Hendrik Dasrimin
Awal Kata
Sebelum manusia
diciptakan, Allah terlebih dahulu menciptakan alam semesta (bdk. Kitab
Kejadian). Dengan kata lain, alam semesta lebih dahulu ada sebelum manusia.
Walaupun alam lebih dahulu ada sebelum adanya manusia namun manusialah yang diberi hak oleh Allah untuk menguasai
alam semesta sebab ia adalam makluk yang berakal budi (animale rationale).
Hak atas alam ini ternyata
kurang dipahami oleh manusia sehingga hak istimewa ini justru dapat menimbulkan
persolan dalam kehidupan. Kekuasaan yang telah diberikan oleh Sang Khalik,
sering disalahgunakan untuk memanfaatkan alam ini dengan mengeksploitasinya
secara berlebihan dan tidak sewenang-wenang. Manusia memanfaatkan mandat
kekuasaan ini tanpa diimbangi dengan kewajibannya untuk melestarikan alam
semesta.
Penyalagunaan kekuasaan
ini dibuktikan oleh tindakan manusia yang terus memporak-porandakan
pohon-pohon, hewan-hewan sering dimusnakan dan dijadikan sebagai mangsa yang
patut dihabiskan. Alam sering dirusak, tetapi ironisnya bahwa manusia itu
sendiri justru hidup dalam alam yang sama. Manusia tidak menyadari bahwa dengan
merusak alam semesta sebenarnya ia telah merusak kehidupannya sendiri.
Sungguh sangat
memprihatinkan apabila kita menyaksikan dan merasakan alam kita dewasa ini.
Bumi semakin panas dan gersang. Banjir terus saja menelan jutaan nyawa manusia
setiap tahunnya dan masih banyak lagi penderitaan yang dapat kita alami sebagai
akibat dari ulah manusia sendiri. Alam yang pada awalnya menjadi Taman Eden telah diubah menjadi dunia yang Edan.
Berhadapan dengan kenyataan hidup yang sangat
memprihatinkan ini, dibutuhkan suatu perjuangan dari manusia untuk mengubah
kembali wajah bumi ini menjadi sebuah taman Eden
yang penuh dengan keharmonisan. Dan dalam perjuangan ini kita (baca:
Edenisasi) harus berani melawan praktek edanisasi yang kian merusak alam yang
sangat kita cintai ini.
Edenisasi vs Edanisasi
@Lingkungan yang Edan: Sebuah
Realitas
Dalam Kitab Suci
Perjanjian Lama, khususnya dalam Kitab Kejadian kita dapat menemukan suatu
gambaran alam yang penuh dengan keharmonisan, kebahagiaan serta keakraban dari
seluruh alam ciptaan. Situasi hidup yang demikian dilukiskan oleh pengarang
dalam rupa taman Eden. Namun taman Eden yang juga dikenal sebagai Firdaus, pada
akhirnya berubah wajahnya menjadi taman yang Edan. Eden yang telah menjadi Edan
dapat terjadi akibat dosa kesombongan manusia. Karena kesombongan manusia untuk
menguasai alam bahkan Penciptanya, maka mereka (baca: Adam dan Hawa) diusir
keluar dari taman tersebut. Manusia tidak lagi menikmati alam yang bersahabat
dan penuh kebahagiaan akibat dari ulahnya sendiri.
Bukan hanya manusia pertama yang telah mengubah Eden
menjadi Edan, namun edanisasi terus saja dilakukan oleh manusia hingga saat ini
berbarengan dengan berputarnya roda kehidupan dan berkembangnya teknologi.
Manusia pertama tergoda untuk memetik buah terlarang. Demikian pula manusia
zaman ini tergoda untuk memetik, mengeruk dan mengeksploitasi seluruh kandungan
alam ini. Sebagaimana manusia pertama mengimpikan kekuasaan dan kedudukan yang
akan diperolehnya apabila ia memetik dan memakan buah terlarang, demikian juga
halnya dengan manusia zaman ini mengimpikan suatu kenikmatan setelah ia
berhasil mengeksploitasi hasil alam yang ada.
Sadar atau tidak sadar,
manusia zaman ini sedang merusak taman Eden yang merupakan bagian dari tempat
tinggalnya sendiri. Sebagai akibatnya kita sendiri yang merasakan bahwa
lingkungan kita kian menjadi edan. Hutan yang menjadi paru-paru dunia dibakar
dan ditebang. Sebagai akibatnya maka suhu bumi semakin naik dan terjadilah
panas global. Sementara itu kesuburan tanah pun semakin berkurang karena
penggunaan pupuk buatan dan peptisida yang mengandung zat kimia. Hewan-hewan
langkah semakin berkurang. Ikan dan biota laut semakin terancam karena telah
diracuni oleh limbah-limbah pabrik maupun limbah rumah tangga. Dan masih banyak
lagi kenyataan yang dapat dilitanikan.
@Edenisasi: Sebuah Solusi
Apabila kita meneropong
kehidupan kita dalam arena lingkungan hidup maka dapat ditemukan ada dua
kekuatan yang saling melakukan sepak terjang. Di satu pihak ada kelompok yang
mau memanfaatkan dan mengeksploitasi alam ini demi suatu tujuan tertentu (Edanisasi).
Di lain pihak ada yang berjuang untuk melawan tindakan itu dan berusaha untuk
melestarikan lingkungan (Edenisasi). Kelompok edenisasi ini misalnya menyebut
diri mereka sebagai kelompok pencinta lingkungan.
Jika kita menghendaki agar kondisi alam ini tidak
diperburuk lagi, maka kita perlu melakukan edenisasi. Secara sederhana
Edenisasi dapat saya artikan sebagai sebuah usaha untuk mengembalikan citra
Eden dimana ada suatu keharmonisan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Edenisasi tidak lain adalah usaha manusia untuk melestarikan lingkungan hidup.
Edenisasi adalah perwujudan dari manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap
alam.
Perlu disadari bahwa yang tergolong dalam kelompok
edenisasi bukan hanya para penguasa yang terus mengeksploitasi alam dengan
program pertambangan demi alasan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Bukan pula hanya para pengusaha yang mendirikan pabrik-pabrik demi
meraup keuntungan. Tetapi perlu diingat bahwa masyarakat kecil dapat juga
terjebak dalam kelompok edanisasi.
Edanisasi dapat terjadi dalam pengalaman sederhana
di tengah kehidupan kita setiap hari. Ketika kita mengadakan pembakaran hutan,
ladang berpindah-pindah, membuang sampah secara sembarangan, berarti kita sudah
melakukan edanisasi. Untuk itu marilah kita berjuang melakukan edenisasi mulai
dari hal-hal yang sederhana seperti membuang sampah atau limbah pada tempatnya,
melakukan penghijauan kembali hutan yang gundul (reboisasi), melindungi hutan
dan lain-lain.
Catatan Akhir
Sang maestro Kahlil
Gibran, pada akhir sebuah syairnya tentang alam memberikan suatu pertanyaan
“Mengapa manusia harus merusak alam?” Suatu pertanyaan reflektif yang menggugat
hati kita di tengah kondisi alam yang kian menjadi edan ini. Manusia telah
merusak alam yang merupakan tempat di mana ia berpijak. Ia tidak menyadari
bahwa tindakannya itu dapat menghasilkan dampak buruk bagi dirinya sendiri.
Alam tidak lagi bersahabat dengan manusia, bencana terus saja terjadi akibat
uolah manusia sendiri.
Di tengah kenyataan
seperti ini, perlu ada kesadaran dari dalam diri kita untuk berjuang melawan
praktek edanisasi yang kini marak dilakukan. Alam yang kini sangat
memprihatikan membutuhkan manusia yang memiliki rasa tanggung jawab untuk
melestarikan alam ini (edenisasi). Edenisasi sebagai suatu solusi untuk
mengubah wajah bumi ini, haruslah dimulai dalam diri kita dari hal-hal yang
sederhana. Apabila edenisasi ini dapat kita laksanakan, maka kita tidak perlu
lagi kwatir akan adanya lumpur panas, banjir, panas global dan akibat buruk
lainnya.
*)Pernah dipublikasikan dalam Majalah Ziarah, edisi: THN.
XIII, No. 1 – 2009.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar