BEATO DIONISIUS DAN REDEMPTUS (RIWAYAT HIDUP DAN KEMARTIRAN) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

BEATO DIONISIUS DAN REDEMPTUS (RIWAYAT HIDUP DAN KEMARTIRAN)

 

Oleh: H. Dasrimin


I.  PIERRE BERTHELOT
            1.1. Masa Kecil

Beato Dionisius lahir di Honfleur-Perancis pada tanggal 12 Desember 1600. Dia dipermandikan pada hari itu juga di Gereja Sainte Catherine dan diberi nama Pierre. Ayahnya bernama Pierre Berthelot dan ibunya bernama Fleurie Morin. Pierre Berthelot adalah anak suung dari sepuluh bersaudara.
Keluarga Berthelot adalah keluarga pelaut. Ayahnya adalah seorang ahli bedah dan seorang nakodah kapal. Kedua jabatan ini yang membuat ia sangat berkuasa di dalam kapal. Awak kapal lain taat kepadanya. Pada masa mudanya ia menganut Kalvinisme, namun kemudian bertobat dan menjadi penganut agama Katolik yang taat. Ia teguh dalam pendirian dan tegas. Setiap kali ia pulang berlayar, ia menceritakan pengalaman-pengalaman berlayar kepada anak-anaknya. Cerita-cerita inilah yang membangkitkan keinginan untuk menjadi pelaut dari anak-anaknya
Sejak kecil Pierre dan adik-adiknya mendapat pendidikan agama Katolik yang baik dari kedua orangtuanya. Ayah dan ibu mereka adalah pemeluk agama Katolik yang setia. Setiap hari anak-anak diajarkan berdoa kepada Yesus dan Maria. Selain itu mereka bersama-sama ke Gereja mengikuti perayaan Ekaristi. Pierre sejak kecil mempunyai devosi yang khusus kepada Bunda Maria. Pendidikan agama Katolik yang baik ini membentuk kepribadian Dionisisus yang sangat religius.
Pierre pertama kali ikut berlayar pada usia 12 tahun bersama dengan ayahnya dengan kapal milik ayahnya “I’Aigle”. Selama tujuh tahun berlayar, ia memperoleh pelajaran yang sangat berharga dari ayahnya, termasuk cara membuat peta. Pribadi ayahnya yang sangat jujur, religius, taat, teguh dan keras dalam mendidik putra-putrinya membentuk Pierre menjadi pelaut yang tangguh. Dalam kapal ayahnya, Pierre tidak mendapat perlakuan istimewa meskipun ia yang termuda dan sebagai anak nahkoda kapal. Namun dari pengalaman-pengalaman inilah tumbuh dalam diri Pierre sifat yang menjadi keutamaannya yaitu rendah hati, jujur dan taat. Selain itu, karena pelayaran itu juga ia telah mengunjungi beberapa negara seperti Spanyol, Inggris dan Amerika[1]. Pada usia 19 tahun, Pierre sudah mahir dalam membuat peta dan diperkenankan menjadi nahkoda pada kapal ayahnya.

            1.2. Perjalanan Ke Asia

Pada tahun 1616 pedagang-pedagang Paris mulai melirik ke Hindia Timur (Asia) yakni: Indonesia, Birma, Malaka, Cina, Tiongkok dan Jepang, sebagai tujuan pelayaran. Pelayaran perdana ini dipimpin oleh Agustinus de Beaulieu. Pelayaran ini berhasil sehingga diputuskan untuk kembali melakukan pelayaran dengan tujuan ke kepulauan Sunda. Pelayaran kedua ini terjadi pada tanggal 2 Oktober 1619, dengan tiga buah kapal yaitu: Montmorenci, Esperance dan Ermitage. Karena keberhasilannya pada pelayaran pertama maka Agustinus de Beaulieu diangkat menjadi Komandan tiga kapal ekspedisi Perancis ini. Pierre Berthelot bergabung dengan kapal Esperance atas anjuran kedua orangtuanya yang mengenal baik kapten kapalnya yang bernama Robert Dupont Grave yang sering melakukan pelayaran ke Kanada bersama ayah Pierre.
Pada tanggal 15 Februari 1620 mereka berlabuh di Teluk Medja (Tafel Baai), Afrika Selatan. Di sana ketiga kapal ini berlabuh agak lama sehingga para awak kapal pun turun dan pergi melihat daerah itu sambil mencari sayur dan buah-buahan yang dapat dimakan. Satu peristiwa yang patut dicatat bahwa di tempat inilah Pierre menemukan sekumpulan surat. Surat-surat itu milik orang Belanda. Salah satu dari surat itu menceritakan bahwa orang Belanda sudah mengepung kota Batam dan orang-orang Inggris yang berada di daerah itu terpaksa harus pergi. Informasi ini membuat Agustinus de Beaulieu kawatir akan keberhasilan pelayaran mereka. Karena itu ia memutuskan agar kapal Esperance dengan kaptennya Robert Grave diutus ke Batam untuk menghadap pimpinan orang-orang Belanda itu. Maka pada tanggal 1 Mei 1620 berpisalah ketiga kapal tersebut. Kapal Esperance berlayar ke Batam dan dua kapal lainnya menuju ke pantai Coromandel melalui Madagaskar. Mereka berharap pada akhir tahun dapat bertemu kembali di Perancis.
Setelah menempuh perjalanan selama tujuh bulan, sampailah esperance di sebuah pulau sebelah utara Bengkulu, di pantai barat Sumatera. Kedatangan Esperance ternyata telah diketahui oleh orang Belanda dan ketika mereka hendak mendarat di pulau itu, mereka diserang oleh orang Belanda yang mengira mereka adalah orang-orang Inggris. Kapten Robert Grave dan beberapa awak lain ditangkap dan dihadapkan kepada kapten kapal de Leyden, Willem Schoutten. Namun tak berapa lama mereka dilepaskan kembali, sebab orang Belanda tidak boleh menangkap kapal orang Perancis. Kapten Grave meminta pertolongan Willem supaya mengiringi mereka dalam perjalanan agar mereka tidak di halangi lagi oleh kapal-kapal Belanda yang lainnya. Willem menyetujuinya namun dengan bayaran yang mahal.
Esparance berlayar maju didampingi de Leyden. Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, sampailah mereka di Jakarta melewati Banten. Di Jakarta mereka menghadap pemimpin orang-orang Belanda, Jan Pieterzoon Coen dan mendapat ganti rugi atas kerugian yang mereka alami akibat serangan dari kapal-kapal Belanda. Karena itu mereka diperkenankan mengisi kapal mereka dengan rempah-rempah sebagai ganti ruginya. Namun ketika hendak pulang, orang-orang Belanda datang dan meminta sepertiga dari muatan itu dikembalikan untuk mereka. Kapten Robert Grave menolak permintaan itu. Akibatnya orang-orang Belanda menyerang Esperance. Akhirnya pada tanggal 16 Juni 1621, pada malam hari kapal Esperance dibakar oleh orang-orang Belanda.
Kapten Robert Grave dan enambelas awak kapal lainnya termasuk Pierre diselamatkan oleh kapal Inggris “Charles” dan dibawah ke Aceh. Di sana mereka bertemu kembali dengan kapal Montmorentcy yang dipimpin oleh Agustinus de Beaulieu. Pertemuan ini merupakan pertemuan yang menggembirakan, namun juga penuh ratap tangis karena hilangnya saudara-saudara mereka yang lain. Juga karena Robert Grave sakit hingga menghembuskan nafas terakhirnya di sana.

             1.3. Jauh Dari Tanah Air

Setelah lama tinggal dan bekerja untuk pemerintah Perancis di Aceh, Pierre mulai mencintai tanah air itu. Ia berniat untuk tetap tinggal di Aceh, sehingga ia meminta ijin kepada Agustinus de Beaulieu untuk berhenti dari jabatannya. Agustinus heran dengan permintaan Pierre itu dan berusaha membatalkannya, namun Pierre tetap pada pendiriannya.
Dalam perencanaan, pada tanggal 1 Februari 1622 Montmorentcy akan berlayar pulang ke Perancis, penuh dengan lada dan rempah-rempah. Agustinus de Beaulieu menceritakan kepada Pierre apa yang akan ia terima jika ia kembali ke Perancis. Kenaikan pangkat, penghargaan, uang dan lain-lain akan diberikan kepada Pierre. Namun Pierre tetap pada pilihannya. Melihat keteguhan hati Pierre, Agustinus tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia kemudian mengambil sebuah kertas dan membuat sebuah rekomendasi untuk Pierre dengan dibubuhi tandatangannya dan meterai negara Perancis.
Di Aceh, Pierre segera mendapat pekerjaan baru. Ia diterima oleh persekutuan dagang Perancis Saint Malo dan ia menjadi juru mudi kapal dagang. Pelayaran pertama untuk majikannya yang baru itu terjadi pada tanggal 1 Maret 1622 dengan tujuan Makasar. Mereka tiba pada bulan Mei. Di sana mereka diterima baik oleh raja dan diijinkan untuk mendirikan kongsi dagang. Namun kongsi dagang ini hanya bertahan enam bulan lalu bangkrut. Karena itu, Pierre mencari pekerjaan pada orang-orang Belanda yang ada di sana.
Orang-orang Belanda pada umumnya memeluk Kalvinisme yang sangat membenci ajaran Katolik. Bagi Pierre yang tidak malu mengakui agamanya, setiap hari selalu diejek dan diusik. Tak pernah ia mendapatkan sakramen yang sangat ia rindukan. Inilah yang menentukan dia tidak ragu lagi meminta berhenti dari jabatannya. Pada tahun 1625, Pierre bergabung dengan orang-orang Portugis. Hal ini membuat dia merasa genbira karena orang-orang Portugis itu juga adalah orang-orang Katolik. Kerianduannya untuk menerima sakramen terpenuhi.
Pada tahun 1626, ia bekerja di Goa. Goa merupakan kota daerah pendudukan Portugis di India, di bawah raja muda Graaf de Linhares. Di sana Pierre diangkaat menjadi kepala angkatan laut Portugis di lautan Indonesia. Dalam suatu pertempuran di Jambi ia berhasil mengambil bendera tentara musuh dan menghancurkan kapal Sultan Aceh; Sultan Iskandar Muda. Atas prestasi ini, Pierre dianugerahi gelar bangsawan dari raja Portugis.

            1.4. Induxi Vox In Terram Carmely

Selama bekerja dengan orang-orang Portugis, Pierre sungguh mendapatkan segala sesuatunya; pangkat, pengehargaan, gaji yang tinggi dan gelar bangsawan. Namun semuanya itu tidak membuatnya bahagia. Ia merasa bahwa hidupnya tidak semprna jika ia tidak mengabdi kepada Yesus secara khusus. Ia kemudian mengungkapkan niatnya untuk masuk biara kepada pembimbing rohaninya. Atas petunjuk pembimbing rohaninya, Pierre memilih Serikat Jesus. Namun rencana Tuhan atas dirinya berbicara lain. Lamarannya ditolak oleh pemimpin Serikat Jesus, lantaran Serikat Jesus tidak ingin berhubungan dengan raja muda Goa, Graaf de Linhares rusak dengan menerima Pierre.
Melihat keinginan yang kuat untuk masuk biara, maka pembimbing rohaninya mengajak Pierre mengikuti doa-doa harian yang diadakan oleh para Karmelit di Goa. Kunjungan pertama ini ternyata terkesan baginya. Maka setiap hari ia selalu berkunjung ke Kapela para Karmelit pada malam hari karena di sana ia mendapatkan ketenangan.
Kehadirannya dalam doa-doa setiap hari ternyata menarik perhatian Pater Prior, Philipus a Sanctissima Trinitate. Pada suatu kesempatan Pater Prior menunggu Pierre di depan Kapela. Dalam hati ia berpikir bahwa orang ini pasti memiliki masalah sehingga pada waktu malam hari ia datang berdoa, sebab jarang sekali orang datang ke biara pada malam hari untuk berdoa. Maka terjadilah pertemuan yang sangat berkesan bagi Pierre. Ia sangat bahagia karena Pater Prior menaruh perhatian padanya. Selain itu Pater Prior juga adalah seorang Perancis yang adalah saudara setanah airnya sendiri. Maka pada kesempatan itu Pierre secara tulus menyampaikan isi hatinya kepada Pater Prior. Pater Prior percaya akan apa yang disampaikan Pierre dan seperti biasa setiap calon yang baru, tidak langsung diterima tetapi harus mengikuti retret terlebih dahulu.
Mendengar cerita ini, raja muda Goa segera mengambil tindakan. Ia mengangkat Pierre menjadi komando eskander tiga buah kapal dan 25 buah kapal lainnya yang akan berekspedisi ke Mombassa, Afrika. Atas pertintah ini Pierre tidak bisa berbuat apa-apa. Demikian juga Pater Prior. Namun Pater Prior menganjurkan agar ia mentaati perintah itu. Maka pergilah Pierre untuk beberapa tahun menjalankan tugas negara itu.
Pada tahun 1635 barulah Pierre kembali dan ia bertemu lagi dengan Pater Prior. Pierre pun diterima untuk masuk novisiat. Pada tanggal 24 Desember 1635, Pierre menerima jubah. Sebagai seorang biarawan pada masa itu yang mempunyai kebiasaan mengganti nama baru, maka Pierre memilih nama baru “Dionysius a Navitate”. Dionysius adalah pelindung negeri Perancis, tanah airnya. Sedangkan Navitate artinya kelahiran, sebagai kenangan akan hari penerimaan jubah pada hari kelahiran Yesus Kristus.

            1.5. Menjadi Biarawan Karmel

Doa, kerja dan mati raga adalah aktivitas yang sangat penting dalam hidup seorang Karmelit. Tiada hari tanpa doa, kerja dan mati raga. Bagi Fr. Dionysius sendiri doa tidak menjadi hal yang sulit bagi dirinya karena sejak masa kecil dia telah diajarkan oleh orangtuanya untuk rajin berdoa. Selama beberapa bulan di novisiat, Dionysius mengalami kemajuan yang sangat berarti dalam hidup rohani.
Sementara itu Don Pedro da Silva, raja muda baru sibuk dengan armada barunya. Kesulitan yang paling besar adalah mencari orang yang sangat cocok untuk menjadi komandan dari kapal-kapal itu. Dan yang tak kalah pentingnya juga adalah mencari seorang penunjuk jalan yang tahu seluk beluk pelayaran, tahu selat-selat dan tahu tempat-tempat yang berbahaya. Untuk kedua posisi ini ia harus mencari orang-orang yang berpengalaman dalam pelayaran.
Pilihan satu-satunya yang layak untuk posisi ini adalah Pierre Berthelot yang sudah masuk Karmel dengan nama Fr. Dionysius. Mengingat dia adalah seorang biarawan, maka Fr. Dionysius tetap tinggal di dalam biara, namun sangat diharapkan kesediaannya dan izinan pemimpin biara, jika dibutuhkan untuk menunjukkan beberapa hal penting kepada pemimpin yang datang berkonsultasi dengannya.
Raja Portugal mempunyai banyak perhatian kepada negeri Timur karena kemakmurannya. Namun peta yang baik untuk negeri tersebut tidak dimiliki. Lagi-lagi Fr. Dionysius yang harus menggambar peta itu, karena dia cukup berpengalaman dalam pelayaran dan ahli dalam membuat peta. Hal itu tidak dapat dihindari oleh Fr. Dionysius. Setiap hari ia mengisi pekerjaan harian dengan menggambar peta. Ia mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun ketenangannya tidak bertahan lama karena Goa dalam ancaman bahaya. Belanda ingin menguasai Goa. Dengan armada yang besar, Goa dikepung oleh kapal-kapal Belanda. Banyak kapal Portugis yang mencoba untuk menerobos blokade itu, tetapi mereka tidak mampu.
Melihat Goa dalam keadaan bahaya, Don Pedro sendiri pergi ke biara untuk menjemput Pierre. Setelah berbicara dengan Pater Prior dicapailah kesepakatan bahwa Fr. Dionysius dapat melakukan tugas negara itu sebagai biarawan Karmel. Tugas Fr. Dionysius sangat berat yaitu mengusir orang-orang Belanda yang menghalangi pedagang orang Portugis yang datang ke Goa. Dengan mantol putih dan Salib di tangan, ia berdiri di ajungan kapal untuk memberikan semangat kepada awak kapal untuk bertempur. Tugas ini ia lakukan dengan baik. Orang-orang Belanda diusir dan perdagangan terbuka lagi untuk Portugis.
Berita kemenangan ini tersirat dengan cepat ke Goa. Lonceng-lonceng Gereja dibunyikan dan bendera dikibarkan. Masyarakat berduyung-duyung menyambut para prajurit. Pesta dilakukan di mana-mana untuk menyambut kemenangan itu. Namun Fr. Dionysius tidak peduli dengan semuanya itu. Dalam keramaian itu, ia pelan-pelan menghilang dan kembali ke biara. Di biara ia disambut dengan sukacita oleh konfraternya dan dilakukan pesta sederhana menyambut kedatangannya. Ia melanjutkan masa novisiatnya, tanpa mengalami halangan lagi. Dan pada tanggal 25 Desember 1636, Fr. Dionysius  mengikrarkan kaul pertamanya.

II.    THOMAS RODRIQUES  DA CUNHA
            2.1. Sebelum Masuk Karmel

Bruder Redemptus lahir di Paredes, Lisabon-Portugal pada tahun 1598. Nama aslinya Thomas Rodriques da Cunha. Ia berasal dari keluarga yang sederhana dan tidak mengenyam pendidikan formal. Orangtuanya pun tidak bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Thomas sendiri belajar membaca dan menulis dari salah seorang pastor di desanya.
Sejak kecil, Thomas mempunyai devosi khusus kepada Maria. Dalam keluarga mereka sering berdoa rosario bersama. Demikian pun ketika beristirahat saat bekerja di ladang, orangtua mereka langsung mengajak Thomas dan kakak-kakaknya untuk berdoa rosario. Selain itu, ia memiliki kepribadian yang tulus; ia bekerja jika waktunya bekerja, ia berdoa jika waktunya berdoa. Sejak kecil keluarganya banyak mengalami kekurangan, namun karena kepribadiannya yang periang atau humoris, seakan-akan semuanya itu tidak berarti baginya.
Ketika menginjak usia dewasa, pemerintah Portugis mengeluaran maklumat bahwa negara membutuhkan anak muda untuk dipekerjakan di daerah jajahan guna mempertahankan daerah jajahan dan turut serta dalam ekspedisi-ekspedisi baru. Setelah meminta izin kepada kedua orangtua dan pastor pembimbing rohaninya, Thomas mengikuti latihan militer di Lisabon, Portugal. Setelah beberapa bulan mengikuti latihan militer, Thomas dan beberapa pemuda lainnya diutus ke Guinea, sebelah barat Afrika.
Tugas mereka di sana adalah mempertahankan wilayah kekuasaan itu dan melakukan ekspedisi di daerah pedalaman. Selama di sana ia mengalami banyak perkembangan terutama dalam hal berperang dan menjadi prajurit yang tangguh. Pribadinya yang humor dan sikapnya yang sopan dan ramah membuat ia disayangi oleh semua temannya. Oleh karena itu, ia diangkat oleh pembesarnya menjadi kepala pasukan pengawal. Setelah beberapa tahun di Lisabon dan berhasil mempertahankan daerah itu dari pemberontak, ia dipindahkan oleh pembesar ke Goa.
Selama di Lisabon ia mendapat segala sesuatu yang berharga sebagai prajurit dan kepala pasukan. Namun semua itu tidak membuat hatinya tenang. Demikian juga di Goa dengan pangkatnya yang semakin tinggi. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Namun semuanya itu hilang ketika ia sedang berada di dalam Gereja dan berdoa. Hal itu dikonsultasikan dengan pembimbing rohaninya Pater Philipus a Sanctissima Trinitate, prior Biara Karmel di Goa. Dari penjelasan dan nasihat dari pembimbing rohaninya ini, maka mengertilah Thomas bahwa ia dipanggil untuk menjadi seorang religius.
Sebelum ia memutuskan untuk masuk biara, ia diberi kesempatan untuk mengadakan retret. Tempat yang dipilihnya adalah biara Karmel di Tatta-Monggolia. Ia pun disambut dengan gembira oleh para Karmelit yang ada di sana. Ia merasa tenang dan damai. Setelah beberapa minggu menjalani retret, akhirnya ia memutuskan untuk masuk Karmel. Pater prior melihat hal itu baik adanya, namun tidak serta merta menerimanya. Thomas diperkenankan tinggal di Biara Karmel sebagai anggota ordo ke tiga terlebih dahulu. Ia diperkenankan menjadi Karmelit setelah ia mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan Karmel yang sangat keras itu. Namun sebelum ia menetap di biara ini, ia diminta untuk kembali ke Goa guna mengurus hal-hal yang berkaitan dengan jabatannya.

             2.2. Hidup Di Karmel

Hidup di Karmel sungguh menyenangkan hati Thomas. Ia merasa bahwa telah menemukan apa yang ia cari selama hidupnya.  Latihan rohani dan aturan yang ketat tidak membuat dia menderita. Hal ini justru dilakukannya dengan senang hati. Ia sungguh mengalami perkembangan rohani dengan baik. Pater prior melihat bahwa baik kalau Thomas diterima sebagai Postulat. Masa postulatnya dijalankan selama satu tahun. Setelahnya ia diperkenankan untuk masuk novisiat. Ketika masuk novisiat ia memilih untuk masuk bruder dan namanya diganti menjadi Redemptus a Cruce; Redemptus dari Salib. Redemptus berarti “yang ditebus”.
Pekerjaan utamanya sebagai seorang bruder di biara adalah berdoa dan bekerja. Dalam biara ia dikenal sebagai seorang yang rendah hati dan sangat memperhatikan kebutuhan konfrater lainnya. Baginya hidup adalah sebuah cinta. Puasa yang keras membuat tubuhnya semakin hari semakin kurus.
Beberapa waktu kemudian, setelah mengucapkan kaul kekal, ia dipindahkan ke Diu, kota pendudukan kerajaan Portugis di pantai barat India. Di sana ia diberi tugas yang sama yakni sebagai penjaga pintu dan koster biara. Kedua tugas ini dijalankan dengan segenap hati dan ia merasa cocok dengan kedua tugas ini. Sebagai koster ia dapat mengunjungi kapela sesering mungkin. Sebagai seorang penjaga pintu, ia adalah orang pertama yang bertemu dengan setiap orang yang datang bertamu di biara. Tugas ini tidak mudah karena kesan orang luar tentang hidup di biara secara keseluruhan tergantung dari sikap dan perilakunya.
Pada tahun 1631, ia dipindahkan ke Goa oleh pembesarnya. Di sana ia sangat bergembira karena ia bertemu lagi dengan pembimbing rohaninya Pater Philipus a Sanctissima Trinitate. Di Goa, ia diberi tugas sebagai penjaga pintu dan koster, seperti tugas sebelumnya. Di biara ini pula Br. Redemptus bertemu dengan Fr. Dionysius. Ada hal yang membuat keduanya cepat akrab yaitu usia mereka sebaya dan juga karena latar belakang hidup mereka sebagai prajurit Portugis. Mereka sama-sama bertempur untuk negara Portugis dan kini mereka mempersembahkan diri kepada Tuhan dengan cara yang sama pula.

III.  UTUSAN KE ACEH

Fr. Dionysius mengenyam pendidikan imam dengan cepat. Para pembesar melihat latar belakang pendidikan serta usianya yang semakin tua, membuat ia tidak perlu melewati pendidikan imamatnya yang panjang. Maka pada bulan Agustus 1637, ia langsung menerima tahbisan rendah (lector dan akolit). Setengah tahun kemudian yakni pada tanggal 20 Maret 1638, ia menerima tahbisan diakon. Menurut kebiasaan ordo, untuk tahbisan imam, ia harus mengunggu setengah tahun lagi. Karena itu ditetapkan bahwa diakon Dionysius akan ditahbiskan menjadi imam pada bulan November.
Namun rencana Tuhan untuk Diakon Dionysius rupanya lain. Pada suatu hari datanglah seorang bangsawan Portugis ke Biara. Ia adalah Don Fransisco de Sousa da Castro. Ia meminta Diakon Dionysius untuk ikut serta dalam utusan ke Aceh. Da Castro sendiri adalah kepala utusan itu. Adapun tujuan ke Aceh adalah untuk mengadakan perdamaian. Sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, selalu terjadi persaingan perdagangan dan permusuhan antara Portugis dan Aceh. Keduanya sering terlibat dalam peperangan berkali-kali.[2]
Usaha untuk menjalin hubungan baik dengan Aceh sesungguhnya sudah beberapa kali dicoba oleh orang-orang Portugis. Pada tahun 1600, seorang imam Ordo St. Agustinus, P. Amaro, OSA dengan beberapa orang lain ditugaskan oleh Panglima Portugis Aceh, membujuk Sultan Aceh, Aladin Riajal menjalin hubungan dengan Portugis. Pada tahun 1607 Sultan Aladin Riajal meninggal dunia. Ia digantikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, hubungan dengan Portugis semakin parah. Ia beberapa kali menyerang Malaka namun tidak berhasil. Ia meninggal pada tahun 1636 dan digantikan oleh Sultan Iskandar Thani[3]. Kepada Sultan Iskandar Thani inilah orang Portugis mengirimkan utusan perdamaian pada tahun 1638.
Permintaan itu ditolak oleh Pater Prior. Lagi pula Diakon Dionysius belum ditahbiskan menjadi imam. Baru pada bulan November ia akan ditahbiskan menjadi imam dan saat-saat itu adalah kesempatan yang sangat penting untuk mempersiapkan diri. Namun Don Fransisco berusaha sekeras mungkin. Ia meminta surat perintah dari raja muda agar Pater Prior tidak bisa menolak lagi. Atas perintah ini, maka Pater Prior dan Diakon Dionysius tidak dapat menolak lagi. Maka yang diurus sekarang adalah meminta dispensasi untuk mempercepat tahbisan bagi Diakon Dionysius. Dan itu harus terjadi sebelum tanggal 25 September 1638, yang merupakan hari keberangkatan ke Aceh. Maka diputuskan bahwa tahbisan imam Diakon Dionysius terjadi pada tanggal 24 Agustus 1638. Ia menerima tahbisan pada hari pesta St. Bertholomeus itu oleh Mgr. Alvonso Mendez.
Utusan itu akan berangkat ke Aceh pada tanggal 25 September 1638, namun untuk perjalanan ini Pater Dionysius membutuhkan seorang teman seordo. Tradisi Karmel mengharuskan hal ini; berdua-dua dalam perjalanan atau bepergian. Akhirnya Br. Redemptus menjadi pilihan Pater Dionysius. Hal ini juga merupakan permintaan dari Br. Redemptus sendiri. Beberapa konfrater lain menghalangi niat Br. Redemptus, bahkan mereka sepakat untuk mencampurkan ramuan istimewa dalam makanan Br. Redemptus agar pada waktu berangkat nanti, ia mual-mual dan tidak dapat pergi. Selain karena mereka sangat membutuhkan dia tetapi juga karena kesehatannya yang kurang baik akibat askese dan mati raga. Namun usaha ini sia-sia, karena pada saat makan, bruder tidak merasakana apa-apa. Akhirnya mereka tidak dapat menghalanginya lagi.
Utusan itu berangkat seperti yang dijadwalkan pada tanggal 25 September 1638. Ekspedisi perdamaian ini diikuti tiga buah kapal: dua kapal perang dan satu kapal dagang. Ikut serta dalam ekspedisi kali ini adalah Don Fransisco, Pater Dionysius, Br. Redemptus, Don Ludovico, dua orang imam Fransiskan yaitu P. Manuel do Destero dan Br. Fransisco da Conceicao, seorang imam pribumi dan enam puluh orang awak kapal lainnya. Pater Dionysius memegang puncuk pimpinan karena ia berpengalaman dalam pelayaran.
Pelayaran berjalan lancar dan aman. Tanggal 25 Oktober mereka tiba di sebuah pulau dan menurut peta bumi dan perhitungan Pater Dionysius, pulau itu adalah pulau tawanan atau buangan yang sekarang bernama pulau Bien. Di pulau itu mereka beristirahat sehari sambil menambah persediaan sayur-mayur dan air tawar. Setelah satu hari beristirat, mereka meneruskan perjalanan. Namun tak seberapa jauh mereka berlayar, munculah dua kapal Belanda dan menyerang mereka. Namun pertempuran itu tak lama, karena kekuatan senjata Portugis dapat mengusir kedua kapal Belanda itu. Mereka terus melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di pelabuhan Ole-ole yang sekarang bernama Kotaraja.

IV.  DITAWAN

Kedatangan orang-orang Portugis diketahui oleh Sultan Iskandar Thani dari orang-orang VOC.[4] Mereka memberitahukan bahwa ada tiga buah kapal Portugis datang ke Aceh dengan misi perdamaian. Bagi Sultan Iskandar Thani, hal ini merupakan berita gembira karena dengan itu ia bisa mengadakan persahabatan dan perjanjian perdagangan dengan orang-orang Portugis.
Pada saat itu antara orang-orang Belanda dan Portugis saling bermusuhan karena persaingan perebutan daerah jajahan dan penguasaan perdagangan. Maka orang-orang Belanda berusaha keras menghasut Sultan Iskandar Thani untuk menolak perdamaian dengan orang Portugis. Demi tujuan ini mereka mengatakan bahwa kedatangan orang-orang Portugis sebenarnya bukan untuk menjalin persahabatan tetapi untuk mengkatolikan orang Aceh, seperti yang terjadi pada orang-orang Malaka. Mendengar hal ini, Sultan menjadi takut dan memutuskan untuk menolak tawaran perdamaian dan memerintahkan untuk menangkap mereka dengan tipu muslihat.
Pada tanggal 27 Oktober 1638 kapal-kapal Portugis berlabuh di Pantai Ole-Ole. Hal ini segera diberitahukan kepada Sultan. Siasat pun mulai dijalankan. Sultan menyuruh seorang pejabat kerajaan untuk menjumpai mereka dan menanyakan asal dan tujuan mereka. Melihat peristiwa itu, Pater Dionysius dan kawan-kawan merasa gembira. Keesokan harinya yaitu pada tanggal 28 Oktober 1638, kapal-kapal Sultan Aceh bertolak untuk menjemput orang-orang Portugis itu. Melihat hal ini maka orang-orang Portugis semakin percaya dan tidak menyangkah bahwa mereka dijebak. Namun dugaan mereka meleset. Penerimaan yang penuh ramah tamah itu ternyata adalah sebuah siasat yang licik. Ketika mereka turun di darat, mereka langsung disergap oleh orang banyak yang tadinya bersorak gembira melihat kedatangan mereka dan menyerahkan mereka kepada prajurit kesultanan.
Semua mereka ditahan. Namun Sultan hanya menginginkan orang-orang Eropa, sedangkan yang lainnya dibebaskan. Melihat hal itu, mengertilah P. Dionysius dan kawan-kawan bahwa mereka ditahan karena iman katolik mereka. Tangan mereka diikat ke belakang dan digiring ke istana Sultan. Setelah itu dimasukan ke dalam penjara. Tawanan-tawanan itu disiksa dan diberi pekerjaan yang berat agar mudah dipengaruhi untuk meninggalkan agamanya. Sultan sendiri menjanjikan harta, kedudukan dan kebebasan kepada para tawanan yang murtat. Mendengar hal itu, P. Dionysius sangat cemas jangan sampai para tawanan menjadi murtat. Maka ia meminta kepada Sultan agar bisa mengunjungi para tawanan. Tujuannya adalah memberikan kekuatan iman kepada mereka agar mereka tidak murtat.

V.  MARTIR

Setelah satu bulan disiksa tidak ada perkembangan seperti yang diharapkan oleh Sultan, maka ia memutuskan agar mereka dijatuhi hukuman mati. Eksekusi mati terjadi pada tanggal 29 November 1638.[5] Tempat yang dipilih untuk tempat eksekusi adalah di pantai. Setiap tawanan dikawal oleh sepuluh orang prajurit bersenjata lengkap. P. Dionysius dan Br. Redemptus berjalan paling depan. Keduanya menjadi tawanan utama eksekusi mati karena mereka berusaha menguatkan tawanan dan diketahui sebagai pemuka agama Katolik. Sangat disayangkan bahwa ada seorang tawanan yang lari menghilang yakni Diego Martinez. Namun di pihak lain hal ini membawa keuntungan karena dia juga memberikan laporan peristiwa ini sebagai seorang saksi mata dikemudian hari.
Sebelum eksekusi dimulai, seorang prajurit maju ke depan dan membacakan pengumuman dai Sultan Iskandar Thani bahwa mereka dihum mati bukan karena mereka orang Portugis, melainkan karena iman mereka akan Yesus Kristus. Namun para tawanan masih diberi kesempatan untuk meninggalkan agamanya. Barangsiapa yang menyangkal agamanya maka tidak hanya dibebaskan tetapi juga diberi hadiah dan kehormatan. Setelah membaca pengumuman itu, algojo segera memberi syarat kepada P. Dionysius untuk menterjemahkan isi pengumuman itu. Dionysius menterjemahkan isi pengumuman itu sekaligus menyisipkan nasihat kepada para tawanan untuk meneguhkan iman mereka. Setelah itu P. Dionysius meminta kepada para algojo agar ia dibunuh terakhir. Alasannya dikabulkan karena ia telah berjasa menterjemahkan pengumuman itu.
     Pater Dionysius mengeluarkan sebuah salib dari sakunya untuk diperlihatkan kepada para tawanan. Mereka memandang sejenak salib Kristus itu dan mengakui segala dosa mereka. Setelah itu eksekusi dimulai. Setiap tawanan disediakan sepuluh anak panah. Gelombang pertama dimulai, termasuk di antaranya Br. Redemptus yang mendapat giliran pertama dalam peristiwa itu. Sebelum menghembuskan nafas yang terakhir ia sempat memandang P. Dionysius dan menyebutkan nama Yesus dan Maria. Para tawanan yang belum mati ditikam oleh algojo dengan tombak.
     Tibalah giliran yang terakhir, eksekusi bagi Pater Dionysius. Para algojo yang hendak membunuh dia, tak bergerak di depannya dan seolah-olah ada tangan yang mendorong mereka. Mereka berusaha sekuat tenaga, namun tetap saja mereka tida bisa bergerak. Karena keajaiban itu maka mereka mundur dan tak mau lagi membunuh P. Dionysius. Kepala pasukan mengirimkan pesan kepada Sultan agar mengirimkan pasukan gajah. Pater Dionysius sendiri berdoa kepada Tuhan, sudi kiranya Tuhan menerima pengorbanannya itu. Maka dengan sekali tebas, rencong[6] menancap kepala Pater Dionysius sehingga kepala pun terpisah dari tubuhnya dan rebah ke tanah.
     Setelah meninggal, jenasah P. Dionysius dan teman-temnnya dibiarkan di pantai. Namun setelah tujuh bulan dibiarkan terbaring di pantai, tubuh P. Dionysius tak hancur sama sekali. Bersamaan dengan itu, beberapa penduduk Aceh memberikan kesaksian bahwa pernah melihat cahaya turun dari langit dan berada di sekitar mayat P. Dionysius selama tiga hari. Mendengar cerita dan kesaksian itu, Sultan menjadi takut. Ia memerintahkan agar mayat-mayat itu dikuburkan dengan baik. Maka dibuatlah upacara yang cukup meriah di pulau Dien. Namun keesokan harinya, tubuh Dionysius kembali ke pantai tempat ia dieksekusi. Masyarakat menjadi takut dan hal itu diberitahukan kepada Sultan.
Lalu atas perintah Sultan, jenasah P. Dionysius ditenggelamkan ke dalam laut. Algojo yang bertugas untuk hal ini sangat mengagumi keberanian dan kebaikan dari P. Dionydius, maka sebagai kenangan ia mengiris jari kelingking tangan kiri dari P. Dionysius. Ia menjadi heran ketika melihat dari luka itu keluar darah dan air. Satu hari setelah ia ditenggeamkan, jenasah P. Dionysius kembali lagi ke pantai. Mendengar itu, Sultan menyesal atas perintah pembunuhan itu. Ternyata apa yang ia lakukan salah. Maka ia menyuruh agar jenasah itu dibuang ke hutan sehingga dimakan binatang buas. Namun ia kembali lagi ke pantai. Sejak saat itu banyak masyarakat datang berdoa di depan jenasah Pater Dionysius. Akhirnya jenasahnya dimakamkan kembali sebelum kemudian diangkat kembali dan untuk terakhir kalinya dimakamkan di Goa, India.[7]
     Tahun 1639, cerita tentang tragedi Aceh itu tersebar luas. Uskup Agung Goa memerintahkan untuk mengadakan penyelidikan kanonik untuk proses beatifikasi kedua Karmelit itu. Tidak diketahui sebab-sebabnya mengapa tidak ada penyelidikan kanonik untuk beatifikasi dua orang Fransiskan yang juga mati bersama P. Dionysius dan Br. Redemptus pada saat itu. Akhirnya pada tanggal 10 Juni 1900, P. Dionysius dan Br. Redemptus dinyatakan beato oleh Paus Leo XIII. Dalam kalender liturgi keduanya diperingati pada setiap tanggal 1 Desember.[8]
           
VI. AKHIR KATA 

Dionysius dan Redemptus adalah dua tokoh iman yang menjadi misionaris sekaligus martir di Indonesia. Karena merasakan dorongan panggilan Tuhan begitu kuat, mereka meninggalkan karier yang sudah mapan. Mereka memilih hidup membiara, masuk Ordo Karmel. Dionisius menjadi imam. Sementara itu Redemptus menjadi bruder yang   bertugas sebagai penjaga pintu biara dan koster, penerima tamu dan pengajar anak-anak. Kisah hidup mereka menunjukkan kepada kita bahwa hidup adalah peziarahan mencari   makna.

Kedua tokoh iman ini meninggal sebagai martir Kristus. Mereka disiksa dan dibunuh di Aceh karena iman akan Kristus. Bagi mereka, Yesus Kristus adalah guru dan pemimpin. Dionisius dan Redemptus mengikuti Sang Guru dan Pemimpin ini dalam hidup dan mati. Mereka berjalan bersama Kristus di jalan Kristus. Mereka mati dengan hati yang tabah penuh iman.

Sebagaimana kedua orang kudus ini meninggal sebagai martir, kita pun diajak untuk memiliki semangat kemartiran yang sama. Para martir adalah orang-orang yang mempunyai cinta yang begitu besar kepada Kristus sehingga relah mengorbankan nyawanya demi Dia. Namun dalam konteks dunia kita zaman ini, menjadi martir tidak harus selalu dengan darah yang tertumpah. Kita dapat juga menjadi martir mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

Ket: Tulisan ini pernah dipresentasikan penulis dalam Seminar Kuliah Sejarah Gereja di STFK Ledalero, 12 September 2012 


DAFTAR PUSTAKA
       
       Sumber Utama:
Vinsensius dan Aquino, Thomas, Beato Dionisius dan Redemptus: Martir Indonesia,   
Semarang: Kanisius, 1958.

       Sumber Tambahan:
       Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1990.
       KWI, Sejarah Gereja Katolik, Ende: Arnoldus, 1974.
       Saggi, Louis, Saints of Carmel, Rome: Carmelite Institute, 1972.
       Schneiders, Martinus Nicolaas, Orang Kudus Sepanjang Tahun, Jakarta: Obor, 2003.
       Beato Dionysius Dan Beato Redemptus: Martir-Martir Kristus, (Online), 2011 
               http://www.holytrinitycarmel.com, diakses 14 September 2012).


       [1] Louis Saggi, Saints of Carmel (Rome: Carmelite Institute, 1972), p. 77
       [2] KWI, Sejarah Gereja Katolik (Ende: Arnoldus, 1974), p. 323.
       [3] Ibid., pp. 323-325.
    [4] Verenidge Oost Indische Compagnie, biasa disebut juga Kompeni. Serikat Perusahaan-perusahaan Dagang Belanda, yang sejak tahun 1595 mengirimkan apal-kapal dagangnya ke Asia. Berdiri pada tanggal 20 Maret 1602, Ibid., p. 30.
       [5] Ibid., p. 326
[6] Senjata genggam tradisional Aceh yang berbentuk lurus tetapi agak melengkung. Terbuat dari besi, baja dan gading. Senjata itu biasanya disisipkan di bagian depan perut pada lipatan sarung. (bdk. Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1990, p. 41).
    [7]Beato Dionysius Dan Beato Redemptus: Martir-Martir Kristus, (Online), 2011 ((http://www.holytrinitycarmel.com, diakses 14 September 2012).
       [8] KWI, Sejarah Gereja Indonesia, Op. Cit., p. 326.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar