"LURUSKANLAH JALAN UNTUK TUHAN" (Renungan Adven II-Tahun A) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Jumat, 02 Desember 2022

"LURUSKANLAH JALAN UNTUK TUHAN" (Renungan Adven II-Tahun A)

 

Ilustrasi Yohanes berkotbah di padang gurun (Foto: alkitabonline.org)

           Bacaan-bacaan Kitab Suci selama masa adventus, secara khusus pada Minggu Adven II ini menampilkan sebuah isu sentral: tentang pertobatan dengan berbagai ungkapan “luruskanlah jalan untuk Tuhan” yang diteriaki oleh Yohanes Pemandi; di samping itu dengan nada yang berbeda, Paulus menyebutnya dengan “suci hati” dan “tak bernoda”.

Tiga Penginjil menerangkan arti nubuat Yesaya tentang suara di padang gurun, yang diterapkan kepada Yohanes Pembaptis. Ia menyerukan pertobatan sebagai persiapan zaman baru, suatu gambaran masa yang baru, saat Mesias, di mana semua makluk dilukiskan hidup berdampingan. Yohanes menyerukan pertobatan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi seluruh pribadinya adalah semacam khotbah yang mengesankan.

Cara hidup Yohanes sudah mengkotbahkan Raja yang akan datang. Raja itu akan hidup sederhana. Ia tidak akan sehebat seperti yang diharapkan banyak orang. Penampilan Yohanes itu disertai latar belakang sejarah pemerintahan pada saat itu: ada Kaiser Tiberius di Roma, Ponsius Pilatus di Yudea dan penguasa-penguasa lain di wilayah sekitar, serta imam agung yang berkuasa di bidang agama.

Dalam zaman yang jelas, pada tempat yang jelas, di padang gurun Yudea, sepanjang sungai Yordan. Ajarannya terinci: Bertobat – memberi diri dibaptis – mendapat pengampunan. Penampilan Yohanes dan ajarannya itu merupakan penggenapan dan kesinambungan nubuat nabi Yesaya, seperti ditekankan oleh para penginjil lainnya.

Kata “tobat” atau “bertobat” senantiasa bergema tak jemu-jemunya di kalangan jemaat Kristen sepanjang masa. Tidak dapat disangkal, ini sebuah kata kunci bagi setiap orang beriman, tak peduli apa pun agamanya. Namun apa sesungguhnya arti tobat itu: kerap terdengar bahwa tobat adalah perubahan sikap, perubahan mentalitas yang telah terpola. Namun sesungguhnya, tobat yang benar, menurut Kitab Suci, erat hubungannya dengan “perjanjian” yang diadakan Tuhan dengan masing-masing anggota bangsa Israel. 

Bertobat berarti kembali kepada perjanjian itu. Ini bukan suatu perubahan sikap yang abstrak. Lebih-lebih bukan penyesalan atas dosa semata! Orang bisa sedih sekali sewaktu merenungkan kedosaannya sendiri, tetapi ia belum tentu bertobat. Tobat sejati tidak membawa manusia kepada dirinya sendiri (misalnya kepada renungan tentang kehinaannya) melainkan kepada Tuhan yang berpribadi. Bertobat berarti melekat kembali kepada “pribadi” ilahi itu. Menjadi akrab dengan-Nya; menjalin kembali “komunio” yang telah putus. Tobat macam inilah yang diserukan Yohanes.

Saat Yohanes menyerukan pertobatan alasannya jelas “Karena Kerajaan Allah sudah dekat”. Kerajaan Allah yang ada dalam diri Yesus dan yang adalah inti pemberitaan Yesus terjadi di tengah situasi tobat itu. Dalam keadaan dunia yang diperbaharui, manusia dapat mengimani Allah yang meraja, Allah yang membebaskan secara universal, Allah yang menyejukkan dalam dunia ciptaan, dalam sejarah umumnya, dan dalam sejarah bangsa pilihan-Nya khususnya, dalam diri Yesus Kristus.

Bagaimana kita dapat bertobat dalam konteks hidup kita saat ini? Yohanes pembaptis tak muncul dalam sosok asli untuk menyerukan “pertobatan” dalam komunitas kita. Hanya butuh dari kita kepekaan hidup sebagai orang-orang terpanggil dalam komitmen yang benar. Kita kembalikan nilai dan visi panggilan kita sebagai umat Allah pada tempatnya.  

Mungkin banyak dari kita hidup dan berjalan tanpa satu ideal yang jelas. Kita sering mengintepretasikan segala apa yang ada dan terjadi menurut kemauan dan kepentingan sendiri, dan bukan menurut kehendak yang lebih luhur. Kita kerap tidak berani seperti “Yohanes pembaptis” hanya demi keamanan diri dan kesenangan dangkal dan sesaat kelompok. Kambing hitam masih tetap dicari dalam situasi menyelamatkan diri.

       Kita sering secara keliru menerapkan kebebasan dan semangat reformasi yang sedang berjalan dalam hidup bersama. Isu tentang kegiatan rohani dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya atau kegiatan yang lebih membina kedalamam pribadi  justru menjadi tidak relevan yang berarti tidak penting. Kita luluh dalam solidaritas persaudaraan dan perikemanusiaan kita, dalam menghayati hidup kita, dalam sikap solidaritas yang benar; kita luluh dalam keberanian yang benar.

        Keadaan-keadaan seperti ini butuh  reformasi: kembali ke visi dan penerapan yang benar dalam jalan panggilan kita masing-masing. Kita butuh meluruskan kembali jalan bagi Tuhan. Kita diminta dengan hati nurani yang jernih menata kembali hidup pribadi kita masing-masing berdasarkan visi dan tujuan hidup kita.

@Rm. Hendrikus Dasrimin, O.Carm

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar