Oleh: H. Dasrimin
Kita sudah memasuki Minggu Prapaskah ke V atau dikenal juga dengan
minggu sengsara. Bacaan pertama hari ini menampilkan seruan Yeremia yang
mewartakan perjanjian baru dan cinta kasih Allah. Perjanjian Baru itu
tertulis sebagai hukum, bukan dalam loh batu, melainkan dalam hati.
Bacaan kedua berbicara tentang Yesus Kristus sebagai imam agung
Perjanjian Baru yang sepenuhnya solider dengan kehidupan manusia. Anak
Allah itu rela menderita sengsara dan wafat demi manusia. Allah telah
menebus manusia dengan harga yang mahal, yakni dengan mengurbankan
diri-Nya sendiri.
Sedangkan Injil berbicara tentang Yesus Kristus sebagai jalan kemuliaan.
Jalan kematian yang membawa kesuburan digambarkan sebagai jatuhnya
bulir gandum yang mati, tetapi kemudian menghasilkan buah. Yesus
mengatakan bahwa Ia akan menarik semua orang yang datang kepada-Nya
untuk memperoleh keselamatan.
Dalam hidup ini kita seringkali mengalami saat-saat yang gawat, genting
dan menyakitkan, bahkan saat-saat yang membuat kita ketakutan dan tidak
tahan. Menghadapi saat-saat seperti itu tidak jarang kita mengeluh,
protes, ataupun berteriak kepada Tuhan, agar saat itu tidak jadi datang
kepada kita. Kadang kita merasa gelap, tidak tahu lagi apa yang harus
kita lakukan.
Injil hari ini melukiskan bagaimana suasana hatinya ketika Ia mengetahui
bahwa "saat-Nya" sudah dekat. Saat Yesus dimuliakan di atas kayu salib,
saat Dia dibunuh dan dicerca banyak orang. "Saat" yang sungguh dekat
itu membuat Yesus pun tergetar pula. Kemanusiaan-Nya seakan berontak
kepada Bapa: “Selamatkan Aku dari saat itu Bapa”. Tetapi hati nuraninya
yang sejak lama menyatu dengan Bapa dalam pergolakan-Nya, menyatakan
lain, “Tidak, biarlah saat itu datang, karena untuk itulah Aku datang ke
dunia ini”. Pergulatan batin Yesus akhirnya memenagkan kehendak Bapa,
yaitu Dia akan menanggung semua risiko salib itu. Dia akan menanggung
semua resiko karena ketaatan-Nya.
Menghadapi situasi atau saat-saat yang sungguh menantang dan
mengancam hidup kita, pasti terjadi perang batin dalam diri kita.
Menurut banyak pengalaman, menghindari persoalan yang berat, tidaklah
memecahkan persoalan, tetapi hanyalah menunda persoalan itu. Sedangkan
menghadapi suatu persoalan, meski kadang harus memeras pikiran, hati,
tenaga, dan uang, seringkali lebih memecahkan persoalan itu.
Orang bilang, tidak ada cinta tanpa pengorbanan; tidak ada kesuksesan
tanpa penderitaan; tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Dalam injil
hari ini kita mendengar bahwa kemuliaan yang diterima oleh Yesus bukan
ketika Ia menerima segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, tetapi ketika Ia
harus melepaskan segala keinginan manusiawi-Nya, dan mengosongkan diri
sepenuhnya. Puncak kemuliaan Yesus justru terjadi ketika Ia mengalami
penderitaan; ketika Ia ditinggikan di kayu salib. Maka Yesus berkata, “Jika
biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, maka ia tetap satu
biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”.
Sangat gampang bagi kita manusia untuk memahami keselamatan sebagai
suatu peristiwa luar biasa, peristiwa kemenangan, prestasi, kesuksesan.
Jangan lupa bahwa Tuhan memilih jalan lain untuk membawa keselamatan
yakni jalan penderitaan dan kematian. Dengan ini Yesus membalikkan
logika manusiawi. Yesus justru melihat peristiwa salib sebagai peristiwa
keselamatan. Paulus mengatakan kelak dalam pewartaannya: „Kami
mewartakan Kristus yang tersalib: bagi orang Yahudi merupakan
penghinaan, bagi kaum Kafir suatu kebodohan, tetapi bagi kami merupakan
kekuatan dan kebijaksanaan Tuhan.“Filsafat Yunani tidak bisa
menerima seorang Mesias yang disalibkan. Begitu juga bangsa Yahudi,
mereka tidak bisa menerima Mesias yang menderita. Keselamatan selalu
kita kaitkan dengan kegembiraan, kemuliaan dan kesuksesan, justru Yesus
mengambil jalan penderitaan dan maut, kegagalan dan kesengsaraan sebagai
jalan menuju keselamatan. Di sana dituntut iman kita.
Tentu untuk menghadapi persoalan yang berat, diperlukan keberanian dan
ketabahan. Di sinilah kita dapat belajar dari Tuhan Yesus. Di sinilah
kita dapat menimba kekuatan dari Tuhan Yesus, karena Dia memang datang
untuk menemani kita memikul salib hidup kita masing-masing. Yesus
menerima kemuliaan dari Bapa, bukan pertama-tama untuk diri-Nya sendiri,
melainkan untuk semua orang yang percaya kepada-Nya. Yesus bersabda:
“Apabila sudah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang
datang kepada-Ku”. Oleh karena itu, jika kita mengalami penderitaan,
datanglah kepada-Nya. Dia akan berjalan bersama kita memanggul salib,
sehingga beban yang sama itu terasa lebih ringan karena dipikul bersama
Dia. Mari kita datang kepada-Nya, karena Yesus sendiri pernah berkata:
“Marilah datang kepada-Ku, kamu semua yang berbeban berat, aku akan
memberikan rasa lega kepada-Mu”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar