BELIS MAUMERE (Sebuah Catatan Kritis) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

BELIS MAUMERE (Sebuah Catatan Kritis)

 

 

Salah satu dari sekian banyak bentuk simbol adat yang dikenal dalam struktur masyarakat berbudaya adalah belis. Ada beberapa istilah universal yang dipakai untuk menjelaskan makna belis. Belis dalam bahasa Inggris disebut brideprice atau bridewealth. Kedua istilah ini sering menimbulkan kontroversi di kalangan antropolog. Evans-Pritchard menjelaskan bahwa term brideprice tidak tepat sasar untuk menjelaskan arti belis yang orisinal. Term brideprice berkonotasi negatif karena mengandung makna menjual dan membeli perempuan dengan kisaran harga tertentu. Logika ekonomi menjadi dasar untuk memaknai belis. Konsekuensinya, harga diri seorang perempuan dapat dinilai dan disubstitusikan dengan binatang, barang atau sejumlah uang. Karena maknanya yang terlalu ekonomis, maka term brideprice tidak adekuat untuk menjelaskan makna belis secara komperhensif. Istilah yang tepat untuk menjelaskan arti belis adalah bridewealth. Bridewealth dipandang sebagai istilah yang memiliki nuansa positif terhadap pengafirmasian status perempuan. Bridewealth bukanlah membeli dan menjual perempuan tetapi lebih sebagai kompensasi untuk kehilangan seorang perempuan dari tengah-tengah keluarga dan klannya. 

Senada dengan Evans-Pritchard, Roger M. Keesing menjelaskan bahwa istilah yang lebih cocok untuk belis adalah bridewealth karena adanya perhatian yang langsung terhadap pemindahan hak atas pribadi perempuan, bukan pemindahan atas tubuhnya. Bridewealth mengandung arti positif karena sejumlah properti (binatang dan uang) yang diberikan oleh keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan yang kemudian menjadi kompensasi atas kehilangan seorang perempuan dari tengah-tengah keluarga atau klan; bukannya harga yang harus dibayar, tetapi lebih sebagai jaminan untuk kesejahteraan anak perempuan terutama bagi kedua orang tua yang telah membesarkannya. 

Belis sebagai entitas kultural yang bersifat universal memiliki makna khas dalam hubungan dengan sistem perkawinan. Legalitas institusi perkawinan tak dapat dipikirkan dan dibentuk tanpa belis karena belis dapat dipahami hanya dalam relasi dengan terbentuknya institusi perkawinan. Sulit dibayangkan pembicaraan dan pemahaman tentang belis tanpa perkawinan. Antropolog Emile Torday memandang belis sebagai sebuah metode untuk mensahkan sebuah perkawinan. Belis merupakan sebuah bentuk ungkapan terima kasih secara publik oleh keluarga laki-laki atas keuntungan yang telah mereka terima dari keluarga perempuan khususnya karena kesuburan dari pengantin perempuan sekaligus peran keibuannya bagi anak-anak yang kelak ia dapatkan di dalam hidup perkawinannya. Belis merupakan bukti konkret persatuan yang legal dari sebuah perkawinan. 

Berhubungan dengan hal ini, karya besar Mauss, The Gift (1950/1990), tentang belis dapat menerangkan secara fundamental tentang aktivitas pemberian belis dan pembalasannya. Berdasarkan analisisnya dalam suatu studi perbandingan masyarakat yang berbeda dan dengan menggunakan pendekatan secara menyeluruh tentang fenomena sosial, Mauss mengatakan bahwa ada banyak institusi atau lembaga yang memiliki kesamaan ekspresi dari belis yakni agama, moral, ekonomi dan lain-lain. Mauss juga mengatakan bahwa ada tiga aktivitas dalam belis yakni memberi, menerima dan membalas. Kegagalan untuk memberi, menerima dan membalas belis berarti suatu kehilangan martabat. Itulah sebabnya mengapa belis diadakan di antara klan, antara keluarga dan antara generasi dalam suatu lingkaran timbal balik. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak hanya meliputi penukaran barang-barang material seperti kekayaan, barang-barang ekonomi, perlengkapan dan perhiasan pribadi dan tanah, tetapi juga meliputi hal-hal yang bukan material seperti kehormatan, ritual dan bahkan perempuan dan anak-anak dalam hal-hal tertentu. 

Belis dan balasannya sebenarnya dapat dilihat sebagai perayaan perjumpaan dan saling memberi antara kedua belah pihak (bridewealth & counter-gift). Pihak laki-laki (wife taker) berusaha untuk mendapatkan gadis dengan mengantar belis kepada pihak perempuan (wife giver) sehingga gadis masuk anggota keluarga dan suku laki-laki. Laki-laki mencari tambatan hatinya, menemukan, mengakui, dan mempertanggungjawabkannya kepada keluarga perempuan melalui pemberian belis (gift). Namun sebaliknya, keluarga perempuan harus memberikan balasan kepada keluarga laki-laki (counter-gift). Dengan demikian, belis semestinya mendapat tempat istimewa demi mengukuhkan relasi timbal balik di antara kedua keluarga. Belis (bridewealth) merupakan sejumlah harta kekayaan yang diserahkan oleh keluarga pihak lelaki kepada keluarga pihak perempuan sebagai syarat bagi mereka untuk memperoleh hak atas gadis dari pihak perempuan. Dalam arti yang lebih luas termasuk harta yang diberikan pihak wanita sebagai imbalan atas pemberian pihak laki-laki. Dengan demikian belis dipandang sebagai tindakan memberi (giving), menerima (receiving), dan membalas (reciprocating) antara kedua keluarga perempuan dan laki-laki sepanjang masa. 

Belis menjadi tanda bahwa perempuan tidak begitu saja masuk ke dalam suku suaminya. Perempuan mesti dihargai. Pihak lelaki mesti menyerahkan sejumlah uang, barang dan hewan untuk meresmikan masuknya sang perempuan ke suku mereka. Belis dalam hal ini bertujuan untuk menghargai martabat kaum perempuan. Selain itu belis juga bertujuan menghindari perceraian dan poligami. Dengan adanya belis seorang laki-laki merasa bahwa istrinya adalah bagian dari hidupnya seumur hidup. Sebaliknya perempuan akan menginsyafi bahwa laki-laki yang menjadi suaminya telah mengorbankan sesuatu untuk dapat hidup bersamanya sepanjang hidupnya. Belis juga menjadi sumber persatuan antara dua suku dan keluarga yang berbeda. Dengan memberi dan menerima belis, kedua suku dan keluarga resmi memiliki pertalian kekerabatan. Simbol relasi kekerabatan ini semakin tampak dengan adanya pemberian dari pihak keluarga lelaki dan balasan dari pihak keluarga perempuan. 

Selain sebagai simbol relasi suami-istri dan pertalian kekerabatan suku atau keluarga, belis juga merupakan simbol penghargaan terhadap nilai luhur perkawinan. Setelah perkawinan, seseorang akan mendapat status sosial yang baru, sebagai suami dan istri serta sebagai ayah dan ibu. Walaupun belis memiliki makna simbolis yang begitu tinggi dan mulia, namun dewasa ini muncul pula berbagai tudingan atau opini yang berkembang di dalam masyarakat bahwa struktur budaya atau tradisi dianggap mempunyai kontribusi besar di dalam menciptakan kebobrokan dalam institusi perkawinan dan kehidupan keluarga. Belis sebagai sebuah simbol nilai martabat seorang manusia telah mengalami pergeseran makna bahkan sedang mengarah kepada proses kematiannya. Dari realitas yang terjadi dewasa ini, terungkap pula distorsi adat belis yang pada hakikatnya masih menyimpan keluhuran nilai dan makna itu. Belis yang sejatinya adalah bentuk penghargaan terhadap perempuan dan terhadap relasi kekeluargaan serta keluhuran nilai perkawinan, ternyata jauh dari apa yang diharapkan. Kematian atau melunturnya makna simbolis ini nyata dalam cara pandang dan berpikir masyarakat setempat. 

Dewasa ini belis telah direduksi menjadi ajang yang menunjukkan keberadaan seseorang. Belis tidak lagi mengandung arti simbolis, sebagai pengikat dan pengukuh hubungan antara pemuda dan pemudi serta keluarga kedua belah pihak, melainkan telah dijadikan sebagai lambang status sosial. Belis telah menjadi "pasar gengsi" atau medan percaturan prestise. Artinya, makin besar belis yang dibawa, reputasi seseorang semakin meningkat. Reduksi nilai belis ini mengakibatkan hilangnya penghargaan terhadap manusia yang adalah subyek atas belis itu sendiri. Nilai manusia dinomorduakan sementara harta benda diutamakan. 

Fenomena merosotnya nilai simbolis belis ini menjadi penyebab mengapa zaman ini belis dinilai sebagai sesuatu yang negatif. Di sini dapat ditemukan sebab terdalam mengapa belis dipandang sebagai salah satu unsur adat yang menghalang-halangi laju pembangunan. Sebagai konsekuensi lanjut dari pergeseran makna belis ini, dapat ditemukan bahwa dewasa ini ada banyak pasangan yang menempuh jalan pintas. Orang bahkan melihat belis sebagai beban yang perlu dihindari. Komersialisasi belis telah mengubah makna belis yang sejatinya sebagai bentuk apresiasi atau penghargaan terhadap martabat manusia justru sebaliknya menjadi penyebab pelanggaran martabat manusia. 

Kekerasan terhadap wanita dalam rumah tangga dipandang sebagai suatu hal yang biasa karena wanita telah "dibayar" dengan belis. Nilai kemanusiaan seorang wanita diabaikan karena telah “dibayar tuntas”. Sebaliknya jika pihak lelaki yang karena belum mampu melunasi belis, diperlakukan sebagai "hamba" dan hal itu dapat menurunkan status sosialnya dalam masyarakat. Martabat manusia disepelekan karena tuntutan belis, padahal belis itu sendiri lahir sebagai suatu bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap martabat manusia. 
*) Tulisan sederhana saya ini, merupakan sepenggal dari isi Tesis saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar