H. Dasrimin
Kita sering mendengar atau bahkan
mungkin kita sendiri pernah melontarkan keluhan “Saya sudah berdoa, tetapi
sepertinya Tuhan tidak mendengar dan mengabulkan doaku”. Benarkah Tuhan tidak
mendengarkan dan mengabulkan doa kita? Kisah Injil hari ini meneguhkan kita bahwa
tidak ada yang tidak mungkin terjadi bagi orang yang meminta dan berdoa kepada
Allah. “Apa saja yang kalian minta dan kalian doakan, akan diberikan kepadamu,
asal kalian percaya bahwa kalian akan menerimanya” (Mrk 11: 24). Pernyataan
Yesus ini dengan jelas menegaskan bahwa iman harus menjadi dasar dalam doa kita.
Apakah dengan beriman saja sudah
cukup? Seseorang yang beriman kepada Allah, harus juga mempunyai hubungan yang
baik dengan sesamanya. Iman harus diimbangi dengan perbuatan kasih. Tanda iman
dan kasih itu dapat kita wujudkan dalam sikap saling mengampuni. Yesus
bersabda, jika kita ingin berdoa, ampunilah terlebih dahulu sesama kita, agar
kita pun diampuni Tuhan (Mrk 11: 25).
Rasul Petrus dalam bacaan pertama
hari ini pun menasihati hal yang sama. Jika kita ingin berdoa dengan baik, maka
hendaknya kita dapat menguasai diri dan menjadi tenang. Tetapi hal yang paling
utama dari semuanya itu adalah mengasihi sesama, karena kasih menutupi banyak
sekali dosa (1 Ptr 4: 8). Selanjutnya Rasul Petrus mengatakan, sebagaimana doa
harus dilandasi oleh kasih kepada sesama, demikian pula sebaliknya doa dapat memampukan
kita dalam mengasihi sesama dan berani berbicara atas nama Allah. Doa menjadi
sumber segala perbuatan yang baik.
Hal itu dapat terjadi jika ibadah
yang kita rayakan dapat kita wujudkan atau berbuah dalam hidup harian kita. Pohon
ara yang tidak berbuah dalam Injil hari ini melambangkan sisi tak berbuahnya
ibadat Bait Allah bangsa Yahudi di zaman Yesus. Paus Fransiskus mengatakan,
pohon ara ini bisa mewakili ketidaksuburan, ketandusan, keegoisan rohani, yaitu
sebuah kehidupan yang tandus, yang tidak mampu memberikan apa-apa, dan menjadi
gambaran bagi orang yang hidup untuk dirinya sendiri. Maka sebagaimana dalam
perayaan Ekaristi kita menyambut Tubuh Kristus yang rela mengorbankan diri bagi
kita, demikian pula hendaknya kita memiliki sikap hidup yang sama. Marilah kita
berubah supaya berbuah. *) Publikasi tercetak di Cafe Rohani Edisi Juni 2018.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar