Dalam perspektif dialog antar agama, kita bisa menyimak dan memahami
peristiwa Isra Mi’raj lebih dari aspek pengalaman keagamaan. Terlepas
dari kebenaran historis dan teologis sebagaimana diyakini oleh kaum
Muslim, umat Kristen hendaknya memahami peristiwa ini dalam alur visio
apokaliptik seorang Nabi Allah yang bernama Muhammad (bdk. Q.53,13-14;
Q.17,1-7; Q.70,1-3). Nabi Muhammad sedang mengalami tekanan persekusi
dari orang sesukunya, Quraysh. Secara psikologis, khususnya psikologi
keagamaan, sang Nabi tentu saja mendambakan keakraban atau kedekatan
bahkan persatuan mesra dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya
sebagai Nabi. Sedangkan dari aspek literer, kisah Isra’ dan Mi’raj pun
akan lebih muda dipahami dan diterima bila dibaca dalam relasinya dengan
genus literer apokaliptik yang umumnya terdapat dalam lingkup semitik.
Genus literer serupa itu dijumpai pula dalam literatura biblis, baik
dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Misalnya, mimpi
Yakob di Bethel bahwa di bumi terdapat sebuah tangga yang ujungnya
sampai di langit dan malaikat turun naik melewati tangga tersebut (Kej
28:10); penglihatan Yohanes di Pulau Patmos sebagaimana dikisahkan dalam
kitab Wahyu; pengalaman Yesus di taman Getzemani (Mrk 14:26);
penglihatan St. Stefanus bahwa langit terbuka dan Anak Manusia berdiri
di sebelah kanan Allah (Kis 7:54-56); penglihatan nabi Yeremia tentang
dua keranjang buah ara (Yer 24:1-10).
Secara historis, memang sangat sulit dibuktikan pengalaman-pengalaman
keagamaan itu, baik yang tersuratkan dalam Kitab Suci Quran, maupun
dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita tidak memiliki
data sejarah yang akurat tentang peristiwa-peristiwa itu, maka beberapa
tokoh agama seperti Ibn Khaldun dan Tabari malah lebih memandang
pengalaman Isra’ dan Mi’raj sebagai legenda murni. Lebih jauh dari itu,
P. Baseti Sani, OFM, coba menyimak nilai rohani yang mirip antara
pengalaman Isra’ dan Mi’raj Muhammad itu dengan pengalaman mistik dari
St. Fransiskus Asisi di La Verna, waktu ia melihat seorang Serafin yang
tersalib.
*)Dikutip dari: Dr. Philipus Tule, “Mengenal & Mencintai Muslim & Muslimat” (Maumere: Ledalero, 2008), pp. 60-61.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar