Oleh: H. Dasrimin
Emmanuel
Levinas hadir sebagai filsuf yang menggugat otoritas filsafat totalitas
yang menurutnya melupakan “dia yang lain dalam keberlainannya”. Dalam
filsafat totalitas “dia yang lain” itu diserap dalam identitas diri
sendiri, direduksikan ke dalam kesadaran “aku” semata-mata, “The other”
dijabarkan menjadi “The same.” Bertolak dari kritiknya terhadap
filsafat totalitas, Levinas kemudian menyusun sebuah etika baru yang
mengutamakan “dia yang lain dalam keberlainannya”. Etika kemudian
disebutnya sebagai filsafat pertama.
Siapakah
“dia yang lain dalam keberlainannya” itu menurut Levinas? Melalui jalan
yang dinamakan Via Negativa, Levinas menyebut “dia yang lain dalam
keberlainannya” itu sebagai “yang bukan aku”. Yang lain adalah yang
bukan aku. Untuk memahami “yang lain” aku tidak dapat memulai dari
diriku, karena memulai dari diriku berarti memulai dari dunia pemahaman
dan persepsiku. Jalan yang baik untuk memahami “yang lain” adalah
memulai dari dunianya, yaitu dari keberlainannya. Maka dalam memberikan
penilain (correctio) kepada sesama kita, ada bahaya jika kita berangkat
dari dunia kita sendiri dan bukan memulai dari dunianya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar