FIAT VOLUNTAS TUA - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

FIAT VOLUNTAS TUA

 




Penulis: Hendrikus Dasrimin


Maria menerima rahmat dan sekaligus panggilan menjadi Ibu Penyelamat, Bunda Allah. Rahmat dan panggilan iman ini sesuatu yang menggembirakan bagi Maria. Namun secara manusiawi, dalam menerima kegembiraan ini, Maria tidak lepas dari situasi ketakutan dan kekuatiran. Dia diliputi oleh banyak pertanyaan. Tetapi, dia adalah sungguh orang yang beriman. Dia berani terbuka terhadap rencana Allah. Dia berani menerima dan menjalani apa yang belum pasti dan jelas bagi dia sebagai manusia. 

Keberanian ini lahir dari sebuah keyakinan bahwa dia adalah hamba Tuhan. Orang yang menyadari dirinya hanya sebagai hamba, ia akan mengikuti atau menaati apa yang dikehendaki tuannya, bukan kehendaknya sendiri. Maria taat pada perintah Tuhan karena ia menyadari dirinya hanya seorang hamba “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38).

Sikap ketaatan dan kerendahatian Maria terhadap Bapa juga ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Yesus pun taat pada kehendak Bapa. Yesus menyadari bahwa Dia adalah utusan yang melakukan kehendak Bapa-Nya. Bahkan sebagaimana Maria, Yesus pun menyamankan diri-Nya sebagai seorang hamba. Meskipun Dia berwujud Allah, Dia telah menghampakan diri dengan mengambil keadaan hamba dan menjadi sama dengan manusia (bdk. Fil 2: 6-7, dalam Bacaan Singkat ibadat pagi HR Kabar Sukacita). Menyadari hal ini maka dalam bacaan kedua hari ini (Ibr 10:4-10) yang ditegaskan pula dalam Mazmur Tanggapan, Yesus pun berkata “Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu”.

Seluruh perjalanan hidup Maria dalam menanggapi karya keselamatan Allah adalah sebuah model iman yang seharusnya kita teladani sebagai orang beriman. Sebagaimana Maria, kita hendaknya berani menanggapi kehendak Allah yang tidak serba jelas dan pasti bagi kita. Kalau melihat kembali sejarah iman kita, kita akan menemukan bahwa betapa kita kadang jauh dari keteladanan iman Maria. 

Kita menutup hati terhadap rencana Tuhan dan seakan memaksa Tuhan melaksanakan kehendak kita. Kita kadang lari dari salib-salib yang seharusnya kita lalui sebagai orang beriman. Kita mengakhiri kesetiaan kita terhadap Tuhan hanya karena kita tidak kuat berdiri dan berjalan di jalan kehidupan yang kadang tidak luput dari kerikil-kerikil tajam.

Mari kita menjadikan Maria sebagai model iman kita! Marilah kita meneladan Maria dan Puteranya yang senantiasa menghayati diri sebagai hamba Allah serta membiarkan perintah dan sabda Allah terwujud dalam hidup. Mari kita berani berkata seperti Maria: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”. 

Datanglah kepada Tuhan berkatalah “Lihatlah aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku”. “Biarlah segala penderitaan dan kesulitan, penyakit serta masalah yang saya alami saat ini dapat berlalu, tetapi bukan kehendaku, melainan kehendakmulah yang terjadi”.  Semoga hari raya kabar sukacita ini menumbuhkan dalam diri kita semangat ketaatan pada Allah dan kesediaan bekerjasama dengan Allah dalam karya penyelamatannya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar