BERBUAH - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

BERBUAH

 

 
H. Dasrimin

Kita sering mendengar atau bahkan mungkin kita sendiri pernah melontarkan keluhan “Saya sudah berdoa, tetapi sepertinya Tuhan tidak mendengar dan mengabulkan doaku”. Benarkah Tuhan tidak mendengarkan dan mengabulkan doa kita? Kisah Injil hari ini meneguhkan kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi bagi orang yang meminta dan berdoa kepada Allah. “Apa saja yang kalian minta dan kalian doakan, akan diberikan kepadamu, asal kalian percaya bahwa kalian akan menerimanya” (Mrk 11: 24). Pernyataan Yesus ini dengan jelas menegaskan bahwa iman harus menjadi dasar dalam doa kita.
Apakah dengan beriman saja sudah cukup? Seseorang yang beriman kepada Allah, harus juga mempunyai hubungan yang baik dengan sesamanya. Iman harus diimbangi dengan perbuatan kasih. Tanda iman dan kasih itu dapat kita wujudkan dalam sikap saling mengampuni. Yesus bersabda, jika kita ingin berdoa, ampunilah terlebih dahulu sesama kita, agar kita pun diampuni Tuhan (Mrk 11: 25).  
Rasul Petrus dalam bacaan pertama hari ini pun menasihati hal yang sama. Jika kita ingin berdoa dengan baik, maka hendaknya kita dapat menguasai diri dan menjadi tenang. Tetapi hal yang paling utama dari semuanya itu adalah mengasihi sesama, karena kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Ptr 4: 8). Selanjutnya Rasul Petrus mengatakan, sebagaimana doa harus dilandasi oleh kasih kepada sesama, demikian pula sebaliknya doa dapat memampukan kita dalam mengasihi sesama dan berani berbicara atas nama Allah. Doa menjadi sumber segala perbuatan yang baik.    
Hal itu dapat terjadi jika ibadah yang kita rayakan dapat kita wujudkan atau berbuah dalam hidup harian kita. Pohon ara yang tidak berbuah dalam Injil hari ini melambangkan sisi tak berbuahnya ibadat Bait Allah bangsa Yahudi di zaman Yesus. Paus Fransiskus mengatakan, pohon ara ini bisa mewakili ketidaksuburan, ketandusan, keegoisan rohani, yaitu sebuah kehidupan yang tandus, yang tidak mampu memberikan apa-apa, dan menjadi gambaran bagi orang yang hidup untuk dirinya sendiri. Maka sebagaimana dalam perayaan Ekaristi kita menyambut Tubuh Kristus yang rela mengorbankan diri bagi kita, demikian pula hendaknya kita memiliki sikap hidup yang sama. Marilah kita berubah supaya berbuah. *) Publikasi tercetak di Cafe Rohani Edisi Juni 2018.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar