HARI KIAMAT (RENUNGAN MINGGU BIASA XXXIII, TAHUN B) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

HARI KIAMAT (RENUNGAN MINGGU BIASA XXXIII, TAHUN B)

 


 Bac.1: Dan. 12:1-3; Bac.2 : Ibr.10:11-14,18; Mrk. 13: 24-32

(Oleh: H. Dasrimin) 

 

Sudah sejak lama, banyak yang meramalkan tentang akhir zaman atau hari kiamat. Namun kita tahu bahwa semuanya gagal, alias tidak terjadi. Meskipun selama ini tidak ada satu pun ramalan kiamat yang terbukti, namun nyatanya tidak sedikit orang yang percaya pada ramalan-ramalan tersebut. Ketika satu ramalan tidak terbukti, kemudian ada ramalan baru, tetapi selalu saja ada orang yang percaya, bahkan cukup banyak.

Bacaan-bacaan hari ini juga berbicara tentang akhir zaman, atau zaman eskatologis, atau hari kiamat. Dalam bacaan pertama dikatakan “Banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun, sebagian untuk mendapatkan hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang abadi” (Dan 12:2).

Dalam bacaan Injil, Yesus bersabda “Ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah diambang pintu ... langit dan bumi akan berlalu” (Mrk 13:29.31). Sayangnya, orang hanya berhenti pada ayat 31 ini. Padahal masih ada lanjutannya dan ini yang sebenarnya merupakan salah satu inti iman kita tentang akhir zaman. Banyak orang seringkali lupa akan penegasan Yesus berikutnya bahwa “tentang hari atau saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak! Hanya Bapa yang tahu!” (Mrk 13:32). Memang, akhir zaman akan terjadi, tetapi kapan waktunya, tidak ada yang tahu selain Allah sendiri.

Injil tidak bermaksud untuk menakut-nakuti kita dengan cerita-cerita tentang akhir zaman. Injil berarti kabar gembira. Karena itu, apa yang dikatakannya tentang akhir zaman mesti dipandang dalam konteks kabar gembira. Aspek gembira dari peristiwa akhir zaman itu ialah bahwa Yesus akan datang kembali. Kebenaran iman ini telah kita akui dalam syahadat: Ia akan mengadili orang yang hidup dan yang mati. Para penulis Kitab Suci menggunakan kata Yunani Parousia untuk menujukan kehadiran raja atau pemimpin yang berkuasa di antara pengikut-pengikutnya.  

Di sini pesannya jelas, bahwa sebagai orang beriman kita tidak perlu ikut-ikutan pada spekulasi mengenai akhir zaman ini. Bagi kita, pengajaran iman kita telah memberi kepastian. Bahwa akhir zaman itu adalah suatu kepastian yang tidak pasti. Ibarat peristiwa kematian yang dialami setiap manusia, demikian pula akhir zaman pun pasti akan terjadi, tetapi soal waktu atau kapan terjadinya, tidak ada yang tahu, kecuali Allah.

Karena tidak ada satu orang pun yang tahu pasti kapan terjadinya akhir zaman itu, maka kita diminta untuk mempersiapkan diri atau Injil menyebutnya dengan “berjaga-jaga”. Paus Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostolik Vita Consecrata mengatakan bahwa sikap berjaga-jaga di sini bukan dalam arti sebuah penantian pasif, meskipun mengarah pada Kerajaan Allah di masa mendatang. Sebaliknya penantian kita bersifat aktif yang diwujudkan dalam karya dan perutusan, supaya kerajaan itu hadir di sini dan sekarang melalui semangat Sabda Bahagia, yang mampu membangkitkan dalam masyarakat aspirasi-aspirasi yang efektif akan keadilan, damai, solidaritas dan pengampunan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar