Oleh: Dasriminocarm
Tema ketakutan, ketaatan dan iman banyak dikatakan dalam Kitab Suci,
baik Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru. Banyak peristiwa panggilan
yang diceriterakan dalam Kitab Suci, selalu disertai dengan cerita
tentang keadaan jiwa batin seseorang yang dipanggil, yaitu ketakutan,
ketaatan dan iman. Biasanya didahului dengan rasa takut. Nabi Yeremia
begitu takut ketika ia dipanggil oleh Allah; sehingga terlontar kata:
“Ah Tuhan, aku tidak pandai berbicara karena aku ini masih muda” (Yer
1:6). Satu pernyataan menolak, karena dia takut gagal menjadi Nabi yang
harus pandai berbicara. Demikian pula kita temukan dalam panggilan
beberapa Nabi lainnya seperti Musa, Yesaya, atau Yehezkiel.
Hal yang kurang lebih sama, diungkapkan juga dalam “panggilan Yusup”.
Sebuah peristiwa yang menggoncangkan hati Yusuf serta mengacaukan
seluruh rencana hidupnya. Yusup dipanggil untuk mengambil Maria sebagai
isterinya; namun yang lebih tepat, Yusup dipanggil untuk menjadi “Bapa”
bagi anak yang Maria lahirkan, anak yang bukan darah dagingnya sendiri.
Anak yang bukan “anaknya”.
Kita bisa bayangkan perasaan hati Yusup. Ini berat. Namun, reaksi Yusup,
bahwa ia “Diam”. Tak ada kata-kata yang ia ucapkan sebagai ungkapan
kekecewaan, ataupun ketakutan. Ia diam. Diam seorang beriman, diam
seorang yang taat. Ia
hanya ungkapkan dalam perbuatannya. “Ia berbuat apa yang diperintahkan
oleh malaekat Tuhan”. Yusup seorang pribadi yang tulus hati, dalam arti
bahwa ia mematuhi kehendak Allah. Sebab setelah menyadari bahwa Maria
mengandung secara ajaib, ia menyadari bahwa Allah mempunyai suatu
rencana istimewa terhadap Maria dan anaknya. Dengan ini kita melihat ada
peralihan dari ketakutan mengarah kepada ketaatan, dan pada akhirnya
beriman.
Merenung tentang “pribadi Yusuf”, mengarahkan kita kepada aspek-aspek
penting bahkan unsur penting dan mendasar dalam hidup panggilan kita.
Ketakutan, ketaatan dan iman mewarnai seluruh hidup panggilan kita.
Ketakutan, ketaatan dan iman, mengarahkan kita kepada penghayatan akan
nilai hidup ini, mengarahkan kita kepada rasa tanggung jawab dan setia.
Mari kita memiliki hati yang terbuka pada panggilan ilahi. Panggilan
untuk melayani, panggilan untuk mengabdi bagi Tuhan dan sesama. Hidup
jangan hanya berorientasi untuk kepentingan diri sendiri, tetapi
hendaknya memiliki hati yang terbuka bagi keselamatan dan kebahagiaan
orang lain. St. Yusup doakanlah kami. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar