![]() |
| Ilusrasi iri hati melihat rumput tengga (Foto: Erabaru.com) |
Penulis: Hendrikus Dasrimin
I.
Pendahuluan
Hakikat
manusia adalah ada bersama dengan yang lain, sehingga ia dikenal sebagai homo sociale.Gabriel Marcel, seorang
filsuf yang sangat terkenal mendevinisikan eksistensi manusia ini sebagai “esse est co-esse”; ada berarti ada
bersama. Hal ini berarti bahwa manusia selalu bergantung pada yang lain. Oleh
karena itu manusia harus melihat sesamanya bukan sebagai suatu saingan
melainkan sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Merebaknya
realitas konfliktual yang terjadi akhir-akhir ini merupakan bukti dari lemahnya
intensitas kesadaran manusia yang melihat orang lain sebagai suatu saingan
dalam hidupnya. Manusia tidak lagi melihat sesamanya sebagai bagian dari
hidupnya tetapi lebih melihat kehadiran orang lain sebagai penghalang dari
keberadaannya. Mungkin dalam hal ini afirmasi eksistensi manusia sebagai “homo homini lupus” dari Thomas Hobbes
bisa benar.
Pada
hakikatnya persaingan merupakan suatu hal positif yang dapat mendorong manusia
untuk dapat berkembang. Namun persaingan itu dapat juga berdampak negatif
apabila terjadi persaingan yang tidak sehat. Dalam kenyataannya persaingan
dapat menyebabakan rasa iri hati bagi pihak yang merasa diri disaingi. Rasa iri
hati ini akan dapat menyebabkan perselisihan atau pertentangan di antara sesama
bahkan dapat berakhir dengan pembunuhan atau peperangan.
Iri
hati merupakan suatu sikap manusia yang bukan hanya terjadi pada dunia kita
dewasa ini, tetapi hal itu sudah terjadi sejak zaman dahulu. Kisah Kain dan
Habel dalam Kej 4:1-16, adalah salah satu contoh kisah yang menceritakan
ke-irihati-an manusia terhadap sesamanya.
Kisah
Kain dan Habel mau menggambarkan lebih lanjut keterasingan manusia dari Yahwe.
Pusat perhatian cerita ini tertuju pada dosa Kain dan hukuman yang diakibatkan
dosa itu. Diperkirakan perhatian cerita yang asli adalah pada dendam antara
bangsa-bangsa yang berbeda latar belakang dan pekerjaannya, khususnya antara
para petani dan para gembala.[1]
Cerita ini berakhir dengan berpalingnya Kain dari hadapan Allah dan pergi ke
tanah Nod, di sebelah timur Eden.
Dalam
cerita itu ditampilkan sosok Habel yang memiliki karakter sebagai seorang yang
beriman teguh kepada Allah. Hal itu dibuktikan dengan kesediaanya untuk
mempersembahkan seekor domba bagi Tuhan. Sementara itu Kain dilukiskan sebagai
seorang yang memiliki sifat iri hati dan pemarah. Hal ini dapat dilihat pada
ayat yang ke tiga dari kisah tersebut di mana Kain memukul dan membunuh Habel
karena rasa iri hatinya kepada Habel yang persembahannya diterima oleh Allah.
Melihat
kenyataan itu, Allah hadir sebagai yang berkuasa untuk menghukum orang yang
berdosa (ayat 11), tetapi sekaligus Ia hadir sebagai Allah yang melindungi atau
mengasihi semua orang yang telah bersalah kepada-Nya (ayat 15).
Sikap
iri hati dapat menciptakan suatu “relasi konflik” baik antara sesama manusia
maupun antara manusia dengan Allah. Atau dengan kata lain, iri hati dapat
memisahkan hubungan kita dengan sesama maupun dengan Tuhan.
II. Iri
Hati: Memisahkan Relasi Antara Sesama Manusia dan Allah
2.1. Iri
Hati: Memisahkan Relasi Antara Manusia dengan Sesamanya
Sebelum menelaah lebih dalam tentang
pokok ini, alangkah baiknya kita memahami lebih dahulu tentang arti dari nama
kedua tokoh dalam teks Kej 4:1-16 yaitu Kain dan Habel. Kain berarti ciptaan,
seorang yang mulia dan terhormat. Dia adalah anak sulung Hawa. Dalam 1 Yoh 3:
12, Kain disebut berasal dari si jahat (ek tou pon’erou). Karena ia tidak benar
di hadapan Allah (Ibr 11: 4) maka korban persembahannya ditolak Alllah.[2]
Sedangkan Habel menurut akar katanya
dalam bahasa Ibrani berarti kekosongan yang melambangkan orang yang lemah, tak
berdaya. Dia adalah anak bungsu Hawa.[3]
Nama Habel kadang-kadang dihubungkan dengan kata alpu dalam bahasa Akad yang
berarti “putra” atau dengan kata Ibila dalam bahasa Sumer. Tetapi karena tidak
diketahui bahasa yang dipakai pada waktu itu maka dalam hal ini tetap merupakan
tekanan Habel adalah seorang yang benar (Mat 23:35) dan ketika ia sebagai
gembala (Kej 4:2) ia mempersembahkan korban kepada Allah dan Allah berkenan
menerimanya (Kej 4:4; Ibr 11: 4).[4]
Dalam
kisah Kain dan Habel, Allah lebih berkenan kepada persembahan Habel dari pada
apa yang dipersembahkan oleh Kain. Ia memperhatikan kurban si bungsu yang tidak
berarti dan yang diremehkan. Dalam teks atau tradisi Yahwista, tidak ada
pernyataan bahwa ada sikap berbeda dalam diri Kain dan Habel atau mutu berbeda
pada bahan korban, tanpa ada alasan dalam diri Kain dan Habel atau bahan
persembahan mereka. Tuhan mengindahkan yang satu dan yang lain tidak.[5]
Menurut eksegese Yahudi dan juga dalam Perjanjian Baru (Mat 23: 35; 1 Yoh 3:
12; Ibr 11: 4) bahwa alasan penolakan Allah terhadap persembahan Kain terjadi
karena kejahatannya atau karena sifatnya yang tidak percaya.[6]
Seandainya hidup Kain dan Habel
diwarnai oleh rasa persaudaraan, maka
bukan tidak mungkin mereka akan senang dan bahagia, sehingga membagikan hasil
dan menikmatinya bersama-sama. Tetapi kita berada dalam situasi persaingan di
mana manusia harus menjamin hidupnya dengan perjuangannya sendiri. Dalam
situasi demikian, setiap keuntungan sesama menjadi ancaman bagi yang lain.
Sebab itu, Kain yang gagah tidak bisa menerima sikap Allah itu.[7] Ia
hanya memperhatikan dirinya sendiri dan tidak ikut melihat saudaranya berhasil
dalam terang mata Allah. Ia tidak memandang saudaranya yang lemah, tetapi ia
hanya terfokus pada dirinya sendiri. Kain menjadi panas hatinya dan cemas,
jangan-jangan adiknya itu akan menguasai dia, sehingga timbullah rasa iri hati
yang mengakibatkan pembunuhan.
Situasi
yang dialami Kain dan Habel juga dialami oleh kita manusia zaman ini. Setiap
orang sama-sama berjuang dengan sekuat tenaga untuk dapat berhasil. Dan dalam
kenyataannya kita harus bisa menerima bahwa ada yang berhasil namun ada juga
yang tidak. Hal inilah yang menimbulakan iri hati. Sikap ini sudah menjadi
kebiasaan malahan menjadi keutamaan yang dibanggakan manusia.[8]
Rasa
iri hati akan menimbulkan konflik yang pada nantinya akan memisahkan hubungan
antara manusia dengan sesamanya. Hadirnya iri hati dalam diri manusia akan
dapat menciptakan ketidakdamaian dalam hidup. Karena iri hati, manusia dapat
melihat sesamanya sebagai musuh yang harus diperangi sebab kehadirannya
dianggap sebagai sesuatu yang sangat membahayakan bagi dirinya sendiri.
2.2. Iri Hati: Memisahkan Relasi
Manusia Dengan Allah
Pada hakekatnya iri hati merupakan
suatu perasaan kurang senang, ketika satu pihak melihat pihak lain beruntung
dalam suatu usaha. Berdasarkan pandangan ini tentu dapat menimbulkan perasaan
cemburu, sehingga orang mudah memisahkan relasi dengan sesamanya. Jika satu
individu memisahkan relasinya dengan individu lain, sama halnya ia telah
memisahkan relasinya dengan Allah. Mengapa? Karena Allah tidak hadir secara
langsung dalam setiap peristiwa hidup seorang manusia, melainkan eksistensi
manusia adalah identik dengan Diri Allah itu sendiri. Di samping itu, manusia
melihat iri hati terhadap sesama atau saudaranya dapat mengakibatkan
pembunuhan, sehingga relasi antarmanusia pun turut putus karena konsekuensi
sikap iri hati.[9] Andaikata relasi antarmanusia tidak
diindahkan secara berkesinambungan dalam ziarah hidup setiap manusia di bumi
ini. Itu berarti manusia telah memisahkan relasinya dengan Allah pemberi hidup
dan pengasal segala sesuatu. Mengapa demikian? Karena manusia itu sendiri
adalah Diri Allah yang konkret. Kendati Ia tidak berhadapan secara langsung
dengan manusia namun nyata dalam diri manusia itu sendiri.
Kita seharusnya bertanya pada diri
kita, mengapa Kain melakukan tindakan pembunuhan terhadap adiknya Habel. Tentu
saja kita dapat menemukan responnya sebagaimana telah nyata dalam Kitab Kej
4:1-16. Bahwa terjadi pembunuhan merupakan konsekuensi dari sikap iri hati.
Meskipun demikian, Allah secara konstans menyapa dan memperingatkan Kain agar ia
jangan melakukan lagi tindakan tragis yang sama seperti semula. Hal ini berarti
Allah menegaskan kita sejauh mana kita dapat menjunjung tinggi nilai-nilai
pertalian antar kita dan kita dengan Allah.
Dunia
dewasa ini telah terhimpit oleh aneka pertikaian dan iri hati terus merajalela
kehidupan manusia itu sendiri, karena orang telah mengelakkan diri dari Allah
sang pemberi hidup dan penjamin hidup itu pula. Untuk itu kita jangan merasa
heran dan mempersoalkan masalah-masalah yang menyangkut iri hati antar manusia.
Yang perlu dipikirkan dan direfleksikan oleh pihak manusia adalah bagaimana
seseorang menjaga relasi timbal balik antar manusia sebagai makhluk yang lahir
dalam konteks sosial (Human Sociale).
Bagaimana manusia meningkatkan pertalian yang intim dengan Allah. Hanya dengan
demikian relasi manusia dengan Allah semakin dijaga dan ditata dan akrab
seacara personal maupun impersonal.
Ketika kita berbicara tentang relasi
antara manusia dengan Allah, sama halnya kita berbicara tentang relasi
eksistensi manusia itu sendiri. Manusia mesti sadar bahwa Allah adalah diri
manusia itu sendiri atau adaku, karena diciptakan oleh Dia yang tidak bisa
diciptakan lagi. Ketika relasi antarmanusia berjalan dengan baik dan benar,
disini membuka kemungkinan bagi manusia untuk berjumpa dengan Allah. Secara
singkat Allah ada di antara kita. Oleh karena itu, agar dunia dewasa ini dapat
mengabadikan korelasi antar manusia dan manusia dengan Allah. Maka manusia
diharapkan untuk menciptakan hubungan yang intim antar manusia itu sendiri.
Dengan demikian kita tidak mudah menaruh rasa iri terhadap orang lain tanpa
alasan yang tidak jelas, melainkan kita justeru dipandang sebagai ciptaan Allah
yang senantiasa bersatu dengan-Nya sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan
hidup serta sumber pemberi hidup melalui hubungan yang baik antarmanusia.
III. Relevansi
Atau Pesan Teologis Bagi Kita
Manusia
adalah makhluk sosial. Ini berarti, dalam kehidupan bersama manusia membutuhkan
sesamanya. Untuk dapat mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup,
seseorang tidak dapat berjalan sendiri. Ia tidak hanya membutuhkan sesamanya,
tetapi juga kehadiran Allah dalam hidupnya menjadi kunci utama berhasil. Peran
Allah dan sesama dalam hidup justru pada saat ini kurang diperhatikan. Hal ini
terjadi karena manusia mau berjalan sendiri dan lebih mengandalkan diri
sendiri. Sikap egoisme membuat
manusia semakin jauh dari hadapan Allah dan sesamanya. Akhirnya manusia
terlempar jauh dari kehidupan bersama.
Dalam
kehidupan bersama, persaingan senantiasa mewarnai lika-liku kehidupan di mana
manusia harus menjamin hidupnya dengan perjuangannya sendiri[10] Kalau mau hidup sukses, maju dan berhasil
orang harus bisa bersaing dengan sesamanya. Hal ini wajar karena persaingan
membuat orang mau berubah, untuk mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik.
Sayangnya, persaingan yang terjadi saat ini justru menjerumuskan manusia ke
dalam dosa. Dengan pelbagai cara yang tidak berkenan di hadapan Allah dan
sesama, oranbg berusaha mencapai kesuksesan dan perubahan dalam hidup. Dengan
cara yang demikian pula orang berusaha menghancurkan sesamanya. Ada pula yang
merasa diri tidak berhasil dalam hidup menganggap dirinya tidak diperhatikan
Allah. Dalam hidup ini, Allah bersikap tidak adil. Karena itu, orang berusaha
menghancurkan orang yang telah berhasil dengan cara yang tidak sesuai dengan
ajaran agama dan moral.
Kisah
Kain dan Habel mau menunjukkkan kepada seluruh umat manusia bahwa di dunia ini
sering terjadi persaingan yang tidak sehat. Karena iri hati kepada sesama yang
berhasil dalam hidup, dengan cara sendiri kita berusaha menghancurkan bahkan
membunuh sesama kita yang lain. Pada posisi seperti ini, kekrasanlah yang
terjadi. Berbicara tentang kekerasan tak terlepas dari kehidupan manusia dewasa
ini. Lantas kita bertanya, mengapa semua ini terjadi? Satu hal yang dapat
dikatakan bahwa kekrasan itu terjadi karena manusia merasa curiga dengan
sesama.
Manusia merasa curiga, jangan-jangan sesamanya dapat menguasai dirinya.
Kecurigaan inilah yang membuat manusia sulit untuk menerima keberhasilan dari
sesamanya. Setiap orang mempunyai hasrat dan keinginan untuk menjadi yang
terbaik, terdepan dan utama serta tidak ingin disaingi. Ketika keinginan dan
hasratnya tidak tercapai, manusia balik menuduh Allah bersikap tidak adil dan
menganggap sesamanya sebagai saingan. Karena itu, tak segan-segan manusia
bertindak malampaui apa yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Kain dan Habel
adalah kiasan bagi setiap kelompok dalam hidup bersaudara dan Allah hadir untuk
menuntut tanggung jawab manusia terhadap kekerasan yang terjadi[11].
Belajar
dari kisah Kain dan Habel, sikap kerendahan hati dan semangat persaudaraan amat
dituntut pada zaman ini. Rendah hati artinya kita mampu menerima dengan lapang
dada keberhasilan dan kesuksesan dari orang lain. Kita dituntut untuk berlajar
dari keberhasilan dan kesuksesan orang lain. Bila manusia hidup dalam semangat
persaudaraan dan kasih, sudah pasti tidak akan ada kecurigaan di antara manusia
dan hidup ini akan terasa lebih indah.
Dalam kehidupan bersama, dibutuhkan juga
sikap keterbukaan baik kepada diri sendiri, sesama maupun Allah. Kerap kali
manusia lebih suka memendam segala hal yang tidak berkenan dalam dirinya entah
perlakuan dari sesamanya maupun Allah. Justru hal ini secara perlahan-lahan
mengahantar manusia jauh dari hadapan Allah dan manusia. Sikap inilah yang
membuat orang punya keinginan untuk balas dendam. Balas dendam justru akhirnya
menjadi kebiasaan di antara manusia dan malah menjadi keutamaan yang
dibanggakan.[12]
IV. Rangkuman
Dari
penjelasan di atas dapat dibuat suatu rangkuman tentang analisis literer
sebagai berikut:
- Bentuk Sastra; adalah sebuah cerita, karena:
- Ada tokoh protagonis, antagonis dan tokoh-tokoh lainnya: Hawa (4:1), Kain (4: 1, 2, 5, 6, 8, 9, 13, dan 16), Habel (4: 2, 4, 8, dan 9) dan Allah (4: .....................)
- Ada ciri karakterisasi dari toko-tokoh:
Habel: mempunyai iman yang
teguh kepada Allah.
Habel insyaf bahwa
ia adalah orang yang berdosa, sehingga ia mengambil seekor domba dan membawanya
kepada Tuhan. Perbuatannya ini menunjukan bahwa ia adalah orang yang beriman.
Kain: marah dan iri hati.
Hal ini ditunjukan
pada ayat 8 (ia memukul dan membunuh adiknya). Ia juga adalah seorang pembohong
(ayat 9). Selain itu ia adalah orang yang tidak mau bertobat. Ia pergi
jauh-jauh dari Allah (ayat 16-17).
Allah (Yahwe): mengutuk
tetapi sekaligus melindungi.
Allah mengutuk Kain
(ayat 11) tetapi di samping itu Ia berjanji pula untuk melindung hidup Kain
(ayat 15).
·
Adanya dialog
dari tokoh-tokoh:
Dialog antara Allah
dan Kain (4: 7-15).
·
Mempunyai
alur atau jalan cerita:
Kisah ini menyusul
kisah dosa manusia pertama dan mengambarkan lebih lanjut keterasingan manusia
dari Yahwe. Ayat-ayat pertama merupakan peralihan dan dipergunakan untuk
memperkenalkan tokoh-tokoh utama cerita.
Cerita itu dengan
cepat bergerak ke peristiwa pembunuhan Habel dan hukuman Yahwe atas Kain.
Cerita ini berakhir dengan berpalingnya Kain dari hadapan Tuhan dan pergi ke
tanah Nod, di sebelah timur Eden.
b. Pesan
Teologis
Pusat
perhatian cerita ini tertuju pada dosa Kain dan hukuman yang diakibatkan dosa
itu. Diperkirakan perhatian cerita yang asli adalah pada dendam antara
bangsa-bangsa yang berbeda latar belakang dan pekerjaanya, khususnya antara
para petani dan para gembala.[13]
c. Konteks Literer:
Kisah tentang Kain
dan Habel sebenarnya mau melanjutkan kisah-kisah sebelumnya tentang dosa
manusia (Kej 3). Bagi Yahwis cerita ini menggambarkan kecenderungan manusia
terhadap dosa.
Habel mempersembahkan
sebuah
IV.
Penutup
Iri
hati merupakan penyebab utama terjadinya pertikaian baik dalam keluarga maupun
dalam masyarakat. Iri hati bagaikan penyakit yang mematikan dan memupuskan
harapan hidup bersama. Ktenteraman dan keapikan akan tercerai-berai apabila iri
hati berkelanjutan pada dendam dan berujung pada pembunuhan. Apabila dalam diri
seseorang tertanam rasa iri hati terhadap sesama maka yang ada dalam dirinya
hanyalah keinginan untuk menghabisi nyawa orang-orang yang dianggap sebagai
tandingannya.
Dalam
Kitab Kejadian 4:1-16, dikisahkan kedua saudara yaitu Kain dan Habel, dimana
Kain membunuh Habel yang merupakan saudara kandungnya. Pembunuhan ini terjadi
karena Kain merasa iri terhadap Habel adiknya. Kain tidak setuju dengan apa
yang dialami Habel. Kisah ini mau menunjukkan bahwa hubungan darah tidak
menjamin ketenteraman dan keselamatan serta tidak luput dari perasaan iri
hati.
Kisah
Kain dan Habel merupakan secuil cerita yang mau mengangkat martabat kaum
penggembala yang hidupnya selalu berpindah-pindah (nomaden) miskin dan sengsara
dan para petani yang hidupnya menetap dan baik. Kain melambangkan para petani
yang menguasai ladang dan seringkali bertindak kriminal terhadap para gembala
dan Habel menggambarkan para gembala yang seringkali diusir, dikejar-kejar
bahkan dibunuh oleh para petani sebagai penguasa ladang.
Tidak
disangkal bahwa kejadian yang terjadi dahulu masih sangat relevan dan sering
terjadi pada masa sekarang ini. Realitas dunia sekarang ini sangat
memprihatinkan, disana-sini terjadi pertikaian, peperangan, pembunuhan mutilasi
dan ada banyak kenyataan-kenyataan lain yang terjadi sebagai akibat dari rasa
cemburu dan iri hati. Di sana-sini terjadi persaingan tidak sehat. Seseorang
tidak simpati melihat orang lain hidup bahagia ataukah ia tidak menginginkan
ada orang lain yang mau menyaingi dirinya dan ia tidak mampu menerima kenyataan
ini, maka ia mengambil jalan pintas dengan membunuh siapa saja sebagai
pesaingnya.
Dalam
Kisah Kejadian 4:11-12, Allah menghukum Kain atas perbauatannya. Allah
mengasingkan Kain dari daerahnya dan mengusirnya pergi ke tanah Nod. Allah
memang menghukum Kain namun Ia tidak
membinasakan Kain. Hal ini tertuang dalam Ayat 15. Allah mengatakan tidak ada
seorangpun yang akan menghabisi nyawamu dan keturunanmu. Hukuman Allah bukanlah
hukum yang mematikan, melainkan hukum yang menghidupkan yang memberi kebesan kepada
manusia untuk bertobat dari dosa, untuk bangkit dari keterpurukkan menuju arah
yang lebih baik. Oleh karena itu hukum Allah adalah hukum Cinta kasih. Allah
mengasihi, mengampuni dan memberi kebebasan kepada setiap orang untuk bertobat
dan mengubah diri serta kembali kepada-Nya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dianne
Bergant & Robert J. Karris (edt.), Tafsiran
Alkitab Perjanjian Lama,Yogyakarta: Kanisius,
2002.
Georg
Kirchberger, Allah Menggugat, Maumere: Ledalero, 2007.
Guido
Tisera (edit) Mengolah Konflik
Mengupayakan Perdamaian,Maumere :LPBAJ,
2002.
H. Haag, Kamus Alkitab, Ende: Nusa Indah, 1998.
J. D.
Douglas (peny.), EnsiklopediAlkitab Masa
Kini, Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 1992.
Leo
van Beurden, How to Enjoy the Holy, Gramedia: Jakarta, 2004
Stefan
Leks, Kejadian,Ende: Nusa Indah.
Brown,
Raimond E. (edit.), The New Jerome
Biblical C ommentary, Bangalone:
Theological Publications In India, 1995.
[1]
Dianne Bergant & Robert J. Karris (edt.), Tafsiran Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta:
Kanisius, 2002), p. 43.
[2]
J. D. Douglas (peny.), EnsiklopediAlkitab
Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992), p. 492.
[3]
Leo Van Beruden, Holy Bible,
(Gramedia: Jakarta,
2004), p.19.
[4]
J. D. Douglas (peny.), Op. Cit., p.
351.
[5]
Georg Kirchberger, Allah
Menggugat (Maumere: Ledalero, 2007), p. 303.
[6]
H. Haag, Kamus Alkitab (Ende: Nusa
Indah, 1998), p. 192.
[7]
Raimond E. Brown (edit.), The New Jerome
Biblical C ommentary (Bangalone: Theological Publications In India, 1995),
p. 13.
[8]
Stefan Leks, Kejadian (Ende: Nusa Indah) p. 36.
[9]
Leo Van Beruden, Loc. Cit.,
[10]
Georg Kirchberger, Op. Cit., p. 304
[11]
Guido Tisera (edit) Mengolah Konflik Mengupayakan Perdamaian
(Maumere :LPBAJ, 2002), p. 12
[12]
Georg Kirchberger, Loc. Cit.,
[13] Dianne Bergant &
Robert J. Karris, Loc. Cit.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar