(Mrk 7:24-37)
Perempuan
dari Siro-Fenisia yang meminta Yesus menyembuhkan anaknya yang kerasukan roh jahat.
Ia seorang wanita dan bukan Yahudi. Tidak mengherankan bahwa ia merangkak di
kaki Guru laki-laki Yahudi, memohon pertolongan kepada-Nya (ay. 25-26). Pembaca
Markus dari abad pertama tidak begitu terkejut akan kata-kata kasar yang
diucapkan Yesus untuk menolak memberikan kepada orang kafir (anjing) apa-apa
yang menjadi hak orang-orang Yahudi (anak-anak tuan rumah).
Mereka
toh akan heran bahwa Yesus mengizinkan wanita kafir berkeras pada permintaannya
dan bahkan mempermainkan kata-kata-Nya untuk memperoleh apa yang ia inginkan: “Benar,
Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan
anak-anak” (ay. 28). Ketegaran perempuan kafir (anjing) memaksa (menobatkan)
Yesus untuk membuat perkecualian dari peraturan (yaitu lebih dulu memperhatikan
umatnya sendiri, baru kemudian orang lain, ay. 27). Ia menyembuhkan anak
perempuan yang kerasukan itu dengan sepatah kata sebagai hadiah bagi ketegaran
dan iman ibunya terhadap-Nya (ay. 29). Perempuan ini seolah-olah “menobatkan”
Yesus yang sebelumnya mengatakan “Tidak patut mengambil roti disediakan bagi
anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (ay. 27).
Kisah
ini memiliki beberapa ajakan atau pesan bagi kita: pertama, untuk meniru
ketegaran wanita itu, juga ketika masalahnya menjadi tanpa pengharapan: kedua,
untuk meniru Yesus ”yang melanggar hukum” demi "orang luar”; dan ketiga,
untuk memeriksa keterbukaan mereka terhadap mereka yang mempunyai kepercayaan
lain, terutama orang-orang Yahudi, "anak-anak tuan rumah” yang pertama.
*)Bdk. Tafsiran Alkitab
KSPB (LBI), Dianne Bergant, dkk


Tidak ada komentar:
Posting Komentar