Dasriminocarm
Hari
ini adalah hari pertama dalam pekan suci. Pada Hari Minggu Palma ini,
kita mendengar dan merenungkan dalam Injil, kisah tentang masuknya Yesus
ke kota Yerusalem. Ia masuk ibu kota tanah suci, dengan menunggang
seekor keledai. Ia bukan naik kuda. Kuda adalah binatang untuk
berperang. Kuda bagaikan takhta untuk para pembesar.Yesus malah,
menunggang seekor keledai, yang menjadi lambang binatang damai, binatang
yang dipakai oleh petani, rakyat kecil. Dan sungguh benar, Dia adalah
Raja Damai.
Yesus
merendahkan diri menjadi setingkat dengan keledai yang ditunggangi-Nya:
rela dipukul dan ditendang, seperti biasanya orang perbuat terhadap
keledai. Relah difitnah, diejek, didera, dimakotai duri dan disalibkan.
Kisah
ini memberi inspirasi bagi kita untuk menjadi pembawa damai bagi
sesama. Kita pun diajak untuk selalu rendah hati dan bersedia menjadi
“alat” yang akan digunakan Tuhan untuk menjadi pelayannya. Sebenarnya
kita tidak pantas, tetapi karena “Tuhan memerlukannya”. Tuhan memerlukan
orang yang rendah hati.
Bacaan
Kitab Suci kemudian menampilkan suatu peralihan. Orang-orang yang
tadinya dengan antusias menyambut Yesus, dengan berteriak “hosana”,
kemudian dengan ganas berbalik menuntut kematian Yesus "Salibkan
Dia...Salibkan Dia". Suasana berubah, dari suasana gembira menjadi
suasana duka, menyedihkan. Itulah makna liturgis dari perayaan Minggu
Palma; Dimulai dengan karakter ritual yang penuh kegembiraan. Kemudian
dilanjutkan dengan kisah sengsara-Nya. Dua aspek liturgi sekaligus
berpadu dalam satu perayaan yang merupakan karakter dasar misteri
paskah, yakni; penderitaan dan kemuliaan. Jadi Minggu Palma merupakan
paduan dari dua perasaan kegembiraan dan kesedihan.
Yesus
memasuki Yerusalem tidak untuk menerima penghargaan seperti raja-raja
di bumi atau para penguasa: Ia masuk untuk dicambuk, dihina dan
dilecehkan, sebagaimana yang dinubuatkan Yesaya dalam Bacaan Pertama.
Yesus masuk ke Yerusalem untuk mati di kayu salib. Keputusan Yesus
memasuki Yerusalem adalah untuk meneguhkan komitmen diri-Nya menjadi
penyelamat dunia. Dia harus mewujudkan kesetiaan pada perutusan-Nya.
Kisah
sengsara memperlihatkan bahwa palma kemenangan dan salib penderitaan
bukanlah suatu pertentangan atau kontradiksi. Di sinilah letak intisari
atau jantung hati misteri, yang diwartakan kepada kita selama Pekan Suci
ini! Yesus merelakan diri untuk menderita, demi kesematan manusia.
Penderitaan yang membawa kemenangan.
Kita
diajak, bila kita ingin hidup mengikuti jalan Yesus, kita harus mau dan
bersedia berbuat baik untuk kepentingan orang lain. Paulus memberi
nasihat, agar kita mau mengosongkan diri kita dan mengambil rupa seorang
hamba. Kita hendaknya bersedia mengosongkan diri seperti Kristus,
menghilangkan segala perhitungan dan perasaan kita dan menggantinya
dengan kehendak Tuhan sendiri.
Link: https://youtu.be/z07T8oRsGYs


Tidak ada komentar:
Posting Komentar