MATA AIR-AIR MATA (Inspirasi Yoh 4:5-42) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

MATA AIR-AIR MATA (Inspirasi Yoh 4:5-42)

 


 Hendriko Dasriminocarm

...dengan bercucuran AIR MATA, kami memohon kepada-Mu, sumber MATA AIR kehidupan:
“Berilah kami AIR HIDUP itu, agar MATA AIR kami menjadi kering,
karena kami telah hidup dari sumber MATA AIR yang tak pernah kering.

                Kisah percakapan Yesus bersama seorang perempuan Samaria, di satu pihak menunjukkan tujuan kedatangan Yesus ke tengah dunia yakni untuk menuntun dan menghantar orang pada kehidupan yang kekal, di lain pihak menunjukkan sebuah proses perjalanan iman.
                Secara garis besar kisah yang cukup panjang ini teringkas dalam tiga unsur penting yang membentuk cerita, yakni: pertama, Yesus menyatakan diri-Nya kepada perempuan Samaria; kedua, tanggapan perempuan Samaria dalam proses pewahyuan; ketiga, akibat dari pewahyuan.
                Sangat menarik bahwa pewahyuan pribadi Yesus terjadi secara bertahap. Melalui percakapan dengan perempuan Samaria, Yesus secara tahap demi tahap menghantarnya pada pengakuan tentang diri-Nya sebagai Juruselamat.
Pada tahap pertama, perempuan itu hanya mengenal Yesus sebagai seorang Yahudi, tidak lebih dari itu. “Masakah Engkau orang Yahudi, minta minum kepadaku seorang Samaria?” (ay 9). Percakapan berlanjut, Yesus memberi sedikit petunjuk tentang diri-Nya sebagai air hidup. Perempuan itu pun bertanya “Apakah Engkau lebih besar daripada bapa kami Yakub yang memberikan sumur ini kepada kami...” (ay 12). Pada tahap ini Yesus menyatakan diri sebagai pemberi air hidup.
Percakapan di siang bolong itu berlanjut. Perempuan itu mengatakan bahwa dirinya tidak bersuami, ternyata Yesus mengetahu apa yang sebenarnya. “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada padamu sekarang, bukanlah suamimu” (ay 18). Maka perempuan itu mengakui bahwa Yesus adalah seorang nabi karena Dia tahu rahasia yang ada dalam dirinya.
Terpesona dengan Yesus yang mengetahui segala rahasia, perempuan itu akhirnya melanjutkan percakapan dengan mengungkapkan gagasan tentang mesias. Yesus pun memperkenalkan diri-Nya sebagai mesias itu. “Akulah Dia yang berkata-kata dengan engkau” (ay 26). Perempuan itu pun akhirnya pergi ke kota dan memberitahukan bahwa ia bertemu dengan seorang yang kemungkinan Dia adalah mesias. “Mungkin Dia Kristus itu?” (ay 29).
Puncak pewahyuan pribadi Yesus terungkap di akhir cerita. Bukan hanya perempuan Samaria, tetapi semua orang dalam kota itu mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat. “...Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (ay 42).
Dari kisah ini kita melihat bahwa pewahyuan Yesus terjadi bukan sekali jadi, melainkan berkembang perlahan-lahan dan bertahap. Proses perjalanan iman tidaklah muluk-muluk. Kadang iman kita harus diuji dan dimurnikan dengan aneka tantangan dan cobaan. Tetapi yakinlah bahwa iman yang kita miliki sekarang bukanlah bergerak dari ruang kosong, melainkan dari apa yang ada dalam diri Yesus yang disempurnakan dari waktu ke waktu. Tugas kita sekarang adalah apakah kita mau membuka hati dan memberikan diri dituntun oleh Yesus.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar