Hendriko Dasriminocarm
...dengan
bercucuran AIR MATA, kami memohon kepada-Mu, sumber MATA AIR kehidupan:
“Berilah
kami AIR HIDUP itu, agar MATA AIR kami menjadi kering,
karena
kami telah hidup dari sumber MATA AIR yang tak pernah kering.
Kisah
percakapan Yesus bersama seorang perempuan Samaria, di satu pihak menunjukkan tujuan
kedatangan Yesus ke tengah dunia yakni untuk menuntun dan menghantar orang
pada kehidupan yang kekal, di lain pihak menunjukkan sebuah proses perjalanan iman.
Secara
garis besar kisah yang cukup panjang ini teringkas dalam tiga unsur penting
yang membentuk cerita, yakni: pertama, Yesus
menyatakan diri-Nya kepada perempuan Samaria; kedua, tanggapan perempuan Samaria dalam proses pewahyuan; ketiga, akibat dari pewahyuan.
Sangat
menarik bahwa pewahyuan pribadi Yesus terjadi secara bertahap. Melalui percakapan
dengan perempuan Samaria, Yesus secara tahap demi tahap menghantarnya pada pengakuan
tentang diri-Nya sebagai Juruselamat.
Pada tahap pertama, perempuan
itu hanya mengenal Yesus sebagai seorang Yahudi, tidak lebih dari itu. “Masakah
Engkau orang Yahudi, minta minum kepadaku seorang Samaria?” (ay 9). Percakapan berlanjut,
Yesus memberi sedikit petunjuk tentang diri-Nya sebagai air hidup. Perempuan itu
pun bertanya “Apakah Engkau lebih besar daripada bapa kami Yakub yang
memberikan sumur ini kepada kami...” (ay 12). Pada tahap ini Yesus menyatakan
diri sebagai pemberi air hidup.
Percakapan di siang bolong itu
berlanjut. Perempuan itu mengatakan bahwa dirinya tidak bersuami, ternyata
Yesus mengetahu apa yang sebenarnya. “Tepat katamu, bahwa engkau tidak
mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada padamu
sekarang, bukanlah suamimu” (ay 18). Maka perempuan itu mengakui bahwa Yesus
adalah seorang nabi karena Dia tahu rahasia yang ada dalam dirinya.
Terpesona dengan Yesus yang
mengetahui segala rahasia, perempuan itu akhirnya melanjutkan percakapan dengan
mengungkapkan gagasan tentang mesias. Yesus pun memperkenalkan diri-Nya sebagai
mesias itu. “Akulah Dia yang berkata-kata dengan engkau” (ay 26). Perempuan itu
pun akhirnya pergi ke kota dan memberitahukan bahwa ia bertemu dengan seorang
yang kemungkinan Dia adalah mesias. “Mungkin Dia Kristus itu?” (ay 29).
Puncak pewahyuan pribadi Yesus
terungkap di akhir cerita. Bukan hanya perempuan Samaria, tetapi semua orang
dalam kota itu mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat. “...Dialah benar-benar
Juruselamat dunia” (ay 42).
Dari kisah ini kita melihat
bahwa pewahyuan Yesus terjadi bukan sekali jadi, melainkan berkembang
perlahan-lahan dan bertahap. Proses perjalanan iman tidaklah muluk-muluk. Kadang
iman kita harus diuji dan dimurnikan dengan aneka tantangan dan cobaan. Tetapi
yakinlah bahwa iman yang kita miliki sekarang bukanlah bergerak dari ruang
kosong, melainkan dari apa yang ada dalam diri Yesus yang disempurnakan dari
waktu ke waktu. Tugas kita sekarang adalah apakah kita mau membuka hati dan
memberikan diri dituntun oleh Yesus.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar