oleh nama Yesus Kristus?
Kedua: sebuah ungkapan
yang benar tentang teologi kontekstual mesti bisa diterjemahkan ke dalam ulah
kebaktian. Apa yang terjadi ketika teologi di bawah masuk ke dalam konteks
peribadatan? Bagaimana teologi ini dapat berkembang dalam komunitas Gereja yang
berdoa? Apa yang terjadi dengan sebuah jemaat yang memasukan teologi ke dalam
doa mereka?[11]
Pertanyaan-pertanyaan Schreiter ini turut menentukan kesejatian sebuah ungkapan
teologi tertentu. Ajaran-ajaran dalam Teologi Kerbau sangat muda diterjemahkan
ke dalam ulah kebaktian. Di samping ajarannya yang tidak bertentangan dengan
Gereja, Teologi Kerbau mudah diterjemahkan dalam kehidupan konkrit karena
sesuai dengan konteks umat setempat.
Dalam epilognya pada Edisi 25 tahun
Teologi Kerbau, Koyama dengan lebih tegas menjawabi pertanyaan-pertanyaan ini.
Epilog tersebut diakhiri dengan sebuah refleksi atas meluasnya kekerasan di
hampir semua tempat di dunia yang walaupun dilawan dalam setiap kehidupan
religius, tetap menjadi misteri yang hanya bisa diekspos melalui Ekaristi.[12] Di
sini Koyama menyadari bahwa Ekaristi adalah puncak dari iman Kristiani. Ajaran
teologinya tetap memandang Ekaristi sebagai praktek liturgi yang hakiki.
Ketiga: tidak boleh
bersifat eksklusif atau bertentangan dengan yang sebelumnya.[13]
Teologi Kerbau merupakan sebentuk teologi yang sungguh-sungguh menghargai
konteks di mana Injil diwartakan. Ia menaruh perhatian besar pada kekayaan
realitas yang mengitari konteks pewartaan injil. Konteks yang dimaksudkan di
sini ialah situasi sosial, adat-istiadat, budaya, kepercayaan, konsep-konsep
atau cara pandang yang sedang dihidupi oleh sesama tentang realitas. Inilah
yang Kosuke Koyama sebut sebagai “tetangga-logi”.[14]
Ajaran
dalam Teologi Kerbau tidak bertentangan dengan yang sebelumnya. Secara sepintas
terkesan ide Koyama bertentangan dengan dokotrin-doktrin yang dihasilkan
sebelumnya. Namun sebenarnya ia tidak menolak doktrin-doktrin itu. Koyama hanya
mengkritisi cara pewartaan injil yang cenderung menggunakan konsep-konsep yang
dogmatis dan bertolak dari refleksi Aristoteles yang terkesan kaku dan sulit
dipahami. Ajaran Gereja tetap dijunjung tinggi, namun cara mewartakan Injil
yang bersifat dogmatis perlu diganti dengan cara baru sesuai dengan konteks
riil, sehingga dapat dipahami oleh umat.
Keempat:
sebuah teologi lokal atau perumusan teologis yang sedang berkembang harus
terbuka terhadap kritik dari Gereja-Gereja lain.[15] Teologi Kerbau pada dasarnya hendak
memahami yang partikular dari perspektif Kristiani. Suatu realitas lokal baik
budaya, sosial maupun ajaran religius disoroti dalam terang Alkitab dan Tradisi
dan sebaliknya Sabda Allah dan Tradisi mendapat arti baru dalam konteks budaya
tertentu.
Jika demikian, maka terjadilah suatu proses
kontekstualisasi dengan
menghargai yang partikular. Partikularitas merupakan bagian dari yang
universal. Kesadaran ini berdasar pada Gereja Yesus Kristus yang universal
dan selalu berarti Kudus dan Katolik.
Karena itu, tujuan kontekstualiasi yang searah dengan Teologi Kerbau adalah
dengan menciptakan sikap saling menghargai kepribadian masing-masing, saling
belajar dan tidak memaksakan unsur-unsur budaya sendiri sebagai suatu Kebenaran
Injil yang harus diterima oleh budaya lain.[16]
Dalam hal ini Teologi Kerbau selalu bersifat terbuka dan memberikan ruang
kebebasan bagi setiap kritikan.
Kelima:
teologi harus memberikan sumbangsih positif menyangkut ikwal dialog di antara
rupa-rupa teologi kontekstual, maka vitalitas semacam itu menjadi tanda bahwa
ia merupakan pengukuhan iman yang sejati.[17] Teologi Kerbau sesungguhnya adalah
ungkapan lain dari teologi kontekstual. Sebab teologi kontekstual selalu
berarti dialog intens antara teks dengan konteks. Teks merujuk ke pengalaman
masa lalu, sedangkan konteks meliputi pengalaman aktual masa kini.
Dalam Teologi Kerbau, Koyama mampu mewartakan Injil
secara kontekstual dan berdaya transformatif bagi umat.
Koyama mengajarkan kepada para
pewarta Injil agar mengalami secara langsung umat Allah sebagai subjek
pewartaan, karena pengalaman langsung itu jauh lebih kaya dan aktual dari yang
kita pelajari melalui doktrin-doktrin atau ajaran-ajarannya.
Di sini Teologi
Kerbau memberikan sumbangsih yang sangat berarti bagi perkembangan rupa-rupa
teologi kontekstual untuk mengembangkan teologinya mulai dari hal-hal riil dan
sederhana yang sesuai dengan konteks umat setempat agar bisa dipahami dengan
baik.
IV.
PENUTUP
Teologi Kerbau mampuh menjawabi
semua kriteria yang menentukan kesejatian sebuah ungkapan teologi lokal.
Rumusan teologinya memiliki konsistensi internal, tidak bertentangan dengan
yang sebelumnya dan bisa diterjemahkan ke dalam ulah kebaktian. Sebagai sebuah
teologi lokal, Teologi Kerbau bersifat
terbuka terhadap kritik dari Gereja-Gereja lain sembari memberikan sumbangsih
positif menyangkut ikwal dialog di antara rupa-rupa teologi kontekstual.
Teologi Kerbau berusaha untuk
berteologi dari bawah. Ia bertolak dari realitas konkrit menuju Firman Allah.
Ia menuntut suatu cara berteologi yang sungguh-sungguh mengenal situasi riil
umat agar bisa menghasilkan iman dan pertobatan dalam diri umat. Rumusan bahasa
pewartaan juga mesti sederhana, tidak mengawang-awang tapi mendarat pada
pengalaman nyata umat yang diinjili.
BIBLIOGRAFI:
Bevans,
Stephen Model-Model Teologi Kontekstual,
Maumere: Penerbit Ledalero, 2002.
England,
Jhon C. Jhon Mansford Prior, dkk (editor), Asian
Christian Theologies. Vol. 3, Delhi: ISPCK/Claretion Plubishers/Orbis Books,
2004.
Koyama, Kosuke Injil Dalam Pandangan Asia,
Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, terjemahan dari edisi Bahasa
Belanda, “Creatieve Theology”,
Jakarta: Yayasan Satya Karya, 1976.
-------. Waterbuffaloes
Theology, New York: Orbis Books, 1981.
Teologi Kerbau oleh Kosuke Koyama: Penilaian Kritis
Terhadap Teologi Kerbau (Online),http://justinpeter.wordpress.com/2010/11/21/book-review-water-buffalo-theology, diakses 24 September 2012.
[1] Stephen
Bevans, Model-Model Teologi Kontekstual,
(Maumere: Penerbit Ledalero, 2002), p. 26.
[2] Koyama
pernah menjabat Director Association
for Theological School East Asia (ATESEA) selama kurang lebih 10 tahun di
Chiang Mai, Muangthai Utara. Pernah melayani di Muangthai sebagai
pengajar di Thailand Theollogical Seminary. Kemudian menjadi dosen Union
Theological Seminary di New York; Kosuke Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi
Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan Asia, terjemahan dari edisi Bahasa
Belanda, “Creatieve Theology” (Jakarta: Yayasan Satya Karya, 1976), p. i.
[3]Teologi Kerbau oleh Kosuke Koyama: Penilaian
Kritis Terhadap Teologi Kerbau (Online),
(http://justinpeter.wordpress.com/2010/11/21/book-review-water-buffalo-theology, diakses 24 September 2012)
[4]Kosuke
Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan
Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 10.
[5]Ibid., 67.
[6]Kosuke
Koyama, Waterbuffaloes Theology (New York: Orbis Books, 1981), p. 48.
[7]Kosuke
Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan
Kebudayaan Asia,
Op. Cit., p. 121.
[8] Jhon C.
England, Jhon Mansford Prior, dkk (editor), Asian
Christian Theologies. Vol. 3 (Delhi: ISPCK/Claretion Plubishers/Orbis
Books, 2004), p. 411.
[9] Stephen
B. Bevans, Op. Cit., p. 42.
[10]Kosuke
Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan
Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 10.
[11] Stephen
B. Bevans., Loc. Cit.
[12] Jhon C.
England, Jhon Mansford Prior, dkk, Op.
Cit., p. 412.
[13] Stephen
B. Bevans., Op. Cit., p. 43.
[14]Kosuke
Koyama, Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan
Kebudayaan Asia, Op. Cit., p. 89.
[15] Stephen
B. Bevans., Loc. Cit.
[16]
Kosuke Koyama,
Injil Dalam Pandangan Asia, Berteologi Dalam Konteks Sejarah dan Kebudayaan
Asia, Op. Cit., p. 25.
[17] Stephen
B. Bevans., Op. Cit., p. 44.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar