KABAR SUKACITA - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

KABAR SUKACITA

 

Inspirasi: Luk 1:26-38

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Perayaan ini sangat berkaitan dengan peristiwa Maria menerima kabar gembira dari Tuhan melalui Malaikat Gabriel. Isi kabar gembira itu adalah Maria akan mengandung dan melahirkan Yesus, Sang Juruselamat. Yesus akan menjadi kepenuhan janji Allah atas umat-Nya. Dalam peristiwa kegembiraan ini, Maria menjadi tokoh iman yang sangat penting dalam sepanjang sejarah keselamatan yang dikerjakan oleh Allah.
Isi dari Kabar Sukacita itu adalah warta akan kedatangan Sang Penebus, Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam keseluruhan sejarah umat manusia, kedatangan Tuhan memang telah dinanti-nantikan. Maria, seorang gadis desa yang bersahaja dipilih oleh Allah untuk menjadi Bunda Sang Penebus. Injil Hari Raya Kabar Sukacita (Luk 1:26-38) mengisahkan bagaimana warta ini disampaikan kepada Maria. Kisahnya serba mengejutkan bagi Maria. Apa yang sedang terjadi sepertinya di luar pemahaman dan jangkauan pikiran Maria. Maria harus mengandung padahal ia belum bersuami. Anak yang dikandungnya akan disebut Putra Allah yang mahatinggi. Malaikat Gabriel menantikan jawaban Maria. Syukur kepada Allah, Maria menjawab "ya" atas panggilan dan pilihan ini. Itu berarti, Maria memenuhi nubuat nabi Yesaya pada bacaan pertama hari ini (Yes 7:10-14;8:10).
Maria menerima rahmat dan sekaligus panggilan menjadi Ibu Penyelamat, Bunda Allah. Rahmat dan panggilan iman ini sesuatu yang menggembirakan bagi Maria. Ini menandakan betapa dia adalah wanita yang pantas di hadapan Allah. Dalam menerima kegembiraan ini, Maria tidak lepas dari situasi ketakutan dan kekuatiran. Dia diliputi oleh banyak pertanyaan. Tetapi, dia adalah sungguh orang yang beriman. Dia berani terbuka terhadap rencana Allah. Dia berani menerima dan menjalani apa yang belum pasti dan jelas bagi dia sebagai manusia. Dia berani pasrah. Dia berani berharap! Keberanian ini lahir dari sebuah keyakinan bahwa dia adalah hamba Tuhan. Sebagai hamba-Nya, Tuhan akan menyertai dan melindunginya. Keberanian Maria terwujud dalam kesetiaannya mendampingi Yesus hingga di kaki salib.
Seluruh perjalanan hidup Maria dalam menanggapi karya keselamatan Allah adalah sebuah model iman yang seharusnya kita teladani sebagai orang beriman. Sebagaimana Maria, kita hendaknya berani menanggapi kehendak Allah yang tidak selalu jelas dan pasti bagi kita. Kalau melihat kembali sejarah iman kita, kita akan tahu bahwa betapa kita kadang jauh dari keteladanan iman Maria. Kita menutup hati terhadap rencana Tuhan dan memaksa Tuhan melaksanakan kehendak kita. Kita lari dari salib-salib yang harus kita terima. Mari kita menjadikan Maria sebagai model iman kita! Marilah kita meneladan Maria, yang senantiasa menghayati diri sebagai hamba Allah serta membiarkan perintah dan sabda Allah terwujud dalam dirinya. Mari kita berani berkata seperti dia: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar