MINGGU PALMA: Antara Hosana & Salibkan Dia - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

MINGGU PALMA: Antara Hosana & Salibkan Dia

 

 
Dasriminocarm

 
Hari ini adalah hari pertama dalam pekan suci. Pada Hari Minggu Palma ini, kita mendengar dan merenungkan dalam Injil, kisah tentang masuknya Yesus ke kota Yerusalem. Ia masuk ibu kota tanah suci, dengan menunggang seekor keledai. Ia bukan naik kuda. Kuda adalah binatang untuk berperang. Kuda bagaikan takhta untuk para pembesar.Yesus malah, menunggang seekor keledai, yang menjadi lambang binatang damai, binatang yang dipakai oleh petani, rakyat kecil. Dan sungguh benar, Dia adalah Raja Damai.
 
Yesus merendahkan diri menjadi setingkat dengan keledai yang ditunggangi-Nya: rela dipukul dan ditendang, seperti biasanya orang perbuat terhadap keledai. Relah difitnah, diejek, didera, dimakotai duri dan disalibkan.
Kisah ini memberi inspirasi bagi kita untuk menjadi pembawa damai bagi sesama. Kita pun diajak untuk selalu rendah hati dan bersedia menjadi “alat” yang akan digunakan Tuhan untuk menjadi pelayannya. Sebenarnya kita tidak pantas, tetapi karena “Tuhan memerlukannya”. Tuhan memerlukan orang yang rendah hati. 
 
Bacaan Kitab Suci kemudian menampilkan suatu peralihan. Orang-orang yang tadinya dengan antusias menyambut Yesus, dengan berteriak “hosana”, kemudian dengan ganas berbalik menuntut kematian Yesus "Salibkan Dia...Salibkan Dia". Suasana berubah, dari suasana gembira menjadi suasana duka, menyedihkan. Itulah makna liturgis dari perayaan Minggu Palma; Dimulai dengan karakter ritual yang penuh kegembiraan. Kemudian dilanjutkan dengan kisah sengsara-Nya. Dua aspek liturgi sekaligus berpadu dalam satu perayaan yang merupakan karakter dasar misteri paskah, yakni; penderitaan dan kemuliaan. Jadi Minggu Palma merupakan paduan dari dua perasaan kegembiraan dan kesedihan. 
 
Yesus memasuki Yerusalem tidak untuk menerima penghargaan seperti raja-raja di bumi atau para penguasa: Ia masuk untuk dicambuk, dihina dan dilecehkan, sebagaimana yang dinubuatkan Yesaya dalam Bacaan Pertama. Yesus masuk ke Yerusalem untuk mati di kayu salib. Keputusan Yesus memasuki Yerusalem adalah untuk meneguhkan komitmen diri-Nya menjadi penyelamat dunia. Dia harus mewujudkan kesetiaan pada perutusan-Nya. 
 
Kisah sengsara memperlihatkan bahwa palma kemenangan dan salib penderitaan bukanlah suatu pertentangan atau kontradiksi. Di sinilah letak intisari atau jantung hati misteri, yang diwartakan kepada kita selama Pekan Suci ini! Yesus merelakan diri untuk menderita, demi kesematan manusia. Penderitaan yang membawa kemenangan.
 
Kita diajak, bila kita ingin hidup mengikuti jalan Yesus, kita harus mau dan bersedia berbuat baik untuk kepentingan orang lain. Paulus memberi nasihat, agar kita mau mengosongkan diri kita dan mengambil rupa seorang hamba. Kita hendaknya bersedia mengosongkan diri seperti Kristus, menghilangkan segala perhitungan dan perasaan kita dan menggantinya dengan kehendak Tuhan sendiri.
 
Link: https://youtu.be/z07T8oRsGYs 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar