Percikan Sabda Yoh 12: 20-33 - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

Percikan Sabda Yoh 12: 20-33

 

Oleh: H. Dasrimin

Kita sudah memasuki Minggu Prapaskah ke V atau dikenal juga dengan minggu sengsara. Bacaan pertama hari ini menampilkan seruan Yeremia yang mewartakan perjanjian baru dan cinta kasih Allah. Perjanjian Baru itu tertulis sebagai hukum, bukan dalam loh batu, melainkan dalam hati.
 
Bacaan kedua berbicara tentang Yesus Kristus sebagai imam agung Perjanjian Baru yang sepenuhnya solider dengan kehidupan manusia. Anak Allah itu rela menderita sengsara dan wafat demi manusia. Allah telah menebus manusia dengan harga yang mahal, yakni dengan mengurbankan diri-Nya sendiri.
Sedangkan Injil berbicara tentang Yesus Kristus sebagai jalan kemuliaan. Jalan kematian yang membawa kesuburan digambarkan sebagai jatuhnya bulir gandum yang mati, tetapi kemudian menghasilkan buah. Yesus mengatakan bahwa Ia akan menarik semua orang yang datang kepada-Nya untuk memperoleh keselamatan.
 
Dalam hidup ini kita seringkali mengalami saat-saat yang gawat, genting dan menyakitkan, bahkan saat-saat yang membuat kita ketakutan dan tidak tahan. Menghadapi saat-saat seperti itu tidak jarang kita mengeluh, protes, ataupun berteriak kepada Tuhan, agar saat itu tidak jadi datang kepada kita. Kadang kita merasa gelap, tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan. 
Injil hari ini melukiskan bagaimana suasana hatinya ketika Ia mengetahui bahwa "saat-Nya" sudah dekat. Saat Yesus dimuliakan di atas kayu salib, saat Dia dibunuh dan dicerca banyak orang. "Saat" yang sungguh dekat itu membuat Yesus pun tergetar pula. Kemanusiaan-Nya seakan berontak kepada Bapa: “Selamatkan Aku dari saat itu Bapa”. Tetapi hati nuraninya yang sejak lama menyatu dengan Bapa dalam pergolakan-Nya, menyatakan lain, “Tidak, biarlah saat itu datang, karena untuk itulah Aku datang ke dunia ini”. Pergulatan batin Yesus akhirnya memenagkan kehendak Bapa, yaitu Dia akan menanggung semua risiko salib itu. Dia akan menanggung semua resiko karena ketaatan-Nya.

         Menghadapi situasi atau saat-saat yang sungguh menantang dan mengancam hidup kita, pasti terjadi perang batin dalam diri kita. Menurut banyak pengalaman, menghindari persoalan yang berat, tidaklah memecahkan persoalan, tetapi hanyalah menunda persoalan itu. Sedangkan menghadapi suatu persoalan, meski kadang harus memeras pikiran, hati, tenaga, dan uang, seringkali lebih memecahkan persoalan itu.
 
Orang bilang, tidak ada cinta tanpa pengorbanan; tidak ada kesuksesan tanpa penderitaan; tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Dalam injil hari ini kita mendengar bahwa kemuliaan yang diterima oleh Yesus bukan ketika Ia menerima segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, tetapi ketika Ia harus melepaskan segala keinginan manusiawi-Nya, dan mengosongkan diri sepenuhnya. Puncak kemuliaan Yesus justru terjadi ketika Ia mengalami penderitaan; ketika Ia ditinggikan di kayu salib. Maka Yesus berkata, “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, maka ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”.
 
Sangat gampang bagi kita manusia untuk memahami keselamatan sebagai suatu peristiwa luar biasa, peristiwa kemenangan, prestasi, kesuksesan. Jangan lupa bahwa Tuhan memilih jalan lain untuk membawa keselamatan yakni jalan penderitaan dan kematian.  Dengan ini Yesus membalikkan logika manusiawi. Yesus justru melihat peristiwa salib sebagai peristiwa keselamatan. Paulus mengatakan kelak dalam pewartaannya: „Kami mewartakan Kristus yang tersalib: bagi orang Yahudi merupakan penghinaan, bagi kaum Kafir suatu kebodohan, tetapi bagi kami merupakan kekuatan dan kebijaksanaan Tuhan.“Filsafat Yunani tidak bisa menerima seorang Mesias yang disalibkan. Begitu juga bangsa Yahudi, mereka tidak bisa menerima Mesias yang menderita. Keselamatan selalu kita kaitkan dengan kegembiraan, kemuliaan dan kesuksesan, justru Yesus mengambil jalan penderitaan dan maut, kegagalan dan kesengsaraan sebagai jalan menuju keselamatan. Di sana dituntut iman kita.
 
Tentu untuk menghadapi persoalan yang berat, diperlukan keberanian dan ketabahan. Di sinilah kita dapat belajar dari Tuhan Yesus. Di sinilah kita dapat menimba kekuatan dari Tuhan Yesus, karena Dia memang datang untuk menemani kita memikul salib hidup kita masing-masing. Yesus menerima kemuliaan dari Bapa, bukan pertama-tama untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk semua orang yang percaya kepada-Nya. Yesus bersabda: “Apabila sudah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku”. Oleh karena itu, jika kita mengalami penderitaan, datanglah kepada-Nya. Dia akan berjalan bersama kita memanggul salib, sehingga beban yang sama itu terasa lebih ringan karena dipikul bersama Dia. Mari kita datang kepada-Nya, karena Yesus sendiri pernah berkata: “Marilah datang kepada-Ku, kamu semua yang berbeban berat, aku akan memberikan rasa lega kepada-Mu”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar