H. Dasrimin
Di sekitar kita ada begitu banyak orang miskin dan terlantar. Kehadiran
mereka di tengah masyarakat kadang kala dianggap sebagai “manusia kelas bawah”
yang tidak berarti. Emanuel Levinas* justru
sebaliknya melihat mereka sebagai wajah-wajah yang patut dihargai. Ia melihat
wajah-wajah yang tampil dalam kemiskinan dan ketakberdayaannya adalah dia yang
mencari perlindungan dan pembelaan dari pihak kita. Kemelaratannya adalah suatu
undangan bagi kita untuk mendengarkannya. Di hadapan dia yang melarat, kita tak
bisa berdiam diri. Kita dituntut untuk memahami. Kehadirannya seakan menggugat
kita untuk bertanggungjawab atas dirinya. Ia meminta pertangungjawaban etis
dari kita.
Epifani
Wajah: Menggugat Tanggungjawab Etis
Epifani Wajah
Levinas tidak mengartikan “wajah” dalam pemahaman yang bersifat
fisis-biologis, yang berarti air muka atau muka. Levinas menunjukkan wajah
sebagai bentuk kehadiran dia yang lain. Wajah dalam pengertian Levinas adalah
dia yang tampil di hadapan saya sebagai realitas yang berdiri sendiri; suatu
penampilan dia yang lain.[1]
Lebih
lanjut Levinas menjelaskan bahwa penampilan wajah sebagai suatu ketelanjangan.
Ketelanjangan wajah adalah ketelanjangan yang paling telanjang. Ketelanjangna
yang paling telanjang adalah juga tanda kepolosan dan kelurusan dari wajah itu
sendiri. Karena kepolosannya itu terbesitlah suatu kemiskinan yang amat hakiki.
Kerena itu ketelanjangan mewartakan kemiskinan dan ketakberdayaan orang lain
yang tampil di hadapanku. Orang lain yang tampil sebagai wajah adalah dia yang
datang dari kepolosan dan kemiskinannya.[2]
Untuk mempertegas kemiskinan dan
keberlainannya sebagai penampilan wajah yang telanjang, Levinas memberikan
figur lain dari penampilan wajah yaitu dia yang tampil sebagai orang asing,
janda dan yatim piatu. Meskipun dia datang dengan ketelanjangannya,
kemelaratannya, serta kemiskinannya, namun aku harus menyapa dia sebagai tuan.
Dia yang miskin serentak menjadi tuan. Di hadapan dia aku kembali
mempertanyakan kebebasanku selama ini. Dengan kehadiran yang lain, kebebasanku
dinomorduakan.[3] Dalam arti ini aku harus
menyambut kedatangannya sebagai yang miskin dan terlantar, sekaligus sebagai
tuan. Ketelanjangan wajah yang menampilkan kemiskinan, kemelaratan juga
serentak menampilkan diri sebagai tuan, seakan menggugat diriku untuk tidak
berdiam diri. Aku harus memberikan jawaban atasnya karena merupakan sebuah
tugas yang telah ditanggungkan kepadaku.
Tanggungjawab Menurut Levinas
Tanggung
Jawab dan Menjawab
Dalam etika tradisional, ada tiga hal yang turut berpartisipasi dalam
proses pemberian tanggung jawab, yaitu: Pertama: ada sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan dan ada yang
bertanggungjawab. Menurut Levinas, apa yang dilakukan itu sudah dapat dikatan
kerja (praktek), sedangkan apa yang dikatakan masih dalam perkataan (teori). Kedua: kita bertanggungjawab terhadap adanya
yang lain, karena yang lain itu adalah subyek sebagaimana diri kita yang juga
adalah subjek. Ketiga: tanggung jawab dalam pengertian tradisional
berhubungan dengan menjawab. Namun relasi ini agak terbatas. Seseorang bertanggungjawab kepada orang lain karena ia
mau menjawab respon dari yang lain. Respon dalam bentuk jawaban yaitu jawaban
atas panggilan orang lain.
Ketiga
proses tangung jawab ini disebut dengan tangung jawab diri yang merupakan visi
terbesar dari sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab diri berarti tanggung jawab
yang tidak berasal dari perkataan dan perbuatan itu sendiri, tetapi berasal
dari persembahan diri sendiri. Ini berarti bahwa jawaban tidak secara
primordial menunjuk pada sesuatu yang “telah” dikatakan dan dilakukan, tetapi
lebih kepada yang “harus” dikatakan dan
dilakukan.
Menurut Levinas proses tangung jawab akan
yang lain dalam etika tradisional (tanggung jawab diri) berbeda dengan proses
menjawab. Levinas menjelaskan hal ini dengan memberikan perbedan antara term
“dativus” dan “nominativus”. Term dativus berarti saya menjawab orang lain,
tetapi “setelah” saya memberikan jawaban, saya tidak mempunyai hubungannya lagi
dengan dia. Sedangkan nominativus berarti seseorang memberikan jawaban “untuk”
orang lain. Dengan sendirinya dia berhubungan langsung dengan subyek itu.[4]
Tanggung Jawab “untuk” dan Tanggung Jawab “bagi”
Levinas menjelaskan tanggung jawab dalam arti yang heteronom. Ia membedakan
tanggungjawab dalam dua term, yaitu tanggungjawab untuk dan bagi orang lain.
Secara sepintas kedua jenis tanggungjawab ini merupakan sesuatu yang ambigu,
karena hampir memiliki makna yang sama, untuk menjelaskan hal ini, ia
membandingkannya dengan term “menghakimi dan menghukum”. Menghakimi berarti
kita berada di luar konflik sedangkan menghukum berarti kita secara langsung
berada ditengah-tengah konflik itu[5].
Tanggung jawab “untuk” lebih radikal
jika dibandingkan dengan tanggung jawab “bagi”. Tanggung jawab “untuk” orang
lain berarti ketika saya melihat dia yang telanjang di depanku (yang miskin),
muncul inisiatif bebas dalam diriku “untuk” bertanggung jawab kepadanya, tanpa
merasa diri terdakwa oleh kehadirannnya. Sedangkan tanggung jawab bagi orang
lain berarti kehadiran orang lain membuat saya seakan-akan tertuduh atau
disandra olehnya, sehingga saya bertanggungjawab baginya. [6]
Kehadiran orang lain menuntut tanggung
jawab dari pihakku. Begitu saya secara fisik “dekat” dengan orang lain, saya
bertanggungjawab atasnya dan saya tidak dapat lari dari tanggung jawab itu.
Saya seakan-akan disandera olehnya. Tanggung jawab itu sudah mengikat saya jauh
sebelum saya dapat mau bertanggungjawab atau tidak. Maka tangugung jawab
primordial itu harus dapat dibedakan dengan tanggung jawab dalam pengertian
sehari-hari. Dalam tanggung jawab primordial terdapat pasivitas total, yakni
bahwa sebelum segala sikap atau aksi yang bisa saya ambil, saya sudah
tersandera. Dalam penyanderaan tanggung jawab itu, saya mengambil tempatnya
(substitusi), tetapi substitusi itu tidak berarti bahwa saya terasing dari diri
saya sendiri melainkan saya justru menjadi diriku. Karena saya sadar bahwa saya
berada di bawah tanggung jawab, maka saya sadar bahwah saya adalah saya.[7]
Apabila sebelum segala sikap atau aksi
yang bisa saya ambil, saya sudah tersandera, maka seolah-olah yang lain
mendominasi kebebasan saya. Dalam hubungan dengan ini Levinas menjelaskan
bahwa, pertama: keadaan itu menjadi
syarat kemungkinan munculnya segala sikap manusiawi yang dapat kita ambil; kedua: bahwa meskipun keadaan itu kita
tidak pilih dengan bebas, namun keadaan itu justru mendasarkan kemungkinan kita
untuk bersikap bebas. Kita dapat mengambil sikap dengan bebas karena kita
selalu sudah terarah kepada yang baik.[8]
Entakah dia bertanggungjawab terhadap saya, itu bukan urusanku. Tanggung jawab
yang berasal dari diriku mempunyai tujuan “untuk orang lain”, tanpa suatu gerak
balik. Tanggung jawab semacam ini bersifat asimetris. [9]
Dalam
hubungan dengan tanggung jawab akan yang lain, Levinas cenderung menekankan
tanggung jawab “untuk”.
Adapun alasan yang diberikan oleh Levinas, antara lain
adalah: [10]
Pertama: tanggung jawab untuk
orang lain bertujuan demi suatu hubungan atau relasi. Bentuk dari hubungan
relasi ini adalah relasi intersubjektif, di mana saya sebagai subyek berelasi
dengan yang lain yang juga adalah subyek. Saya tidak menggantikan tempatnya
secara total karena saya bukanlah yang lain itu. Apabila saya menggantikan
tempatnya berarti saya membuat dia teralienasi.
Kedua: substitusi adalah proses menjadi. Saya melihat dia, berarti juga
saya melihat diri saya sendiri. Ketika saya melihat dia yang sama dengan
diriku, maka muncul inisiatif bebas dari diriku untuk bertanggungjawab
terhadapnya. Karena tanggung jawab saya kepada yang lain muncul dari suatu
inisiatif bebas dalam diriku maka saya menikmatinya. Menjadi dirinya sendiri
dalam keadaan sebagai sandera, selalu berarti memikul satu tingkat tanggung
jawab lebih besar, tanggung jawab atas
tangung jawab orang lain.[11]
Namun saya memikulnya dengan tidak merasa beban, karena saya apa yang saya
lakukan muncul dari kebebasanku sendiri. Bukan karena saya tertuduh.
Ketiga: proses perluasan
tanggung jawab menjadi substitusi. Ketika kita menggantikan tempat orang lain,
bukan berarti kita meninggalkan diri kita untuk orang lain kecuali kita merasa
diri disandera oleh orang lain. Menurut Levinas tanggung jawab itu muncul
secara tiba-tiba. Ketika tanggung jawab itu muncul dalam diriku maka, tanggung
jawab itu berubah menjadi utang budi. Dengan demikian ada suatu hubungan antara
saya yang bebas untuk membantu dia dengan saya yang merasa tertuduh. Yang
dimaksudkan Levinas mengapa ada hubungan antara saya yang bebas dengan saya
yang tertuduh adalah karena saya bertanggungjawab bukan karena dia menderita
tetapi penderitaannya yang menyapa saya. Berarti penderitaannya memunculkan
inisiatif saya.
Keempat: Levinas menjelaskan tanggung jawab “untuk”
dengan memberikan sebuah contoh tradisi Yahudi yakni upacara silih dosa. Dalam
tradisi itu mereka menaruh dosa-dosa pada lembu jantan, kemudian lembu itu
dilepaskan ke padang gurun. Dalam hal ini Levinas ingin menjelaskan tentang
tema kebaikan yang ternyata menjadi kondisi paling dasar dari eksistensi
manusia. Substitusi sekaligus menjadi sebuah penebusan untuk orang lain; saya
menebus orang lain itu karena saya menanggung dia dengan segala apa yang ada
padanya, termasuk dosa-dosanya. Di sini Levinas mengangkat kembali apa yang
telah digagasan oleh Plato tentang kebaikan.[12]
Dengan ini Levinas berharap bahwa semua orang harus melakukan tindakan
tanggungjawab ini demi sebuah kebaikan.
Yang lain yang hadir dalam penampakkan
wajah adalah janda, yatim piatu dan orang asing. Inilah ketelanjangan yang
lain. Dalam ketelanjangannya yang lain terus mengganggu aku dengan teriakannya;
“engkau tidak boleh membunuh aku, engkau harus memberi aku tumpangan”. Karena
teriakannya ini, yang lain mengganggu sekaligus menggugat aku. Aku ada sebagai
pihak yang tergugat. Kekuatan wajah itu justru dalam ketelanjangannya.
Ketelanjangannya membawa pesan damai dan bukan kekerasan. Ketelanjangannya
adalah penderitaannya. Dengan menggugat saya, namun dia tidak mengurangi
kebebasan saya, dan tetap terbukalah jalan buat kebaikan hati dari pihak saya
sendiri yang muncul dari kebebasan dan inisiatif saya sendiri untuk menjawab.
Dalam ketergugatan itu aku dituntut untuk membuka hatiku kepadanya. Di sini aku
hadir sebagai “aku yang tergugat.” Aku tergugat karena dia yang lain itu hadir
dalam ketelanjangannya.
*) Emmanuel Levinas lahir di Konvo-Lithuania dari keluarga Yahudi pada
tahun 1906. Sejak kecil ia sudah berkenalan dengan Kitab Suci dan karya-karya
sastra dan filsfat. Karya-karya sastra klasik membantunya untuk mencari makna
hidup sekaligus pengantar untuk mengenal filsafat. Karena itu pemahaman tentang
ide-ide filosofisnya tidak pernah terlepas dari latar belakang ini. Pada masa
mudanya ia pernah menyaksikan revolusi 1917 di Ukraina. Pada tahun 1923 ia
belajar filsafat di Universitas Strasbourg dan pada tahun 1928/1929 ia belajar
di Freiburg. Di sini ia berkenalan dengan literatur-literatur filsafat dan pada
usia 18 tahun, ia belajar filsafat di bawah bimbingan empat profesor. Pada
tahun 1961 ia menerbitkan tesis doktoralnya dengan judul Totalite et Infini
dan berkat tesisnya ini ia diangkat menjadi profesor filsafat di Universitas
Poitiers. Kemudian ia ditempatkan di Universitas Paris-Nanterre pada tahun
1967, dan selanjutnya memangku jabatan sebagai guru besar filsafat di Sorbonne
pada tahun 1973, hingga pensiun pada tahun 1976. bdk. Servasius Salvano
Jaman cs, Etika dan Wajah (Seminar Fenomenologi Eksistensial), Maumere:
STFK Ledalero, 2008, p.1.
[1] Feliks Baghi, Filsafat Levinas
dalam Totality and Infinity (Skripsi), (Maumere: Ledalero, 1993), p. 63.
[2] Ibid., pp. 63-67.
[3] Ibid.
[4]Adriaan T. Peperzek Ethics as First Philosophy the Significance
of Emmanuel Levinas for Philosophy, Literature and Religion (New York and
London: Routledge,1995), p 43-44.
[5] Ibid., p 49.
[6]
Ibid., pp. 43-44.
[7] Frans Magnis-Suseno, Etika Abad Kedua Puluh, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), p. 103.
[8]
Ibid., p. 104.
[9] Feliks Baghi, Filsafat
Levinas dalam Totality and Infinity (Skripsi), (Maulemere: Ledalero, 1993),
p. 96.
[10]
Adriaan T. Op. Cit., pp. 44-49
[11] Frans Magnis-Suseno, Op. Cit., p. 107.
[12] Ibid., p. 105.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar