SUARA BAGI YANG TAK BERSUARA (Renungan Harian, 14 November 2022) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Minggu, 13 November 2022

SUARA BAGI YANG TAK BERSUARA (Renungan Harian, 14 November 2022)

Ilustrasi Mendengarkan (Foto: dictio.id)

Pada titik tertentu di dalam kehidupan ini, seseorang bisa berada dalam kondisi tanpa harapan, di mana hanya ada kata pasrah yang dapat terucap. Hal ini sering terjadi ketika seseorang menghadapi suatu masalah yang membuatnya seolah berada di jalan buntu dan tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kondisi tanpa harapan yang demikian, sebagai orang beriman kita diajak untuk tetap berani berharap kepada Dia yang adalah jalan, kenaran dan hidup. Inilah yang dapat kita pelajari dari “si buta” yang kisahnya kita dengar dalam injil hari ini.   

Dari si buta kita belajar bahwa keteguhan iman dan pengharapan memampukan kita untuk mengatasi segala persoalan hidup dalam bentuk apa pun. Pengharapan menguatkan orang untuk memperoleh kebahagiaan. Keberhasilan seringkali tergantung pada seberapa kuat keyakinan seseorang. Jika ia tidak benar-benar yakin, halangan sekecil apapun akan membuatnya mundur. Namun jika ia sungguh yakin, ia akan tekun menjalaninya, sekalipun ada banyak orang berusaha menghentikannya. Si buta itu mengalami apa yang dikatakan dalam Ibrani 11:1 “iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”.

Selain tokoh si buta, penginjil menampilkan pula pihak lain yakni orang-orang yang menghardik si buta dan menyuruhnya diam. Berbeda dengan orang-orang itu, Yesus justru ingin menyelamatkan si buta tersebut. Peristiwa ini tentu memiliki pesan tersendiri bagi kita. Kita diajak untuk turut serta menyuarakan kerinduan “orang buta” untuk melihat, bukan sebaliknya menghalangi dan memintanya untuk diam.

Kita dipanggil untuk membawa harapan, terutama bagi mereka yang tidak mampu bersuara dan melihat. Kemampuan yang kita miliki hendaknya menjadi terang dan kehidupan bagi sesama, bukan kuk yang menekan kebebasan orang lain. Marilah kita berjuang bersama mengisi hari-hari hidup kita dengan kasih Ilahi yang melampaui sekat-sekat aturan yang membelenggu orang lain [Dasriminocarm-Dipublikasikan juga dalam Cafe Rohani, 14 November 2022].

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar