KENAIKAN YESUS DAN MUHAMMAD - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

KENAIKAN YESUS DAN MUHAMMAD

 

Besok dan lusa, tepatnya tanggal 4 dan 5 Mei adalah hari libur nasional. Kebetulan tanggal tersebut jatu pada hari Kamis dan Jumad, maka ada yang menambah hari liburnya sampai dengan hari Minggu, atau yang lebih dikenal dengan istilah "hari terjepit". Telah kita ketahui bahwa tanggal 4 adalah Hari Raya bagi umat Katolik untuk memperingati kenaikan Isa Al-Masih. Sedangkan tanggal 5 adalah Hari Raya umat Muslim untuk memperingati Isra’ Miraj. Menarik bahwa pada tahun ini, dua peringatan tersebut dirayakan secara berturut-turut. Sekilas keduanya nampak sama; Hari Raya Kenaikan Isa Al-Masih adalah peringatan peristiwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Surga, sedangkan Mi'raj adalah peringatan peristiwa naiknya Nabi Muhammad ke langit untuk bertemu dengan Allah. Walaupun nampaknya hampir sama, namun sebenarnya memiliki hikmah yang berbeda.

Isra Mi ’raj

Walaupun Isra Mi’raj dirayakan secara bersamaan, namun sebenarnya Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Peristiwa pertama disebut “Isra”. Yaitu “diberangkatkannya” Muhammad oleh Allahnya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Para Muslim percaya di tempat ini Muhammad bertemu nabi-nabi sebelumnya, termasuk Isa Al-Masih. Dan Muhammad pun membimbing mereka dan menjadi imam utama dalam sholat. Peristiwa kedua disebut “Mi'raj”, yaitu “diangkatnya” Muhammad sampai ke langit sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Kendaraan yang ditumpanginya disebut hewan buraq. Pun orang Islam percaya, di sinilah Muhammad mendapat perintah dari Allah untuk menunaikan sholat lima waktu. Sebuah sumber berkata, sebelumnya Allah dan Muhammad saling tawar menawar, hingga akhirnya disepakati sholat dilakukan lima kali sehari. Akhirnya kedua peristiwa ini, dikenal dengan nama “Isra Mi'raj Nabi Muhammad”.

Al-Quran mencatat, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya … pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha … agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami …” (Qs 17:1). Tidak ada manusia yang menyaksikan peristiwa itu, namun umat Muslim percaya bahwa kesaksian Allah SWT sudah cukup, bahkan melebihi kesaksian manusia.

Bagi Muhammad, peristiwa Isra’ Mi’raj telah membawanya ke posisi yang paling tinggi untuk memahami betapa dahsyatnya ciptaan Allah SWT. Tujuannya untuk memotivasinya. Sebab sebelum Isra’ Mi’raj, dia berada pada titik terendah perjuangannya. Ia dijepit oleh orang kafir, diembargo secara ekonomi, kehilangan pamannya (Abi Thalib) dan istrinya (Khadijah) yang wafat. Ketika berharap memindahkan front syi’arnya ke kota Tha’if, penduduk kota itu malah melempari dia dengan batu sampai berdarah. Melalui Isra’ Miraj Allah SWT memulihkan semangatnya kembali, dan seolah-olah berkata:“Muhammad, engkau adalah utusan Allah.” Setahun kemudian dia bersama pengikutnya hijrah ke Madinah. Dari situ ia bersukses menaklukkan kota Mekkah.

Kenaikan Isa Al-Masih ke Sorga

Dalam Alkitab ditulis bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakan diri kepada para murid. Kemudian Ia membawa murid-murid-Nya sampai keluar kota dekat Betania. Sesudah Ia memberikan pesan dan memberkati mereka, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka (Luk 24: 46-53). Kenaikan Isa Al-Masih lebih mudah dipercayai, sebab disaksikan bukan saja oleh Allah, tetapi juga oleh murid-murid Isa.

Kenaikan Isa membuktikan bahwa Dia berasal dari sorga (Yohanes 3:13). Bagi umat-Nya, kenaikan Isa Al-Masih adalah jaminan masuk sorga. Firman-Nya, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah … kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku, banyak tempat tinggal … Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu … Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada,” (Yohanes 14:1-3). Dengan beriman kepada Isa Al-Masih, Anda akan mendapatkan sorga-Nya yang kekal.

Renungan singkat, bagi yang merayakan Hari Kenaikan Yesus:

Peristiwa kenaikan Tuhan dalam kemuliaan-Nya yang kita rayakan ini merupakan satu-kesatuan dengan peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya yang kita rayakan pada Pekan Suci, 40 hari yang lalu. Seluruh bacaan pertama menggambarkan bagaimana Yesus mendapatkan kemuliaan surgawi itu setelah menderita sengsara terlebih dahulu. “Setelah penderitaan-Nya selesai, Ia menampakkan diri kepada mereka (para rasul), dan dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup. Sebab, selama empat puluh hari, Ia menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada suatu hari ...terangkatlah Yesus disaksikan murid-murid-Nya” (Kis 1:3.9). Hal ini juga ditegaskan dalam Injil. “Sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada para murid ... Yesus membawa murid-murid itu ke luar kota sempai dekat Betania. Di situ, Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan, ketika sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga” (Luk 24:50-51).

Kiranya, pengalaman Yesus, yang sebelum mengalami kemuliaan abadi harus menderita terlebih dahulu ini, semakin menguatkan kita manakala kita juga harus mengalami penderitaan, entah apa pun bentuknya, dalam kehidupan kita di dunia ini. Pada saat menderita, kita jangan hanya berhenti untuk menatap dan merapati penderitaan itu, tetapi kita harus berani menatap Yesus yang tersalib, yang telah menderita untuk kita. Di atas salib, Ia merentangkan tangan-Nya, siap menyambut kita yang datang kepada-Nya sambil bersabda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Dengan demikian, kita pun akan dimampukan untuk memikul beban-beban penderitaan kita sekaligus dikuatkan dalam pengharapan akan kemuliaan yang akan datang setelah penderitaan itu terlewati. Kemuliaan Tuhan dan kenaikan-Nya ke surga memberikan harapan bagi kita bahwa kemuliaan surgawi itu juga disediakan bagi kita dan jalan ke sana telah dibuka oleh Kristus. Untuk itu, kita selalu diharapkan mengarahkan (pandangan) hidup kita ke surga. Mengarahkan hidup ke surga berarti kita tidak hanya berfokus, memikirkan dan mencari hal-hal duniawi saja tetapi lebih-lebih hal-hal surgawi.

Melalui Injil, kita pun disadarkan bahwa inti perayaan kenaikan Tuhan bukan hanya perpisahan yang meninggalkan berkat dan rasa sukacita, tetapi juga meninggalkan tugas perutusan. Injil menegaskan, sebelum Yesus memberikan berkat dan pada akhirnya terangkat ke surga, Ia terlebih dahulu memberikan pesan, yakni berupa tugas perutusan kepada para murid, agar memberitakan ke seluruh dunia mengenai karya keselamatan Allah yang harus ditanggapi dengan melakukan pertobatan dan menerima pengampunan dosa. Tetapi jangan lupa akan amanat Yesus sebelum perpisahan bersama murid-murid-Nya, Dia mengatakan bahwa tugas ini tidaklah gampang, karena harus menanggung banyak penderitaan. Tetapi percayalah, bahwa Dia yang mengutus kita, Dia pulalah yang akan membimbing kita. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar