IRI HATI: Memisahkan Relasi Antara Manusia dan Allah - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

IRI HATI: Memisahkan Relasi Antara Manusia dan Allah

 

Ilusrasi iri hati melihat rumput tengga (Foto: Erabaru.com)

Penulis: Hendrikus Dasrimin


I. Pendahuluan
Hakikat manusia adalah ada bersama dengan yang lain, sehingga ia dikenal sebagai homo sociale.Gabriel Marcel, seorang filsuf yang sangat terkenal mendevinisikan eksistensi manusia ini sebagai “esse est co-esse”; ada berarti ada bersama. Hal ini berarti bahwa manusia selalu bergantung pada yang lain. Oleh karena itu manusia harus melihat sesamanya bukan sebagai suatu saingan melainkan sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Merebaknya realitas konfliktual yang terjadi akhir-akhir ini merupakan bukti dari lemahnya intensitas kesadaran manusia yang melihat orang lain sebagai suatu saingan dalam hidupnya. Manusia tidak lagi melihat sesamanya sebagai bagian dari hidupnya tetapi lebih melihat kehadiran orang lain sebagai penghalang dari keberadaannya. Mungkin dalam hal ini afirmasi eksistensi manusia sebagai “homo homini lupus” dari Thomas Hobbes bisa benar.

Pada hakikatnya persaingan merupakan suatu hal positif yang dapat mendorong manusia untuk dapat berkembang. Namun persaingan itu dapat juga berdampak negatif apabila terjadi persaingan yang tidak sehat. Dalam kenyataannya persaingan dapat menyebabakan rasa iri hati bagi pihak yang merasa diri disaingi. Rasa iri hati ini akan dapat menyebabkan perselisihan atau pertentangan di antara sesama bahkan dapat berakhir dengan pembunuhan atau peperangan.

Iri hati merupakan suatu sikap manusia yang bukan hanya terjadi pada dunia kita dewasa ini, tetapi hal itu sudah terjadi sejak zaman dahulu. Kisah Kain dan Habel dalam Kej 4:1-16, adalah salah satu contoh kisah yang menceritakan ke-irihati-an manusia terhadap sesamanya.

Kisah Kain dan Habel mau menggambarkan lebih lanjut keterasingan manusia dari Yahwe. Pusat perhatian cerita ini tertuju pada dosa Kain dan hukuman yang diakibatkan dosa itu. Diperkirakan perhatian cerita yang asli adalah pada dendam antara bangsa-bangsa yang berbeda latar belakang dan pekerjaannya, khususnya antara para petani dan para gembala.[1] Cerita ini berakhir dengan berpalingnya Kain dari hadapan Allah dan pergi ke tanah Nod, di sebelah timur Eden.

Dalam cerita itu ditampilkan sosok Habel yang memiliki karakter sebagai seorang yang beriman teguh kepada Allah. Hal itu dibuktikan dengan kesediaanya untuk mempersembahkan seekor domba bagi Tuhan. Sementara itu Kain dilukiskan sebagai seorang yang memiliki sifat iri hati dan pemarah. Hal ini dapat dilihat pada ayat yang ke tiga dari kisah tersebut di mana Kain memukul dan membunuh Habel karena rasa iri hatinya kepada Habel yang persembahannya diterima oleh Allah.

Melihat kenyataan itu, Allah hadir sebagai yang berkuasa untuk menghukum orang yang berdosa (ayat 11), tetapi sekaligus Ia hadir sebagai Allah yang melindungi atau mengasihi semua orang yang telah bersalah kepada-Nya (ayat 15).

Sikap iri hati dapat menciptakan suatu “relasi konflik” baik antara sesama manusia maupun antara manusia dengan Allah. Atau dengan kata lain, iri hati dapat memisahkan hubungan kita dengan sesama maupun dengan Tuhan.


II. Iri Hati: Memisahkan Relasi Antara Sesama Manusia dan Allah
2.1. Iri Hati: Memisahkan Relasi Antara Manusia dengan Sesamanya

Sebelum menelaah lebih dalam tentang pokok ini, alangkah baiknya kita memahami lebih dahulu tentang arti dari nama kedua tokoh dalam teks Kej 4:1-16 yaitu Kain dan Habel. Kain berarti ciptaan, seorang yang mulia dan terhormat. Dia adalah anak sulung Hawa. Dalam 1 Yoh 3: 12, Kain disebut berasal dari si jahat (ek tou pon’erou). Karena ia tidak benar di hadapan Allah (Ibr 11: 4) maka korban persembahannya ditolak Alllah.[2]

Sedangkan Habel menurut akar katanya dalam bahasa Ibrani berarti kekosongan yang melambangkan orang yang lemah, tak berdaya. Dia adalah anak bungsu Hawa.[3] Nama Habel kadang-kadang dihubungkan dengan kata alpu dalam bahasa Akad yang berarti “putra” atau dengan kata Ibila dalam bahasa Sumer. Tetapi karena tidak diketahui bahasa yang dipakai pada waktu itu maka dalam hal ini tetap merupakan tekanan Habel adalah seorang yang benar (Mat 23:35) dan ketika ia sebagai gembala (Kej 4:2) ia mempersembahkan korban kepada Allah dan Allah berkenan menerimanya (Kej 4:4; Ibr 11: 4).[4]

Dalam kisah Kain dan Habel, Allah lebih berkenan kepada persembahan Habel dari pada apa yang dipersembahkan oleh Kain. Ia memperhatikan kurban si bungsu yang tidak berarti dan yang diremehkan. Dalam teks atau tradisi Yahwista, tidak ada pernyataan bahwa ada sikap berbeda dalam diri Kain dan Habel atau mutu berbeda pada bahan korban, tanpa ada alasan dalam diri Kain dan Habel atau bahan persembahan mereka. Tuhan mengindahkan yang satu dan yang lain tidak.[5] Menurut eksegese Yahudi dan juga dalam Perjanjian Baru (Mat 23: 35; 1 Yoh 3: 12; Ibr 11: 4) bahwa alasan penolakan Allah terhadap persembahan Kain terjadi karena kejahatannya atau karena sifatnya yang tidak percaya.[6]

Seandainya hidup Kain dan Habel diwarnai oleh rasa  persaudaraan, maka bukan tidak mungkin mereka akan senang dan bahagia, sehingga membagikan hasil dan menikmatinya bersama-sama. Tetapi kita berada dalam situasi persaingan di mana manusia harus menjamin hidupnya dengan perjuangannya sendiri. Dalam situasi demikian, setiap keuntungan sesama menjadi ancaman bagi yang lain. Sebab itu, Kain yang gagah tidak bisa menerima sikap Allah itu.[7] Ia hanya memperhatikan dirinya sendiri dan tidak ikut melihat saudaranya berhasil dalam terang mata Allah. Ia tidak memandang saudaranya yang lemah, tetapi ia hanya terfokus pada dirinya sendiri. Kain menjadi panas hatinya dan cemas, jangan-jangan adiknya itu akan menguasai dia, sehingga timbullah rasa iri hati yang mengakibatkan pembunuhan. 

Situasi yang dialami Kain dan Habel juga dialami oleh kita manusia zaman ini. Setiap orang sama-sama berjuang dengan sekuat tenaga untuk dapat berhasil. Dan dalam kenyataannya kita harus bisa menerima bahwa ada yang berhasil namun ada juga yang tidak. Hal inilah yang menimbulakan iri hati. Sikap ini sudah menjadi kebiasaan malahan menjadi keutamaan yang dibanggakan manusia.[8]

Rasa iri hati akan menimbulkan konflik yang pada nantinya akan memisahkan hubungan antara manusia dengan sesamanya. Hadirnya iri hati dalam diri manusia akan dapat menciptakan ketidakdamaian dalam hidup. Karena iri hati, manusia dapat melihat sesamanya sebagai musuh yang harus diperangi sebab kehadirannya dianggap sebagai sesuatu yang sangat membahayakan bagi dirinya sendiri.

2.2. Iri Hati: Memisahkan Relasi Manusia Dengan Allah

Pada hakekatnya iri hati merupakan suatu perasaan kurang senang, ketika satu pihak melihat pihak lain beruntung dalam suatu usaha. Berdasarkan pandangan ini tentu dapat menimbulkan perasaan cemburu, sehingga orang mudah memisahkan relasi dengan sesamanya. Jika satu individu memisahkan relasinya dengan individu lain, sama halnya ia telah memisahkan relasinya dengan Allah. Mengapa? Karena Allah tidak hadir secara langsung dalam setiap peristiwa hidup seorang manusia, melainkan eksistensi manusia adalah identik dengan Diri Allah itu sendiri. Di samping itu, manusia melihat iri hati terhadap sesama atau saudaranya dapat mengakibatkan pembunuhan, sehingga relasi antarmanusia pun turut putus karena konsekuensi sikap iri hati.[9]  Andaikata relasi antarmanusia tidak diindahkan secara berkesinambungan dalam ziarah hidup setiap manusia di bumi ini. Itu berarti manusia telah memisahkan relasinya dengan Allah pemberi hidup dan pengasal segala sesuatu. Mengapa demikian? Karena manusia itu sendiri adalah Diri Allah yang konkret. Kendati Ia tidak berhadapan secara langsung dengan manusia namun nyata dalam diri manusia itu sendiri.

Kita seharusnya bertanya pada diri kita, mengapa Kain melakukan tindakan pembunuhan terhadap adiknya Habel. Tentu saja kita dapat menemukan responnya sebagaimana telah nyata dalam Kitab Kej 4:1-16. Bahwa terjadi pembunuhan merupakan konsekuensi dari sikap iri hati. Meskipun demikian, Allah secara konstans menyapa dan memperingatkan Kain agar ia jangan melakukan lagi tindakan tragis yang sama seperti semula. Hal ini berarti Allah menegaskan kita sejauh mana kita dapat menjunjung tinggi nilai-nilai pertalian antar kita dan kita dengan Allah.

Dunia dewasa ini telah terhimpit oleh aneka pertikaian dan iri hati terus merajalela kehidupan manusia itu sendiri, karena orang telah mengelakkan diri dari Allah sang pemberi hidup dan penjamin hidup itu pula. Untuk itu kita jangan merasa heran dan mempersoalkan masalah-masalah yang menyangkut iri hati antar manusia. Yang perlu dipikirkan dan direfleksikan oleh pihak manusia adalah bagaimana seseorang menjaga relasi timbal balik antar manusia sebagai makhluk yang lahir dalam konteks sosial (Human Sociale). Bagaimana manusia meningkatkan pertalian yang intim dengan Allah. Hanya dengan demikian relasi manusia dengan Allah semakin dijaga dan ditata dan akrab seacara personal maupun impersonal.

Ketika kita berbicara tentang relasi antara manusia dengan Allah, sama halnya kita berbicara tentang relasi eksistensi manusia itu sendiri. Manusia mesti sadar bahwa Allah adalah diri manusia itu sendiri atau adaku, karena diciptakan oleh Dia yang tidak bisa diciptakan lagi. Ketika relasi antarmanusia berjalan dengan baik dan benar, disini membuka kemungkinan bagi manusia untuk berjumpa dengan Allah. Secara singkat Allah ada di antara kita. Oleh karena itu, agar dunia dewasa ini dapat mengabadikan korelasi antar manusia dan manusia dengan Allah. Maka manusia diharapkan untuk menciptakan hubungan yang intim antar manusia itu sendiri. Dengan demikian kita tidak mudah menaruh rasa iri terhadap orang lain tanpa alasan yang tidak jelas, melainkan kita justeru dipandang sebagai ciptaan Allah yang senantiasa bersatu dengan-Nya sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan hidup serta sumber pemberi hidup melalui hubungan yang baik antarmanusia.


III. Relevansi Atau Pesan Teologis Bagi Kita

Manusia adalah makhluk sosial. Ini berarti, dalam kehidupan bersama manusia membutuhkan sesamanya. Untuk dapat mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup, seseorang tidak dapat berjalan sendiri. Ia tidak hanya membutuhkan sesamanya, tetapi juga kehadiran Allah dalam hidupnya menjadi kunci utama berhasil. Peran Allah dan sesama dalam hidup justru pada saat ini kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena manusia mau berjalan sendiri dan lebih mengandalkan diri sendiri. Sikap egoisme membuat manusia semakin jauh dari hadapan Allah dan sesamanya. Akhirnya manusia terlempar jauh dari kehidupan bersama.

Dalam kehidupan bersama, persaingan senantiasa mewarnai lika-liku kehidupan di mana manusia harus menjamin hidupnya dengan perjuangannya sendiri[10]  Kalau mau hidup sukses, maju dan berhasil orang harus bisa bersaing dengan sesamanya. Hal ini wajar karena persaingan membuat orang mau berubah, untuk mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Sayangnya, persaingan yang terjadi saat ini justru menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Dengan pelbagai cara yang tidak berkenan di hadapan Allah dan sesama, oranbg berusaha mencapai kesuksesan dan perubahan dalam hidup. Dengan cara yang demikian pula orang berusaha menghancurkan sesamanya. Ada pula yang merasa diri tidak berhasil dalam hidup menganggap dirinya tidak diperhatikan Allah. Dalam hidup ini, Allah bersikap tidak adil. Karena itu, orang berusaha menghancurkan orang yang telah berhasil dengan cara yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan moral.

Kisah Kain dan Habel mau menunjukkkan kepada seluruh umat manusia bahwa di dunia ini sering terjadi persaingan yang tidak sehat. Karena iri hati kepada sesama yang berhasil dalam hidup, dengan cara sendiri kita berusaha menghancurkan bahkan membunuh sesama kita yang lain. Pada posisi seperti ini, kekrasanlah yang terjadi. Berbicara tentang kekerasan tak terlepas dari kehidupan manusia dewasa ini. Lantas kita bertanya, mengapa semua ini terjadi? Satu hal yang dapat dikatakan bahwa kekrasan itu terjadi karena manusia merasa curiga dengan sesama. 

Manusia merasa curiga, jangan-jangan sesamanya dapat menguasai dirinya. Kecurigaan inilah yang membuat manusia sulit untuk menerima keberhasilan dari sesamanya. Setiap orang mempunyai hasrat dan keinginan untuk menjadi yang terbaik, terdepan dan utama serta tidak ingin disaingi. Ketika keinginan dan hasratnya tidak tercapai, manusia balik menuduh Allah bersikap tidak adil dan menganggap sesamanya sebagai saingan. Karena itu, tak segan-segan manusia bertindak malampaui apa yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Kain dan Habel adalah kiasan bagi setiap kelompok dalam hidup bersaudara dan Allah hadir untuk menuntut tanggung jawab manusia terhadap kekerasan yang terjadi[11].

Belajar dari kisah Kain dan Habel, sikap kerendahan hati dan semangat persaudaraan amat dituntut pada zaman ini. Rendah hati artinya kita mampu menerima dengan lapang dada keberhasilan dan kesuksesan dari orang lain. Kita dituntut untuk berlajar dari keberhasilan dan kesuksesan orang lain. Bila manusia hidup dalam semangat persaudaraan dan kasih, sudah pasti tidak akan ada kecurigaan di antara manusia dan hidup ini akan terasa lebih indah. 

Dalam kehidupan bersama, dibutuhkan juga sikap keterbukaan baik kepada diri sendiri, sesama maupun Allah. Kerap kali manusia lebih suka memendam segala hal yang tidak berkenan dalam dirinya entah perlakuan dari sesamanya maupun Allah. Justru hal ini secara perlahan-lahan mengahantar manusia jauh dari hadapan Allah dan manusia. Sikap inilah yang membuat orang punya keinginan untuk balas dendam. Balas dendam justru akhirnya menjadi kebiasaan di antara manusia dan malah menjadi keutamaan yang dibanggakan.[12]


IV. Rangkuman

Dari penjelasan di atas dapat dibuat suatu rangkuman tentang analisis literer sebagai berikut:
  1. Bentuk Sastra; adalah sebuah cerita, karena:
    • Ada tokoh protagonis, antagonis dan tokoh-tokoh lainnya: Hawa (4:1), Kain (4: 1, 2, 5, 6, 8, 9, 13, dan 16), Habel (4: 2, 4, 8, dan 9) dan Allah (4: .....................)
    • Ada ciri karakterisasi dari toko-tokoh:
Habel: mempunyai iman yang teguh kepada Allah.
Habel insyaf bahwa ia adalah orang yang berdosa, sehingga ia mengambil seekor domba dan membawanya kepada Tuhan. Perbuatannya ini menunjukan bahwa ia adalah orang yang beriman.
Kain: marah dan iri hati.
Hal ini ditunjukan pada ayat 8 (ia memukul dan membunuh adiknya). Ia juga adalah seorang pembohong (ayat 9). Selain itu ia adalah orang yang tidak mau bertobat. Ia pergi jauh-jauh dari Allah (ayat 16-17).


Allah (Yahwe): mengutuk tetapi sekaligus melindungi.
Allah mengutuk Kain (ayat 11) tetapi di samping itu Ia berjanji pula untuk melindung hidup Kain (ayat 15).
·         Adanya dialog dari tokoh-tokoh:
Dialog antara Allah dan Kain (4: 7-15).
·         Mempunyai alur atau jalan cerita:
Kisah ini menyusul kisah dosa manusia pertama dan mengambarkan lebih lanjut keterasingan manusia dari Yahwe. Ayat-ayat pertama merupakan peralihan dan dipergunakan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh utama cerita.
Cerita itu dengan cepat bergerak ke peristiwa pembunuhan Habel dan hukuman Yahwe atas Kain. Cerita ini berakhir dengan berpalingnya Kain dari hadapan Tuhan dan pergi ke tanah Nod, di sebelah timur Eden.

b.  Pesan Teologis
Pusat perhatian cerita ini tertuju pada dosa Kain dan hukuman yang diakibatkan dosa itu. Diperkirakan perhatian cerita yang asli adalah pada dendam antara bangsa-bangsa yang berbeda latar belakang dan pekerjaanya, khususnya antara para petani dan para gembala.[13]
c. Konteks Literer:
Kisah tentang Kain dan Habel sebenarnya mau melanjutkan kisah-kisah sebelumnya tentang dosa manusia (Kej 3). Bagi Yahwis cerita ini menggambarkan kecenderungan manusia terhadap dosa.
Habel mempersembahkan sebuah

IV. Penutup

Iri hati merupakan penyebab utama terjadinya pertikaian baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Iri hati bagaikan penyakit yang mematikan dan memupuskan harapan hidup bersama. Ktenteraman dan keapikan akan tercerai-berai apabila iri hati berkelanjutan pada dendam dan berujung pada pembunuhan. Apabila dalam diri seseorang tertanam rasa iri hati terhadap sesama maka yang ada dalam dirinya hanyalah keinginan untuk menghabisi nyawa orang-orang yang dianggap sebagai tandingannya.

Dalam Kitab Kejadian 4:1-16, dikisahkan kedua saudara yaitu Kain dan Habel, dimana Kain membunuh Habel yang merupakan saudara kandungnya. Pembunuhan ini terjadi karena Kain merasa iri terhadap Habel adiknya. Kain tidak setuju dengan apa yang dialami Habel. Kisah ini mau menunjukkan bahwa hubungan darah tidak menjamin ketenteraman dan keselamatan serta tidak luput dari perasaan iri hati. 

Kisah Kain dan Habel merupakan secuil cerita yang mau mengangkat martabat kaum penggembala yang hidupnya selalu berpindah-pindah (nomaden) miskin dan sengsara dan para petani yang hidupnya menetap dan baik. Kain melambangkan para petani yang menguasai ladang dan seringkali bertindak kriminal terhadap para gembala dan Habel menggambarkan para gembala yang seringkali diusir, dikejar-kejar bahkan dibunuh oleh para petani sebagai penguasa ladang.

Tidak disangkal bahwa kejadian yang terjadi dahulu masih sangat relevan dan sering terjadi pada masa sekarang ini. Realitas dunia sekarang ini sangat memprihatinkan, disana-sini terjadi pertikaian, peperangan, pembunuhan mutilasi dan ada banyak kenyataan-kenyataan lain yang terjadi sebagai akibat dari rasa cemburu dan iri hati. Di sana-sini terjadi persaingan tidak sehat. Seseorang tidak simpati melihat orang lain hidup bahagia ataukah ia tidak menginginkan ada orang lain yang mau menyaingi dirinya dan ia tidak mampu menerima kenyataan ini, maka ia mengambil jalan pintas dengan membunuh siapa saja sebagai pesaingnya.

Dalam Kisah Kejadian 4:11-12, Allah menghukum Kain atas perbauatannya. Allah mengasingkan Kain dari daerahnya dan mengusirnya pergi ke tanah Nod. Allah memang menghukum Kain  namun Ia tidak membinasakan Kain. Hal ini tertuang dalam Ayat 15. Allah mengatakan tidak ada seorangpun yang akan menghabisi nyawamu dan keturunanmu. Hukuman Allah bukanlah hukum yang mematikan, melainkan hukum yang menghidupkan yang memberi kebesan kepada manusia untuk bertobat dari dosa, untuk bangkit dari keterpurukkan menuju arah yang lebih baik. Oleh karena itu hukum Allah adalah hukum Cinta kasih. Allah mengasihi, mengampuni dan memberi kebebasan kepada setiap orang untuk bertobat dan mengubah diri serta kembali kepada-Nya.



DAFTAR PUSTAKA


Dianne Bergant & Robert J. Karris (edt.), Tafsiran Alkitab Perjanjian Lama,Yogyakarta: Kanisius, 2002.      
Georg Kirchberger,  Allah Menggugat, Maumere: Ledalero, 2007.      
Guido Tisera (edit) Mengolah Konflik Mengupayakan Perdamaian,Maumere :LPBAJ,
2002.
H. Haag, Kamus Alkitab, Ende: Nusa Indah, 1998.
J. D. Douglas (peny.), EnsiklopediAlkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 1992.
Leo van Beurden, How to Enjoy the Holy, Gramedia: Jakarta, 2004
Stefan Leks, Kejadian,Ende: Nusa Indah.
Brown, Raimond E. (edit.), The New Jerome Biblical C ommentary, Bangalone:
Theological Publications In India, 1995.



       [1] Dianne Bergant & Robert J. Karris (edt.), Tafsiran Alkitab Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 2002), p. 43.
       [2] J. D. Douglas (peny.), EnsiklopediAlkitab Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992), p. 492.
       [3] Leo Van Beruden, Holy Bible, (Gramedia: Jakarta, 2004), p.19.
       [4] J. D. Douglas (peny.), Op. Cit., p. 351.
       [5] Georg Kirchberger,  Allah Menggugat (Maumere: Ledalero, 2007), p. 303.
       [6] H. Haag, Kamus Alkitab (Ende: Nusa Indah, 1998), p. 192.
       [7] Raimond E. Brown (edit.), The New Jerome Biblical C ommentary (Bangalone: Theological Publications In India, 1995), p. 13.
       [8] Stefan Leks, Kejadian (Ende: Nusa Indah) p. 36.
       [9] Leo Van Beruden, Loc. Cit.,
       [10] Georg Kirchberger, Op. Cit., p. 304
       [11] Guido Tisera (edit) Mengolah Konflik Mengupayakan Perdamaian (Maumere :LPBAJ, 2002), p. 12
       [12] Georg Kirchberger, Loc. Cit.,  
[13] Dianne Bergant & Robert J. Karris, Loc. Cit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar