Keraguan dalam Panggilan - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Kamis, 08 Desember 2022

Keraguan dalam Panggilan

Para postulan Panjer Enjing Batu sedang mengerjakan ujian (Dokpri)


Penulis: Hendrikus Dasrimin


Dalam dunia filsafat, ada yang dikenal dengan istilah skeptisisme (keraguan). Kaum skeptis selalu meragukan adanya kebenaran. Namun, bagi Agustinus jika manusia meragukan segala sesuatu, maka secara otomatis keraguan tersebut telah menunjukkan adanya suatu kepastian dalam dirinya, yakni kepastian bahwa dia sedang meragukan segala sesuatu.

 

Sebuah keraguan tentunya berkaitan langsung dengan adanya suatu pengetahuan yang benar. Keraguan manusia terhadap suatu pengetahuan menunjukkan bahwa proses berpikir memiliki keterbatasan. Keyakinan akan kebenaran ini membuat Agustinus menggagaskan suatu ajaran tentang iluminasi.

 

Secara etimologis, iluminasi berasal dari Bahasa Latin Iluminare yang berarti menerangi. Pengertian ini mengacu pada sesuatu yang memiliki sifat menerangi, yakni cahaya. Dalam ajaran iluminasi, Agustinus menyatakan bahwa pengetahuan yang benar hanya bersumber pada Allah. Allah menjadi terang bagi akal budi, batin atau jiwa manusia. Manusia tidak akan mencapai suatu pengetahuan yang benar tanpa terang dari Allah.

 

Apa yang dialami oleh para murid Yesus ketika mendengar cerita dari dua murid lain dalam pengalaman Emaus, menjadi hal yang menarik untuk kita renungkan dalam kaitan dengan timbulnya keraguan dalam menjalani panggilan. Ketika Yesus menampakan diri, mereka menjadi terkejut dan takut. Lalu Yesus berkata kepada mereka mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul "keragu-raguan" dalam hatimu? (Luk 24:38).

 

Berulangkali Yesus menyatakan diri-Nya tetapi mereka masih ragu. Namun Yesus tak henti-hentinya hadir mengatasi keraguan karena kelemahan manusiawi mereka. Ia hadir sebagai cahaya yang menerangi pikiran para murid dengan menjelaskan Kitab Suci kepada mereka. Ia pun memperlihatkan tangan dan kakinya. Dan ketika mereka belum juga percaya, Ia meminta ikan goreng untuk dimakannya.

 

Menarik pula bahwa setelah meyakinkan para murid yang masih ragu itu, Yesus masih menaruh kepercayaan kepada para mereka untuk bersaksi tentang semuanya. Keraguan para murid dibalas dengan ketidakraguan-Nya dalam memberikan amanat untuk memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan dosa yang disampaikan kepada segala bangsa. Kekurangpercayaan para murid dibalas Yesus dengan memberikan kepercayaan kepada merekabuntuk menjadi saksi-Nya.

 

Dalam menapaki panggilan, sebagai orang yang dipersiapkan untuk menjadi utusan Tuhan, kadang tak luput pula ada keraguan atas jalan panggilan yang sedang dijalani. Padahal jika kita merenungkannya, ada berlimpah rahmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita.

 

Ia juga hadir dalam diri sesama. Ada begitu banyak orang mendukung panggilan kita. Tak sedikit orang yang berusaha meneguhkan dan memotivasi kita. Namun keraguan itu, senantiasa menghampiri kita. Itu sangat manusiawai.

 

Keraguan akan panggilan yang sedang dijalani bukan menjadi "rambu-rambu" atau pratanda bahwa ini bukan jalan kita dan untuk itu harus diakhiri. Keraguan, justru harus menghantar kita pada suatu kepastian, dan dari suatu kepastian pada suatu kebenaran. Dan kebenaran itu hanya ada pada Allah.

Maka jika kita ragu dalam menjalani panggilan ini, datanglah pada-Nya. Dialah cahaya yang menerangi kegelapan hati dan pikiran manusia.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar