DESKRIPSI HISTORIS DESA HOKOR - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

DESKRIPSI HISTORIS DESA HOKOR

 

             Kampung Hokor terletak di wilayah selatan Kabupaten Sikka, berjarak ± 39 Kilo Meter (Km) dari Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Batas-batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Teka Iku (Kecamatan Kangae) dan Desa Nele Wutun (Kecamatan Nele), sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Sawu, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Wolon Walu (Kecamatan Bola) dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sikka (Kecamatan Lela).
            Seturut wilayah pemerintahan, Desa Hokor merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Bola. Desa yang memiliki luas wilayah 11 Km2 ini terdiri dari tiga dusun dengan 5 Rukun Warga (RW) dan  12 Rukun Tetangga (RT).
        Nama kampung Hokor bila dicermati secara harafiah, tidak ditemukan arti dan padanannya dalam bahasa Sikka. Diduga nama ini berasal dari kata bahasa Sikka, yakni “Hogor” yang berarti bangun. Dugaan lain menyebutkan bahwa nama ini berasal dari nama sejenis burung yang bernama “Hokok” yang pada awal kedatangan orang-orang Hokor ke tempat itu, burung-burung tersebut ditemukan dan ditangkap tepat di tengah-tengah tempat itu.[1]
        Sumber lain mengatakan bahwa dahulu kala kawasan itu merupakan wilayah pengungsian orang-orang Hokor yang lari dan mencari keamanan diri dari perang antar kampung, tetapi selanjutnya dipilih sebagai tempat menetap atau kampung yang akhirnya dinamakan Hokor. Nenek moyang orang-orang Hokor semula mendiami wilayah yang sekarang didiami oleh orang-orang Sikka di kampung Sikka.
Diceritakan bahwa karena Moang Baga Giluk bersama orang-orang sekampungnya yang berada di sebuah dataran tinggi merasa tidak puas dengan wilayah yang didiami oleh orang-orang Hokor di dataran rendah (sekarang kampung Sikka) yang indah dan subur, maka mereka merencanakan untuk merampas wilayah itu untuk dijadikan sebagai tempat tinggal mereka. Salah satu cara yang ditempuh pada waktu itu adalah seluruh penduduk atas perintah Moang Baga Giluk, mengumpulkan kotoran mereka dan menggulingkannya ke kampung Sikka yang masih didiami oleh orang Hokor. Karena bau kotoran manusia yang tidak sedap itu memenuhi seluruh kampung, maka orang-orang Hokor terpaksa melarikan diri atau mengungsi ke daerah yang lebih aman.
Kejadian itu terjadi pada tengah malam ketika orang masih tidur sehingga masyarakat diajak untuk segera bangun dan lari.[4] Ketika mereka mencari tempat baru, sampailah mereka di sebuah tempat yang cukup aman. Di tempat itu mereka merasa cukup aman dan menyenangkan sehingga mereka tidak mau kembali lagi ke Sikka dan tetap menetap di situ. Tempat atau kampung tersebut sekarang dikenal dengan nama kampung Hokor.
Ada pula sebuah syair yang menunjukkan asal orang Hokor sebagaimana diungkapkan oleh Kosmas Lewuk dan dikutip oleh Charles Beraf:[3]
Au Desa ‘au Nita, Desa Nita Gaur Giit, Gaur Giit ora niang, Reket Mangang ora tanang, bekor ‘aung le ia, le niang Sikka mata wutung, Teri Giit golo ora niang, niang ‘aung detung epang, niang ‘aung kobeng bue, Diri ‘ata topo wong, topo reta napung lemang, ‘ata hura wenu, holeng wenu, hura wenu matang daang, gu witit waing heking halang, ‘lewe ngeng tota niang, ‘Au luju du’a Limek, Limek wai tula lat. Ora saso wai datang, hat wai dire ‘arong, Bira ‘aung le ia, le tana tuling rogang gahar, era mangang golo ora tanah, tana ‘aung desa wohong, rena ‘ata hawong do’ar, hawong reta wolong gahar, ata apur bunu makong bunu, ganu blega mahang ‘apur, gu remang ubeng heak klok, pano ngerang bar tana.
 Terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut:
Leluhur orang Hokor adalah Desa Nita. Mereka berasal dan  menetap dahulu di negeri Sikka sekarang. Mereka dihalaukan oleh Moang Baga Giluk merampas kampung halamannya. Oleh sebab itu mereka lari mengungsi ke tempat yang sekarang bernama Hokor. Mereka terkenang akan negerinya yang rata dan memberi hasil padi dan kacang. Dari bukit yang tinggi dan lekuk dalam, mereka mendengar teriakan orang dengan menggulingkan tempayan berisi kotoran yang membusuk yang dapat membahayakan. Jadi mereka tinggalkan kampung halaman dan mencari tanah Hokor yang sekarang.
Selain penduduk asli yang datang dari kampung Sikka, dalam perkembangan waktu ada pula pendatang lain yang berasal dari berbagai daerah dan menetap di Hokor seperti dari Paga, Uma W’uta (Bola) dan Lio. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa suku yang dapat ditemukan di Hokor hingga dewasa ini, yakni suku Pagan, W’uta, Soge, Muhan, Wolon Gelo, Goban, Gaun, dan L’awe.  Suku-suku di Hokor mengidentikkan term suku dengan tempat tinggal pertama dari cikal bakal sukunya atau dari mana dan dengan cara apa leluhur mereka itu tiba di Hokor. Misalnya Suku Pagan, diyakini bahwa leluhur mereka berasal dari Paga. Selain itu pemberian nama Suku Wolon Gelo, diambil dari sebuah nama tempat (di Hokor) yang merupakan tempat pertama kali suku ini datang dan menetap di Hokor. Demikian pula dengan nama dari suku-suku lainnya.




    [1] Charles Beraf, “Ingatan Kolektif Orang Hokor” dalam Pesona Sikka: Deskripsi 10 Obyek Wisata Budaya (Maumere: Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka dan Puslitbang STFK Ledalero, 1996), p. 140.
       [2] Ajakan untuk bangun dalam bahasa Sikka adalah Hogor. Dari kata inilah diperkirakan sebagai asal-usul pemberian nama kampung Hokor, yang oleh orang Belanda pada waktu itu disebut dengan Hokor karena mereka tidak bisa menyebut kata Hogor.  
       [3] Charles Beraf, Op.Cit., 141.


*) Mohon maaf kepada semua pembaca yang lebih mengenal dengan baik sejarah Hokor. Saya yakin tulisan singkat ini terdapat banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang diketahui pembaca. Justru itulah saya mencoba menulis di sini untuk mendapatkan kritik, saran dan masukan dari pembaca, sehingga dari masukan yang ada, kita bisa mendapatkan sedikit gambaran yang pasti tentang sejarah Hokor. Tulisan sederhana ini berawal dari sebuah kerinduan untuk mendapatkan informasi mengenai Sejarah Hokor. Epang gawan....saya tunggu koreksi dan informasi yang lebih lengkap dari pembaca semuanya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar