![]() |
| Ilustrasi Yohanes Pembaptis di penjara yang dikunjungi dua muridnya. |
Penulis: Hendrikus Darimin
Kurikulum pendidikan yang sudah mulai diterapkan di negara kita
saat ini adalah Kurikulum Merdeka. Salah satu titik penekanan dari kurikulum
ini adalah perubahan metode mengajar, dari memberi tahu menjadi mencari tahu.
Para murid diberi kebebasan penuh untuk mengembangkan diri, memaksimalkan
kemampuan olah pikir, melatih daya nalar, dan memaksimalkan kemampuan
analisisnya dalam menemukan jawaban terhadap masalah atau obyek yang
dihadapinya. Dengan memberi kesempatan kepada para murid untuk lebih banyak
melakukan observasi, bertanya, dan mengalami sesuatu, diharapkan agar mereka tidak
hanya mendapatkan pengetahuan dari apa yang ditransfer oleh guru.
Hal ini bisa kita temukan dari apa yang dilakukan baik oleh Yohanes Pembaptis maupun oleh Yesus. Injil mengisahkan tentang Yohanes pembaptis yang mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain” (Mat 11:3). Telah sekian lama Yohanes mengajar murid-muridnya tentang Yesus. Kali ini para murid diminta bertanya sendiri kepada Yesus, siapakah dirinya. Biarlah para murid tahu sendiri dari Yesus.
Pertanyaan ini tidak secara langsung dijawab oleh Yesus. Mereka diajak untuk menyimpulkan sendiri jawabannya berdasarkan apa yang telah mereka lihat dan mereka dengar dari Yesus, “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan,… dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11: 5-6). Kata-kata ini persis seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya tentang kedatangan Mesias, seperti yang dalam Bacaan I hari ini (Yes 35:5-6). Dengan mengungkapkan itu, sebenarnya Yesus telah menyatakan identitas diri-Nya dan menjawab pertanyaan mereka, “Ya, Akulah Dia yang akan datang itu.”
Perjumpaan Yesus dengan para murid Yohanes, kemudian disusul oleh gambaran dari Yesus mengenai Yohanes Pembaptis. Para pemimpin Yahudi menolak untuk menerima baptisan Yohanes, bahkan memenjarakan dia, sebagai tanda ketertutupan mereka terhadap rencana Allah. Yesus yang lebih berkuasa dari Yohanes, juga akan ditolak, namun rencana Allah membuktikan kebenarannya dalam kehidupan mereka yang menerimanya.
Saat ini kita hidup
setelah duapuluh abad sesudah Yesus dan Yohanes Pembaptis. Kita hidup dalam
masyarakat yang sungguh berbeda. Dunia kita makin terus maju, banyak penemuan
baru yang memang patut dikagumi. Akibatnya rasa dan sikap ketergantungan
manusia pada Allah makin berkurang.
Iman bukan lagi
sebagai sikap dasar hati manusia yang penuh keyakinan kepada Tuhan. Karena
kemajuan teknologi dan penggunaan sistem kerja secara digital, yang serba cepat
dan efektif/efisien sekarang ini, keragu-raguan dan ketidakpastian
iman/kepercayaan akan kehadiran Allah dalam diri kita lebih besar dari pada
bagi orang-orang Yahudi di zaman Yesus dan Yohanes Pemandi.
Waktu itu mereka
melihat sendiri apa yang bisa dilakukan Yesus. Meskipun demikian mereka masih
ragu-ragu. Mengapa? Karena orang-orang Yahudi mempunyai konsep yang
berbeda tentang Almasih dari apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus.
Bagi kita sekarang
ini lebih berat untuk mau sungguh percaya kepada Yesus Penyelamat kita dalam
arti yang sebenarnya. Sebab kita tidak langsung mendengarkan dan melihat Yesus
sendiri. Kita percaya kepada Yesus sebagai Penyelamat melalui kesaksaian
murid-murid/ rasul-rasul Yesus, yang terdapat dalam Kitab Suci dan Tradisi
Gereja, yang terus dan tetap berjalan abad demi abad.
Menarik
bahwa Yesus justru menyuruh para murid itu pergi dan menyampaikan kepada Yohanes
apa yang telah mereka lihat dan mereka dengar dari Yesus. Yesus ingin mereka
bersaksi berdasarkan pengalaman pribadi mereka dengan Dia, bukan hanya berdasarkan
pengetahuan dan apa yang dikatakan oleh oleh lain.
Sebagai
murid Kristus, kita pun disadarkan bahwa hidup iman kita akan menjadi lebih
kuat, jika kita memiliki pengalaman personal dengan-Nya. Maka marilah pada masa
adven ini kita terus berjuang untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Yesus.
Mari kita lebih intens membangun relasi pribadi dengan Tuhan, berusaha melihat
dan mendengarkan kabar sukacita dari-Nya secara personal. Dengan demikian, iman
kita semakin teguh dan kita akan mengalami sukacita dalam Kristus.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar