Salah satu dari sekian banyak bentuk simbol adat yang dikenal dalam
struktur masyarakat berbudaya adalah belis. Ada beberapa istilah
universal yang dipakai untuk menjelaskan makna belis. Belis dalam bahasa
Inggris disebut brideprice atau bridewealth. Kedua istilah ini sering
menimbulkan kontroversi di kalangan antropolog. Evans-Pritchard
menjelaskan bahwa term brideprice tidak tepat sasar untuk menjelaskan
arti belis yang orisinal. Term brideprice berkonotasi negatif karena
mengandung makna menjual dan membeli perempuan dengan kisaran harga
tertentu. Logika ekonomi menjadi dasar untuk memaknai belis.
Konsekuensinya, harga diri seorang perempuan dapat dinilai dan
disubstitusikan dengan binatang, barang atau sejumlah uang. Karena
maknanya yang terlalu ekonomis, maka term brideprice tidak adekuat untuk
menjelaskan makna belis secara komperhensif. Istilah yang tepat untuk
menjelaskan arti belis adalah bridewealth. Bridewealth dipandang sebagai
istilah yang memiliki nuansa positif terhadap pengafirmasian status
perempuan. Bridewealth bukanlah membeli dan menjual perempuan tetapi
lebih sebagai kompensasi untuk kehilangan seorang perempuan dari
tengah-tengah keluarga dan klannya.
Senada dengan Evans-Pritchard, Roger M. Keesing menjelaskan bahwa
istilah yang lebih cocok untuk belis adalah bridewealth karena adanya
perhatian yang langsung terhadap pemindahan hak atas pribadi perempuan,
bukan pemindahan atas tubuhnya. Bridewealth mengandung arti positif
karena sejumlah properti (binatang dan uang) yang diberikan oleh
keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan yang kemudian menjadi
kompensasi atas kehilangan seorang perempuan dari tengah-tengah keluarga
atau klan; bukannya harga yang harus dibayar, tetapi lebih sebagai
jaminan untuk kesejahteraan anak perempuan terutama bagi kedua orang tua
yang telah membesarkannya.
Belis sebagai entitas kultural yang bersifat universal memiliki makna
khas dalam hubungan dengan sistem perkawinan. Legalitas institusi
perkawinan tak dapat dipikirkan dan dibentuk tanpa belis karena belis
dapat dipahami hanya dalam relasi dengan terbentuknya institusi
perkawinan. Sulit dibayangkan pembicaraan dan pemahaman tentang belis
tanpa perkawinan. Antropolog Emile Torday memandang belis sebagai sebuah
metode untuk mensahkan sebuah perkawinan. Belis merupakan sebuah bentuk
ungkapan terima kasih secara publik oleh keluarga laki-laki atas
keuntungan yang telah mereka terima dari keluarga perempuan khususnya
karena kesuburan dari pengantin perempuan sekaligus peran keibuannya
bagi anak-anak yang kelak ia dapatkan di dalam hidup perkawinannya.
Belis merupakan bukti konkret persatuan yang legal dari sebuah
perkawinan.
Berhubungan dengan hal ini, karya besar Mauss, The Gift (1950/1990),
tentang belis dapat menerangkan secara fundamental tentang aktivitas
pemberian belis dan pembalasannya. Berdasarkan analisisnya dalam suatu
studi perbandingan masyarakat yang berbeda dan dengan menggunakan
pendekatan secara menyeluruh tentang fenomena sosial, Mauss mengatakan
bahwa ada banyak institusi atau lembaga yang memiliki kesamaan ekspresi
dari belis yakni agama, moral, ekonomi dan lain-lain. Mauss juga
mengatakan bahwa ada tiga aktivitas dalam belis yakni memberi, menerima
dan membalas. Kegagalan untuk memberi, menerima dan membalas belis
berarti suatu kehilangan martabat. Itulah sebabnya mengapa belis
diadakan di antara klan, antara keluarga dan antara generasi dalam suatu
lingkaran timbal balik. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak hanya
meliputi penukaran barang-barang material seperti kekayaan,
barang-barang ekonomi, perlengkapan dan perhiasan pribadi dan tanah,
tetapi juga meliputi hal-hal yang bukan material seperti kehormatan,
ritual dan bahkan perempuan dan anak-anak dalam hal-hal tertentu.
Belis dan balasannya sebenarnya dapat dilihat sebagai perayaan
perjumpaan dan saling memberi antara kedua belah pihak (bridewealth
& counter-gift). Pihak laki-laki (wife taker) berusaha untuk
mendapatkan gadis dengan mengantar belis kepada pihak perempuan (wife
giver) sehingga gadis masuk anggota keluarga dan suku laki-laki.
Laki-laki mencari tambatan hatinya, menemukan, mengakui, dan
mempertanggungjawabkannya kepada keluarga perempuan melalui pemberian
belis (gift). Namun sebaliknya, keluarga perempuan harus memberikan
balasan kepada keluarga laki-laki (counter-gift). Dengan demikian, belis
semestinya mendapat tempat istimewa demi mengukuhkan relasi timbal
balik di antara kedua keluarga.
Belis (bridewealth) merupakan sejumlah harta kekayaan yang
diserahkan oleh keluarga pihak lelaki kepada keluarga pihak perempuan
sebagai syarat bagi mereka untuk memperoleh hak atas gadis dari pihak
perempuan. Dalam arti yang lebih luas termasuk harta yang diberikan
pihak wanita sebagai imbalan atas pemberian pihak laki-laki. Dengan
demikian belis dipandang sebagai tindakan memberi (giving), menerima
(receiving), dan membalas (reciprocating) antara kedua keluarga
perempuan dan laki-laki sepanjang masa.
Belis menjadi tanda bahwa perempuan tidak begitu saja masuk ke dalam
suku suaminya. Perempuan mesti dihargai. Pihak lelaki mesti menyerahkan
sejumlah uang, barang dan hewan untuk meresmikan masuknya sang perempuan
ke suku mereka. Belis dalam hal ini bertujuan untuk menghargai martabat
kaum perempuan. Selain itu belis juga bertujuan menghindari perceraian
dan poligami. Dengan adanya belis seorang laki-laki merasa bahwa
istrinya adalah bagian dari hidupnya seumur hidup. Sebaliknya perempuan
akan menginsyafi bahwa laki-laki yang menjadi suaminya telah
mengorbankan sesuatu untuk dapat hidup bersamanya sepanjang hidupnya.
Belis juga menjadi sumber persatuan antara dua suku dan keluarga yang
berbeda. Dengan memberi dan menerima belis, kedua suku dan keluarga
resmi memiliki pertalian kekerabatan. Simbol relasi kekerabatan ini
semakin tampak dengan adanya pemberian dari pihak keluarga lelaki dan
balasan dari pihak keluarga perempuan.
Selain sebagai simbol relasi suami-istri dan pertalian kekerabatan suku
atau keluarga, belis juga merupakan simbol penghargaan terhadap nilai
luhur perkawinan. Setelah perkawinan, seseorang akan mendapat status
sosial yang baru, sebagai suami dan istri serta sebagai ayah dan ibu.
Walaupun belis memiliki makna simbolis yang begitu tinggi dan
mulia, namun dewasa ini muncul pula berbagai tudingan atau opini yang
berkembang di dalam masyarakat bahwa struktur budaya atau tradisi
dianggap mempunyai kontribusi besar di dalam menciptakan kebobrokan
dalam institusi perkawinan dan kehidupan keluarga.
Belis sebagai sebuah simbol nilai martabat seorang manusia telah
mengalami pergeseran makna bahkan sedang mengarah kepada proses
kematiannya. Dari realitas yang terjadi dewasa ini, terungkap pula
distorsi adat belis yang pada hakikatnya masih menyimpan keluhuran nilai
dan makna itu. Belis yang sejatinya adalah bentuk penghargaan terhadap
perempuan dan terhadap relasi kekeluargaan serta keluhuran nilai
perkawinan, ternyata jauh dari apa yang diharapkan.
Kematian atau melunturnya makna simbolis ini nyata dalam cara pandang
dan berpikir masyarakat setempat.
Dewasa ini belis telah direduksi menjadi ajang yang menunjukkan
keberadaan seseorang. Belis tidak lagi mengandung arti simbolis, sebagai
pengikat dan pengukuh hubungan antara pemuda dan pemudi serta keluarga
kedua belah pihak, melainkan telah dijadikan sebagai lambang status
sosial. Belis telah menjadi "pasar gengsi" atau medan percaturan
prestise. Artinya, makin besar belis yang dibawa, reputasi seseorang
semakin meningkat.
Reduksi nilai belis ini mengakibatkan hilangnya penghargaan
terhadap manusia yang adalah subyek atas belis itu sendiri. Nilai
manusia dinomorduakan sementara harta benda diutamakan.
Fenomena merosotnya nilai simbolis belis ini menjadi penyebab mengapa
zaman ini belis dinilai sebagai sesuatu yang negatif. Di sini dapat
ditemukan sebab terdalam mengapa belis dipandang sebagai salah satu
unsur adat yang menghalang-halangi laju pembangunan.
Sebagai konsekuensi lanjut dari pergeseran makna belis ini, dapat
ditemukan bahwa dewasa ini ada banyak pasangan yang menempuh jalan pintas.
Orang bahkan melihat belis sebagai beban yang perlu dihindari.
Komersialisasi belis telah mengubah makna belis yang sejatinya sebagai
bentuk apresiasi atau penghargaan terhadap martabat manusia justru
sebaliknya menjadi penyebab pelanggaran martabat manusia.
Kekerasan terhadap wanita dalam rumah tangga dipandang sebagai suatu hal
yang biasa karena wanita telah "dibayar" dengan belis. Nilai
kemanusiaan seorang wanita diabaikan karena telah “dibayar tuntas”.
Sebaliknya jika pihak lelaki yang karena belum mampu melunasi belis,
diperlakukan sebagai "hamba" dan hal itu dapat menurunkan status
sosialnya dalam masyarakat. Martabat manusia disepelekan karena tuntutan
belis, padahal belis itu sendiri lahir sebagai suatu bentuk penghargaan
dan penghormatan terhadap martabat manusia.
*) Tulisan sederhana saya ini, merupakan sepenggal dari isi Tesis saya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar