Kampung
Hokor terletak di wilayah selatan Kabupaten Sikka, berjarak ± 39 Kilo Meter
(Km) dari Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Batas-batas wilayahnya sebagai
berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Teka Iku (Kecamatan Kangae) dan
Desa Nele Wutun (Kecamatan Nele), sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Sawu,
sebelah Timur berbatasan dengan Desa Wolon Walu (Kecamatan Bola) dan sebelah
Barat berbatasan dengan Desa Sikka (Kecamatan Lela).
Seturut
wilayah pemerintahan, Desa Hokor merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Bola.
Desa yang memiliki luas wilayah 11 Km2 ini terdiri dari tiga dusun dengan 5 Rukun Warga (RW)
dan 12 Rukun Tetangga (RT).
Nama kampung Hokor bila dicermati secara harafiah, tidak
ditemukan arti dan padanannya dalam bahasa Sikka. Diduga nama ini berasal dari
kata bahasa Sikka, yakni “Hogor” yang
berarti bangun. Dugaan lain menyebutkan bahwa nama ini berasal dari nama
sejenis burung yang bernama “Hokok”
yang pada awal kedatangan orang-orang Hokor ke tempat itu, burung-burung
tersebut ditemukan dan ditangkap tepat di tengah-tengah tempat itu.[1]
Sumber lain mengatakan bahwa dahulu kala kawasan itu
merupakan wilayah pengungsian orang-orang Hokor yang lari dan mencari keamanan
diri dari perang antar kampung, tetapi selanjutnya dipilih sebagai tempat
menetap atau kampung yang akhirnya dinamakan Hokor. Nenek moyang orang-orang
Hokor semula mendiami wilayah yang sekarang didiami oleh orang-orang Sikka di
kampung Sikka.
Diceritakan
bahwa karena Moang Baga Giluk bersama orang-orang sekampungnya yang berada di
sebuah dataran tinggi merasa tidak puas dengan wilayah yang didiami oleh
orang-orang Hokor di dataran rendah (sekarang kampung Sikka) yang indah dan
subur, maka mereka merencanakan untuk merampas wilayah itu untuk dijadikan
sebagai tempat tinggal mereka. Salah satu cara yang ditempuh pada waktu itu
adalah seluruh penduduk atas perintah Moang Baga Giluk, mengumpulkan kotoran
mereka dan menggulingkannya ke kampung Sikka yang masih didiami oleh orang
Hokor. Karena bau kotoran manusia yang tidak sedap itu memenuhi seluruh
kampung, maka orang-orang Hokor terpaksa melarikan diri atau mengungsi ke
daerah yang lebih aman.
Kejadian
itu terjadi pada tengah malam ketika orang masih tidur sehingga masyarakat
diajak untuk segera bangun dan lari.[4]
Ketika mereka mencari tempat baru, sampailah mereka di sebuah tempat yang cukup
aman. Di tempat itu mereka
merasa cukup aman dan menyenangkan sehingga mereka tidak mau kembali lagi ke
Sikka dan tetap menetap di situ. Tempat atau kampung tersebut sekarang dikenal
dengan nama kampung Hokor.
Ada pula sebuah syair yang menunjukkan asal orang Hokor sebagaimana diungkapkan oleh Kosmas
Lewuk dan dikutip oleh Charles Beraf:[3]
Au Desa ‘au Nita,
Desa Nita Gaur Giit, Gaur Giit ora niang, Reket Mangang ora tanang, bekor ‘aung
le ia, le niang Sikka mata wutung, Teri Giit golo ora niang, niang ‘aung detung
epang, niang ‘aung kobeng bue, Diri ‘ata topo wong, topo reta napung lemang,
‘ata hura wenu, holeng wenu, hura wenu matang daang, gu witit waing heking
halang, ‘lewe ngeng tota niang, ‘Au luju du’a Limek, Limek wai tula lat. Ora
saso wai datang, hat wai dire ‘arong, Bira ‘aung le ia, le tana tuling rogang
gahar, era mangang golo ora tanah, tana ‘aung desa wohong, rena ‘ata hawong
do’ar, hawong reta wolong gahar, ata apur bunu makong bunu, ganu blega mahang
‘apur, gu remang ubeng heak klok, pano ngerang bar tana.
Terjemahan
bebasnya adalah sebagai berikut:
Leluhur orang Hokor
adalah Desa Nita. Mereka berasal dan
menetap dahulu di negeri Sikka sekarang. Mereka dihalaukan oleh Moang
Baga Giluk merampas kampung halamannya. Oleh sebab itu mereka lari mengungsi ke
tempat yang sekarang bernama Hokor. Mereka terkenang akan negerinya yang rata
dan memberi hasil padi dan kacang. Dari bukit yang tinggi dan lekuk dalam,
mereka mendengar teriakan orang dengan menggulingkan tempayan berisi kotoran
yang membusuk yang dapat membahayakan. Jadi mereka tinggalkan kampung halaman
dan mencari tanah Hokor yang sekarang.
Selain
penduduk asli yang datang dari kampung Sikka, dalam perkembangan waktu ada pula
pendatang lain yang berasal dari berbagai daerah dan menetap di Hokor seperti
dari Paga, Uma W’uta (Bola) dan Lio. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa
suku yang dapat ditemukan di Hokor hingga dewasa ini, yakni suku Pagan, W’uta,
Soge, Muhan, Wolon Gelo, Goban, Gaun, dan L’awe. Suku-suku di Hokor mengidentikkan term suku
dengan tempat tinggal pertama dari cikal bakal sukunya atau dari mana dan
dengan cara apa leluhur mereka itu tiba di Hokor. Misalnya Suku Pagan, diyakini
bahwa leluhur mereka berasal dari Paga. Selain itu pemberian nama Suku Wolon
Gelo, diambil dari sebuah nama tempat (di Hokor) yang merupakan tempat pertama
kali suku ini datang dan menetap di Hokor. Demikian pula dengan nama dari suku-suku lainnya.
[1]
Charles Beraf, “Ingatan Kolektif Orang Hokor” dalam Pesona Sikka: Deskripsi 10 Obyek Wisata Budaya (Maumere: Dinas
Pariwisata Kabupaten Sikka dan Puslitbang STFK Ledalero, 1996), p. 140.
[2]
Ajakan untuk bangun dalam bahasa Sikka adalah Hogor. Dari kata inilah diperkirakan sebagai asal-usul pemberian
nama kampung Hokor, yang oleh orang Belanda pada waktu itu disebut dengan Hokor
karena mereka tidak bisa menyebut kata Hogor.
[3]
Charles Beraf, Op.Cit., 141.
*) Mohon
maaf kepada semua pembaca yang lebih mengenal dengan baik sejarah
Hokor. Saya yakin tulisan singkat ini terdapat banyak hal yang tidak
sesuai dengan apa yang diketahui pembaca. Justru itulah saya mencoba
menulis di sini untuk mendapatkan kritik, saran dan masukan dari
pembaca, sehingga dari masukan yang ada, kita bisa mendapatkan sedikit
gambaran yang pasti tentang sejarah Hokor. Tulisan sederhana ini berawal
dari sebuah kerinduan untuk mendapatkan informasi mengenai Sejarah
Hokor. Epang gawan....saya tunggu koreksi dan informasi yang lebih
lengkap dari pembaca semuanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar