Inspirasi: Luk 1:26-38
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya
Kabar Sukacita. Perayaan ini sangat berkaitan dengan peristiwa Maria menerima
kabar gembira dari Tuhan melalui Malaikat Gabriel. Isi kabar gembira itu adalah
Maria akan mengandung dan melahirkan Yesus, Sang Juruselamat. Yesus akan
menjadi kepenuhan janji Allah atas umat-Nya. Dalam peristiwa kegembiraan ini,
Maria menjadi tokoh iman yang sangat penting dalam sepanjang sejarah
keselamatan yang dikerjakan oleh Allah.
Isi dari Kabar Sukacita itu adalah warta akan kedatangan Sang
Penebus, Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam keseluruhan sejarah umat manusia,
kedatangan Tuhan memang telah dinanti-nantikan. Maria, seorang gadis desa yang
bersahaja dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda Sang Penebus. Injil Hari Raya
Kabar Sukacita (Luk 1:26-38) mengisahkan bagaimana warta ini disampaikan kepada
Maria. Kisahnya serba mengejutkan bagi Maria. Apa yang sedang terjadi
sepertinya di luar pemahaman dan jangkauan pikiran Maria. Maria harus
mengandung padahal ia belum bersuami. Anak yang dikandungnya akan disebut Putra
Allah yang mahatinggi. Malaikat Gabriel menantikan jawaban Maria.
Syukur kepada Allah, Maria menjawab "ya" atas panggilan dan pilihan
ini. Itu berarti, Maria memenuhi nubuat nabi Yesaya pada bacaan pertama hari
ini (Yes 7:10-14;8:10).
Maria menerima rahmat dan sekaligus
panggilan menjadi Ibu Penyelamat, Bunda Allah. Rahmat dan panggilan iman ini
sesuatu yang menggembirakan bagi Maria. Ini menandakan betapa dia adalah wanita
yang pantas di hadapan Allah. Dalam menerima kegembiraan ini, Maria tidak lepas
dari situasi ketakutan dan kekuatiran. Dia diliputi oleh banyak pertanyaan.
Tetapi, dia adalah sungguh orang yang beriman. Dia berani terbuka terhadap
rencana Allah. Dia berani menerima dan menjalani apa yang belum pasti dan jelas
bagi dia sebagai manusia. Dia berani pasrah. Dia berani berharap! Keberanian
ini lahir dari sebuah keyakinan bahwa dia adalah hamba Tuhan. Sebagai
hamba-Nya, Tuhan akan menyertai dan melindunginya. Keberanian Maria terwujud
dalam kesetiaannya mendampingi Yesus hingga di kaki salib.
Seluruh perjalanan hidup Maria dalam
menanggapi karya keselamatan Allah adalah sebuah model iman yang seharusnya
kita teladani sebagai orang beriman. Sebagaimana Maria, kita hendaknya
berani menanggapi kehendak Allah yang tidak selalu jelas dan pasti bagi kita.
Kalau melihat kembali sejarah iman kita, kita akan tahu bahwa betapa kita kadang
jauh dari keteladanan iman Maria. Kita menutup hati terhadap rencana
Tuhan dan memaksa Tuhan melaksanakan kehendak kita. Kita lari dari salib-salib
yang harus kita terima. Mari kita menjadikan Maria sebagai model iman kita! Marilah kita meneladan Maria, yang senantiasa
menghayati diri sebagai hamba Allah serta membiarkan perintah dan sabda Allah
terwujud dalam dirinya. Mari kita berani berkata seperti dia: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan,
terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar