ISRA’ MI’RAJ DALAM PERSPEKTIF DIALOG*) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

ISRA’ MI’RAJ DALAM PERSPEKTIF DIALOG*)

 


Dalam perspektif dialog antar agama, kita bisa menyimak dan memahami peristiwa Isra Mi’raj lebih dari aspek pengalaman keagamaan. Terlepas dari kebenaran historis dan teologis sebagaimana diyakini oleh kaum Muslim, umat Kristen hendaknya memahami peristiwa ini dalam alur visio apokaliptik seorang Nabi Allah yang bernama Muhammad (bdk. Q.53,13-14; Q.17,1-7; Q.70,1-3). Nabi Muhammad sedang mengalami tekanan persekusi dari orang sesukunya, Quraysh. Secara psikologis, khususnya psikologi keagamaan, sang Nabi tentu saja mendambakan keakraban atau kedekatan bahkan persatuan mesra dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya sebagai Nabi. Sedangkan dari aspek literer, kisah Isra’ dan Mi’raj pun akan lebih muda dipahami dan diterima bila dibaca dalam relasinya dengan genus literer apokaliptik yang umumnya terdapat dalam lingkup semitik. 
Genus literer serupa itu dijumpai pula dalam literatura biblis, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Misalnya, mimpi Yakob di Bethel bahwa di bumi terdapat sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit dan malaikat turun naik melewati tangga tersebut (Kej 28:10); penglihatan Yohanes di Pulau Patmos sebagaimana dikisahkan dalam kitab Wahyu; pengalaman Yesus di taman Getzemani (Mrk 14:26); penglihatan St. Stefanus bahwa langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah (Kis 7:54-56); penglihatan nabi Yeremia tentang dua keranjang buah ara (Yer 24:1-10).
Secara historis, memang sangat sulit dibuktikan pengalaman-pengalaman keagamaan itu, baik yang tersuratkan dalam Kitab Suci Quran, maupun dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita tidak memiliki data sejarah yang akurat tentang peristiwa-peristiwa itu, maka beberapa tokoh agama seperti Ibn Khaldun dan Tabari malah lebih memandang pengalaman Isra’ dan Mi’raj sebagai legenda murni. Lebih jauh dari itu, P. Baseti Sani, OFM, coba menyimak nilai rohani yang mirip antara pengalaman Isra’ dan Mi’raj Muhammad itu dengan pengalaman mistik dari St. Fransiskus Asisi di La Verna, waktu ia melihat seorang Serafin yang tersalib.

*)Dikutip dari: Dr. Philipus Tule, “Mengenal & Mencintai Muslim & Muslimat” (Maumere: Ledalero, 2008), pp. 60-61.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar