(Oleh: H. Dasrimin)
Kita baru saja mendengar Injil yang mengisahkan tentang seorang yang tuli dan gagap dibawa kepada Yesus supaya disembuhkan. Nubuat Yesaya seperti dalam bacaan pertama terwujud di dalam diri Yesus, yang buta dicelikkan, yang bisu dapat berbicara dan yang lumpuh dapat berjalan.
Markus melihat si bisu tuli sebagai gambaran manusia yang menutup diri terhadap sabda Tuhan dan yang tak mampu lagi memuji Dia. Maka tiada tanpa maksud bahwa justru seorang bukan Yahudi disembuhkan, sedangkan umat terpilih menolak melihat dan mendengar.
Orang yang disebut tuli adalah orang yang tidak dapat mendengar. Pendengarannya terganggu dan tidak berfungsi dengan baik. Biasanya bila kita berhadapan dengan orang semacam ini, apa yang kita sampaikan kepadanya tidak dapat ditangkap dengan baik dan akhirnya terjadi salah paham. Begitu pula dengan orang yang gagap. Kita menjadi tidak sabar menghadapi model orang yang semacam ini lantaran bicaranya tidak jelas dan terputus-putus. Butuh waktu lama untuk mengerti suatu topik pembicaraan. Dengan demikian orang yang tuli dan gagap adalah orang yang secara fisik tidak dapat menggunakan kemampuan mendengar dan bicara dengan baik.
Lalu bagaimana orang yang secara rohani tuli dan gagap? Apakah kita adalah salah satunya? Orang yang demikian tidak dapat menggunakan kemampuan rohaninya untuk mendengar suara Tuhan dalam hidupnya. Ia juga akan gagap bila berbicara mengenai Tuhan. Rasul Paulus menegaskan dalam suratnya kepada jemaat di Roma bahwa iman muncul melalui pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17). Hanya orang-orang yang mengakui dan beriman kepada Tuhan, dapat mendengarkan suara-Nya dan dapat berkata-kata tentang Tuhan.
Lalu apa yang menyebabkan kita tuli dan gagap secara rohani? Karena kita tidak melatih untuk menajamkan hati kita dengan sabda Tuhan (bdk. Yes 50:4). Untuk itu, dalam bulan Kitab Suci Nasional ini, kita diingatkan kembali agar peka akan suara Tuhan lewat sabda-Nya dan mewujudkannya dalam kehidupan. Mari kita mohon kepada Tuhan agar dibukakan hati, pendengaran rohani kita, seperti orang tuli dan gagap pada hari ini. Biarlah seruan-Nya, "Terbukalah" menajamkan hati dan pendengaran kita.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar