Penulis: Hendrikus Dasrimin
Maria menerima rahmat dan sekaligus
panggilan menjadi Ibu Penyelamat, Bunda Allah. Rahmat dan panggilan iman ini
sesuatu yang menggembirakan bagi Maria. Namun secara manusiawi, dalam menerima
kegembiraan ini, Maria tidak lepas dari situasi ketakutan dan kekuatiran. Dia
diliputi oleh banyak pertanyaan. Tetapi, dia adalah sungguh orang yang beriman.
Dia berani terbuka terhadap rencana Allah. Dia berani menerima dan menjalani apa
yang belum pasti dan jelas bagi dia sebagai manusia.
Keberanian ini lahir dari sebuah
keyakinan bahwa dia adalah hamba Tuhan. Orang yang menyadari dirinya hanya
sebagai hamba, ia akan mengikuti atau menaati apa yang dikehendaki tuannya,
bukan kehendaknya sendiri. Maria taat pada perintah Tuhan karena ia menyadari
dirinya hanya seorang hamba “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut
perkataanmu” (Luk 1:38).
Sikap ketaatan dan kerendahatian Maria
terhadap Bapa juga ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Yesus pun taat pada kehendak
Bapa. Yesus menyadari bahwa Dia adalah utusan yang melakukan kehendak Bapa-Nya.
Bahkan sebagaimana Maria, Yesus pun menyamankan diri-Nya sebagai seorang hamba.
Meskipun Dia berwujud Allah, Dia telah menghampakan diri dengan mengambil
keadaan hamba dan menjadi sama dengan manusia (bdk. Fil 2: 6-7, dalam Bacaan
Singkat ibadat pagi HR Kabar Sukacita). Menyadari hal ini maka dalam bacaan
kedua hari ini (Ibr 10:4-10) yang ditegaskan pula dalam Mazmur Tanggapan, Yesus
pun berkata “Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu”.
Seluruh perjalanan hidup Maria dalam
menanggapi karya keselamatan Allah adalah sebuah model iman yang seharusnya
kita teladani sebagai orang beriman. Sebagaimana Maria, kita hendaknya berani menanggapi
kehendak Allah yang tidak serba jelas dan pasti bagi kita. Kalau melihat kembali sejarah iman
kita, kita akan menemukan bahwa betapa kita kadang jauh dari keteladanan iman
Maria.
Kita menutup hati terhadap rencana Tuhan dan seakan memaksa Tuhan
melaksanakan kehendak kita. Kita kadang lari dari salib-salib yang seharusnya
kita lalui sebagai orang beriman. Kita mengakhiri kesetiaan kita terhadap Tuhan
hanya karena kita tidak kuat berdiri dan berjalan di jalan kehidupan yang
kadang tidak luput dari kerikil-kerikil tajam.
Mari kita menjadikan Maria sebagai
model iman kita! Marilah kita meneladan Maria
dan Puteranya yang senantiasa menghayati diri sebagai hamba Allah serta
membiarkan perintah dan sabda Allah terwujud dalam hidup. Mari kita berani berkata seperti Maria: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan,
terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”.
Datanglah kepada Tuhan
berkatalah “Lihatlah aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku”. “Biarlah
segala penderitaan dan kesulitan, penyakit serta masalah yang saya alami saat
ini dapat berlalu, tetapi bukan kehendaku, melainan kehendakmulah yang
terjadi”. Semoga hari raya kabar sukacita ini menumbuhkan dalam
diri kita semangat ketaatan pada Allah dan kesediaan bekerjasama dengan Allah
dalam karya penyelamatannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar