TRITUNGGAL: Problem Matematis? - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Sabtu, 03 Juni 2023

TRITUNGGAL: Problem Matematis?



Ada satu aspek yang dipersoalkan dalam doktrin Tritunggal yaitu problem matematis. Premis matematis: 1+1+1=3. Namun, doktrin Tritunggal seakan berbunyi: 1+1+1=1. Kesimpulan: doktrin Tritunggal salah. Tidak mungkin soal ini dijelaskan dalam beberapa paragraf. Namun, kita bisa jelaskan bahwa abstraksi matematis tidak mungkin dipakai untuk menjelaskan hal, pribadi atau persona konkret, termasuk Allah.

Jika filsafat pernah dikenal sebagai “ibu dari semua ilmu”, maka matematika dianggap sebagai “ratu dari segenap sains”, “yang pertama dari semua sains”. Tentu saja benar, dalam matematika, terdapat kepastian, yang melampaui ilmu yang lain. Namun, tetap bahwa kepastian matematika tidak berhubungan dengan “realitas apa adanya”, melainkan sekadar simbol atau “abstraksi” kita tentang realitas.

Sebagai contoh, jika anda hanya berhitung di kepala, maka matematika terasa mudah; 1+1+1=3. Namun, saat anda melihat benda konkret seperti 1 batu+1 kapur+1 gedung, maka soalnya agak kompleks, di mana anda mesti jelaskan bahwa hasilnya adalah tiga buah benda yang terdiri atas batu, kapur, gedung.

Atau jika orang ingin membangun sebuah rumah yang kuat, dan ia membutuhkan batu, semen dan pasir, masing-masing satu ton (lupakan ketepatan komposisi, perhatikan analogi). Jika abstraksi matematis dibuat, maka tertera angka 1+1+1. Kalau dilepaskan dari soal konkret, maka 1+1+1=3. Namun, karena perhatian kita pada hal konkret, maka 1 ton batu+1 ton semen+1 ton pasir=1 rumah. Apakah kita mesti mengganti hal konkret dengan abstraksi matematis 1+1+1=1?

Atau kita ambil contoh lain, di mana seorang ingin meletakkan air di atas ember kecil. Ia bisa saja mengambil tiga gayung air dan diletakkan ke dalam ember kecil itu, dan hasilnya ialah seember kecil air, walau dengan massa dan berat yang berbeda. Tentu saja jika ia membuat abstraksi matematis untuk soal konkret ini: 1+1+1=1. Namun, setiap orang yang berakal sehat tentu menganggap bahwa soal ini bukan soal abstraksi matematis.

Atau, dalam contoh G. K. Chesterton, andaikan saja makhluk matematis dari luar angkasa datang ke bumi, dan membuat perhitungan matematis tentang manusia. Ia akan menghitung jumlah kaki atau kepala pada tiap manusia. Ia juga mungkin akan menghitung jumlah organ mereka. Kesimpulannya, semua manusia sama saja, karena jumlah semua organnya sama. Matematikanya tentu benar, namun kesimpulannya tentang manusia konkret jelas salah, karena manusia punya jumlah matematis organ yang sama, namun punya kepribadian konkret yang unik; ada Nodu, Frans, Karno, dengan kelebihan dan kekurangan, atau keanehan kepribadian mereka.

Dengan demikian, soal-soal konkret sering berada di luar kategori matematika. Matematika dikenal sebagai “quantitative being”, atau “ada kuantitatif”, bukan untuk menjelaskan realitas sebagai yang inteligibel, melainkan sekadar simbol kuantitatif yang membantu kita secara statistik mengkonstruksi realitas. Untuk membangun rumah atau menghitung jarak bintang, anda butuh matematika. Namun untuk memahami inteligibilitas dunia, dengan segala hukum sebab akibatnya, matematika berada pada dimensi berbeda.

Tentu saja matematika merupakan unsur penting yang ditemukan manusia dalam semesta. Namun, ia merupakan salah satu bagian kecil dalam realitas, yang berhubungan dengan “keterpercayaan” akan aspek “kuantitas” dari realitas, bukan “kebenaran” tentang “adanya” realitas. Dalam bahasa kaum skolastik, matematika lebih merupakan “scientia media”, atau sarana menuju pembentukan realitas, bukan “scientia suprema”, atau sains tentang kebenaran paling ultim dari realitas. Ia berkaitan dengan simbol kuantitatif, bukan berkaitan dengan inteligibilitas realitas, nilai, makna dan tujuan manusia.

Demikianpun persoalan Allah. Jika Allah hanya sekadar abstraksi matematis, maka Allah tentu suatu ciptaan abstraksi manusia, dan Allah semacam ini palsu. Namun, konsep Tritunggal berkaitan dengan Allah yang konkret, di mana “peristiwa” konkret sejarah menghantar Gereja pada kesimpulan mengenai kesatuan substansi dengan tiga persona berbeda, yang dinamakan Tritunggal. Tidak mudah memahaminya, karena orang mesti paham apa yang dimaksud “substansi”, atau “persona”, atau kategori-kategori filsafat lainnya. Tidak setiap orang Kristen mampu menjelaskannya, namun terdapat intuisi iman yang dipelihara, yang sama dari masa ke masa, yang dinamakan “sensus fidelium”, yaitu rasa iman umat beriman. Sejak awal mula, terdapat rasa beriman yang sama, pengalaman akan yang “tak terperikan” yang sama, pengalaman akan Allah yang sama, namun tetap saja sekaligus beda dalam sejarah konkret. Pengalaman akan Allah yang sama dalam tiga pribadi berbeda, merupakan dasar dari iman Trinitaris, yang coba secara gagap dijelaskan dalam bahasa.

Soalnya kini tentu bagaimana menjelaskan tiga pribadi konkret, yang dalam sejarah konkret hadir dalam cara berbeda, namun sekaligus dialami sebagai Allah yang esa? Saat ingin paham, maka orang butuh teologi sistematik, yang tidak selamanya mudah. Jadi, pemahaman bukan pada taraf iman, melainkan pada taraf penjelasan tentang iman.

Tidak setiap orang Kristen bisa menjelaskan soal Tritunggal, karena tidak setiap orang ahli sejarah Gereja dan teologi sistematik. Namun, setiap orang Kristen punya pengalaman intuitif tentang kebenaran iman: satu Allah tiga pribadi, dalam relasi kasih tak terbatas. Untunglah syarat keselamatan bukan karena orang mampu menjelaskan soal iman Trinitaris, namun kalau orang mempunyai iman, dalam partisipasi konkret dengan kasih Trinitaris.

Selamat merayakan hari raya Tritunggal Mahakudus.

*)Dunia Filsafat Ledalero-Maumere

Tidak ada komentar:

Posting Komentar