CARI IMAN, jangan CARI AMAN (Renungan Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Jumat, 04 Agustus 2023

CARI IMAN, jangan CARI AMAN (Renungan Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan)




Hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Pesta ini sudah mulai dirayakan dalam berbagai bentuk oleh Gereja Timur sejak abad ke-9. Di Gereja Barat, pesta ini baru ditetapkan sebagai perayaan bersama secara universal oleh Paus Kallistus III untuk memperingati kemenangan pasukan Kristen atas pengepungan Turki di Belgrade, tahun 1456.

Peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung dikenal juga dengan Transfigurasi. Injil menceritakan bahwa Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus sedang berbicara dengan Musa dan Elia. Para penafsir menjelaskan bahwa kedua tokoh ini mewakili Taurat dan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Matius tidak memberi informasi tentang apa yang mereka bicarakan. Namun dalam Injil Lukas dituliskan dengan jelas bahwa pembicaraan mereka adalah "tentang kepergiaan-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem" (Luk 9:31).  

Matius pun sebenarnya sudah menuliskan tentang hal ini pada bab sebelumnya, “Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem…” (Mat 16: 21). Mendengar hal itu para murid kecewa, lalu Petrus menegur-Nya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau” (Mat 16: 22). Pada waktu itu pun Yesus dengan tegas mengatakan kepada mereka, “Barangsiapa mau mengikuti Aku, ia harus menyengkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Inilah yang melatar belakangi inisiatif Yesus untuk mengajak ketiga murid-Nya naik ke gunung Tabor dan menampakan kemuliaan-Nya. Yesus mau memperlihatkan dan meneguhkan hati para murid tentang siapakah Diri-Nya yang sesungguhnya.

Kisah transfigurasi terdapat dalam semua injil sinoptik, namun perhatian utama Matius adalah soal reaksi para murid terhadap kejadian itu. Pada ayat 4, Petrus meminta izin kepada Yesus untuk mendirikan kemah bagi Musa, Elia dan Yesus. Tampaknya ia berharap bahwa mereka semua akan tetap tinggal dalam kemuliaan sampai kerajaan datang. Harapan ini semakin dikuatkan lagi dalam ayat 5 dengan munculnya suara dari dalam awan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”. Kata-kata ini tidak lain merupakan pengulangan suara dari surga yang terdengar ketika Yesus dibaptis (Mat 3: 17). Mendengar suara dari dalam awan, tersungkurlah para murid dan mereka sangat ketakutan. Ciri misterius dari pengalaman ini menakutkan para murid (ay 6). Tetapi Yesus bertindak sebagai seorang penghibur dan pendorong para murid supaya tidak takut (ay.7).

Peristiwa transfigurasi membawa beberapa pesan tersendiri bagi kita. Peristiwa ini adalah peristiwa peneguhan iman. Para murid yang menyertai Yesus diminta untuk selalu mendengarkan-Nya. Sebagai murid-Nya, kita pun diingatkan bahwa apapun situasi dan keadaan yang kita alami dalam hidup ini hendaknya kita tetap menaruh harapan dan percaya kepada Yesus. Itulah konsekuensi dari pengalaman Tabor; peristiwa apapun yang akan dihadapi, Yesus tetap Anak Allah yang mesti didengarkan dan diikuti.

Para murid dibawa ke atas gunung Tabor untuk semakin beriman, bukan sebaliknya untuk mengamankan diri. Iman adalah kunci ketika kita harus meramu kedua pengalaman hidup, antara Tabor dan Kalvari, antara suka dan duka, antara kebahagiaan dan penderitaan. Jika kita mengalami sukacita di dalam hidup, hendaknya membuat kita semakin beriman. Sukacita yang diterima harus dibagikan juga kepada sesama sebagai buah dari iman, bukan dipendam dalam zona nyaman kita sendiri. Sebaliknya, jika kita mengalami keterjatuhan atau ketakberdayaan karena berbagai kelemahan dan masalah yang kita hadapi, tetaplah berdiri, jangan taku, Tuhan selalu menyertai [Sudah dipublikasikan juga di Buku RUAH-Karmelindo].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar