![]() |
| Para postulan Panjer Enjing Batu sedang mengerjakan ujian (Dokpri) |
Penulis: Hendrikus Dasrimin
Dalam dunia filsafat, ada yang dikenal dengan istilah
skeptisisme (keraguan). Kaum skeptis selalu meragukan adanya kebenaran. Namun,
bagi Agustinus jika manusia meragukan segala sesuatu, maka secara otomatis
keraguan tersebut telah menunjukkan adanya suatu kepastian dalam dirinya, yakni
kepastian bahwa dia sedang meragukan segala sesuatu.
Sebuah keraguan tentunya berkaitan langsung dengan adanya suatu
pengetahuan yang benar. Keraguan manusia terhadap suatu pengetahuan menunjukkan
bahwa proses berpikir memiliki keterbatasan. Keyakinan akan kebenaran ini
membuat Agustinus menggagaskan suatu ajaran tentang iluminasi.
Secara etimologis, iluminasi berasal dari Bahasa Latin Iluminare
yang berarti menerangi. Pengertian ini mengacu pada sesuatu yang memiliki sifat
menerangi, yakni cahaya. Dalam ajaran iluminasi, Agustinus menyatakan bahwa
pengetahuan yang benar hanya bersumber pada Allah. Allah menjadi terang bagi
akal budi, batin atau jiwa manusia. Manusia tidak akan mencapai suatu
pengetahuan yang benar tanpa terang dari Allah.
Apa yang dialami oleh para murid Yesus ketika mendengar cerita
dari dua murid lain dalam pengalaman Emaus, menjadi hal yang menarik untuk kita
renungkan dalam kaitan dengan timbulnya keraguan dalam menjalani panggilan.
Ketika Yesus menampakan diri, mereka menjadi terkejut dan takut. Lalu Yesus
berkata kepada mereka mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul
"keragu-raguan" dalam hatimu? (Luk 24:38).
Berulangkali Yesus menyatakan diri-Nya tetapi mereka masih ragu.
Namun Yesus tak henti-hentinya hadir mengatasi keraguan karena kelemahan
manusiawi mereka. Ia hadir sebagai cahaya yang menerangi pikiran para murid
dengan menjelaskan Kitab Suci kepada mereka. Ia pun memperlihatkan tangan dan
kakinya. Dan ketika mereka belum juga percaya, Ia meminta ikan goreng untuk
dimakannya.
Menarik pula bahwa setelah meyakinkan para murid yang masih ragu
itu, Yesus masih menaruh kepercayaan kepada para mereka untuk bersaksi tentang
semuanya. Keraguan para murid dibalas dengan ketidakraguan-Nya dalam memberikan
amanat untuk memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan dosa yang
disampaikan kepada segala bangsa. Kekurangpercayaan para murid dibalas Yesus
dengan memberikan kepercayaan kepada merekabuntuk menjadi saksi-Nya.
Dalam menapaki panggilan, sebagai orang yang dipersiapkan untuk
menjadi utusan Tuhan, kadang tak luput pula ada keraguan atas jalan panggilan
yang sedang dijalani. Padahal jika kita merenungkannya, ada berlimpah rahmat
yang telah diberikan Tuhan kepada kita.
Ia juga hadir dalam diri sesama. Ada begitu banyak orang
mendukung panggilan kita. Tak sedikit orang yang berusaha meneguhkan dan
memotivasi kita. Namun keraguan itu, senantiasa menghampiri kita. Itu sangat
manusiawai.
Keraguan akan panggilan yang sedang dijalani bukan menjadi
"rambu-rambu" atau pratanda bahwa ini bukan jalan kita dan untuk itu
harus diakhiri. Keraguan, justru harus menghantar kita pada suatu kepastian,
dan dari suatu kepastian pada suatu kebenaran. Dan kebenaran itu hanya ada pada
Allah.
Maka jika kita ragu dalam menjalani panggilan ini, datanglah
pada-Nya. Dialah cahaya yang menerangi kegelapan hati dan pikiran manusia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar