Di atas sebuah perahu kecil yang sedang berlabuh di pinggir pantai, kutemukan bendera ini. Pemandangan yang membuat saya tiba-tiba berpikir tentang nasionalisme. Seberapa lusuh warna bendera merah putih yang kita punya? Apakah masih cemerlang ataukah sudah tak jelas warnanya? Masih bisa disebut merah putih yang artinya memang benar merah-putih dan bukannya merah-putih kusam.
Banyak hal yang bisa membuat warnanya berubah dan mulai kusam. Mungkin saja merahnya menjadi kusam karena kita kurang berani melawan “orang-orang besar” yang salah, dan hanya bisa berani menghukum “orang-orang kecil” yang keliru. Mungkin saja putihnya menjadi buram karena ketidaksucian kita ikut serta dalam lingkaran sogok-menyogok pejabat di instansi. Mungkin juga ia mulai sobek seiring dengan maraknya tikus-tikus kantor yang terus melahap uang rakyat.
Indonesia ini lahir dari proses asimilasi yang panjang hingga cukup menjadi sebuah komunal yang disebut sebagai bangsa. Namun kini ada yang mulai mencoba mencabik-cabik keutuhannya dengan berkedok suku, agama, ras dan golongan. Warnanya mulai luntur bersama runtuhnya moral yang meniadakan rasa bahwa kita ini satu tanah dan satu langit.
Wahai anak bangsa.....ditengah riuh busuk cacat bangsa ini masih ada keping-keping harapan bagi kita untuk mengembalikan keutuhan dan kecemerlangan warnanya. Sobeklah dosa-dosa politikmu, hilangkan noda-noda fitnah agama, lunturkan ego-ego pikiran dan perilaku busukmu...Ibu pertiwi akan sabar menunggu lalu memelukmu. DIRGAHAYU RI ke-71.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar