KETAKUTAN, KETAATAN, IMAN (Belajar dari St. Yusuf) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

KETAKUTAN, KETAATAN, IMAN (Belajar dari St. Yusuf)

 

 
 Oleh: Dasriminocarm
 
 
 
 
Tema ketakutan, ketaatan dan iman banyak dikatakan dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru. Banyak peristiwa panggilan yang diceriterakan dalam Kitab Suci, selalu disertai dengan cerita tentang keadaan jiwa batin seseorang yang dipanggil, yaitu ketakutan, ketaatan dan iman. Biasanya didahului dengan rasa takut. Nabi Yeremia begitu takut ketika ia dipanggil oleh Allah; sehingga terlontar kata: “Ah Tuhan, aku tidak pandai berbicara karena aku ini masih muda” (Yer 1:6). Satu pernyataan menolak, karena dia takut gagal menjadi Nabi yang harus pandai berbicara. Demikian pula kita temukan dalam panggilan beberapa Nabi lainnya seperti Musa, Yesaya, atau Yehezkiel.
 
Hal yang kurang lebih sama, diungkapkan juga dalam “panggilan Yusup”. Sebuah peristiwa yang menggoncangkan hati Yusuf serta mengacaukan seluruh rencana hidupnya. Yusup dipanggil untuk mengambil Maria sebagai isterinya; namun yang lebih tepat, Yusup dipanggil untuk menjadi “Bapa” bagi anak yang Maria lahirkan, anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Anak yang bukan “anaknya”.
 
Kita bisa bayangkan perasaan hati Yusup. Ini berat. Namun, reaksi Yusup, bahwa ia “Diam”. Tak ada kata-kata yang ia ucapkan sebagai ungkapan kekecewaan, ataupun ketakutan. Ia diam. Diam seorang beriman, diam seorang yang taat. Ia hanya ungkapkan dalam perbuatannya. “Ia berbuat apa yang diperintahkan oleh malaekat Tuhan”. Yusup seorang pribadi yang tulus hati, dalam arti bahwa ia mematuhi kehendak Allah. Sebab setelah menyadari bahwa Maria mengandung secara ajaib, ia menyadari bahwa Allah mempunyai suatu rencana istimewa terhadap Maria dan anaknya. Dengan ini kita melihat ada peralihan dari ketakutan mengarah kepada ketaatan, dan pada akhirnya beriman. 
 
Merenung tentang “pribadi Yusuf”, mengarahkan kita kepada aspek-aspek penting bahkan unsur penting dan mendasar dalam hidup panggilan kita. Ketakutan, ketaatan dan iman mewarnai seluruh hidup panggilan kita. Ketakutan, ketaatan dan iman, mengarahkan kita kepada penghayatan akan nilai hidup ini, mengarahkan kita kepada rasa tanggung jawab dan setia.
 
Mari kita memiliki hati yang terbuka pada panggilan ilahi. Panggilan untuk melayani, panggilan untuk mengabdi bagi Tuhan dan sesama. Hidup jangan hanya berorientasi untuk kepentingan diri sendiri, tetapi hendaknya memiliki hati yang terbuka bagi keselamatan dan kebahagiaan orang lain. St. Yusup doakanlah kami. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar