Ada satu aspek yang
dipersoalkan dalam doktrin Tritunggal yaitu problem matematis. Premis
matematis: 1+1+1=3. Namun, doktrin Tritunggal seakan berbunyi: 1+1+1=1.
Kesimpulan: doktrin Tritunggal salah. Tidak mungkin soal ini dijelaskan dalam
beberapa paragraf. Namun, kita bisa jelaskan bahwa abstraksi matematis tidak
mungkin dipakai untuk menjelaskan hal, pribadi atau persona konkret, termasuk
Allah.
Jika filsafat pernah
dikenal sebagai “ibu dari semua ilmu”, maka matematika dianggap sebagai “ratu
dari segenap sains”, “yang pertama dari semua sains”. Tentu saja benar, dalam
matematika, terdapat kepastian, yang melampaui ilmu yang lain. Namun, tetap
bahwa kepastian matematika tidak berhubungan dengan “realitas apa adanya”,
melainkan sekadar simbol atau “abstraksi” kita tentang realitas.
Sebagai contoh, jika
anda hanya berhitung di kepala, maka matematika terasa mudah; 1+1+1=3. Namun,
saat anda melihat benda konkret seperti 1 batu+1 kapur+1 gedung, maka soalnya
agak kompleks, di mana anda mesti jelaskan bahwa hasilnya adalah tiga buah
benda yang terdiri atas batu, kapur, gedung.
Atau jika orang ingin
membangun sebuah rumah yang kuat, dan ia membutuhkan batu, semen dan pasir,
masing-masing satu ton (lupakan ketepatan komposisi, perhatikan analogi). Jika
abstraksi matematis dibuat, maka tertera angka 1+1+1. Kalau dilepaskan dari
soal konkret, maka 1+1+1=3. Namun, karena perhatian kita pada hal konkret, maka
1 ton batu+1 ton semen+1 ton pasir=1 rumah. Apakah kita mesti mengganti hal
konkret dengan abstraksi matematis 1+1+1=1?
Atau kita ambil contoh
lain, di mana seorang ingin meletakkan air di atas ember kecil. Ia bisa saja
mengambil tiga gayung air dan diletakkan ke dalam ember kecil itu, dan hasilnya
ialah seember kecil air, walau dengan massa dan berat yang berbeda. Tentu saja
jika ia membuat abstraksi matematis untuk soal konkret ini: 1+1+1=1. Namun,
setiap orang yang berakal sehat tentu menganggap bahwa soal ini bukan soal
abstraksi matematis.
Atau, dalam contoh G. K.
Chesterton, andaikan saja makhluk matematis dari luar angkasa datang ke bumi,
dan membuat perhitungan matematis tentang manusia. Ia akan menghitung jumlah
kaki atau kepala pada tiap manusia. Ia juga mungkin akan menghitung jumlah
organ mereka. Kesimpulannya, semua manusia sama saja, karena jumlah semua
organnya sama. Matematikanya tentu benar, namun kesimpulannya tentang manusia
konkret jelas salah, karena manusia punya jumlah matematis organ yang sama,
namun punya kepribadian konkret yang unik; ada Nodu, Frans, Karno, dengan
kelebihan dan kekurangan, atau keanehan kepribadian mereka.
Dengan demikian,
soal-soal konkret sering berada di luar kategori matematika. Matematika dikenal
sebagai “quantitative being”, atau “ada kuantitatif”, bukan untuk menjelaskan
realitas sebagai yang inteligibel, melainkan sekadar simbol kuantitatif yang
membantu kita secara statistik mengkonstruksi realitas. Untuk membangun rumah
atau menghitung jarak bintang, anda butuh matematika. Namun untuk memahami
inteligibilitas dunia, dengan segala hukum sebab akibatnya, matematika berada
pada dimensi berbeda.
Tentu saja matematika
merupakan unsur penting yang ditemukan manusia dalam semesta. Namun, ia
merupakan salah satu bagian kecil dalam realitas, yang berhubungan dengan
“keterpercayaan” akan aspek “kuantitas” dari realitas, bukan “kebenaran”
tentang “adanya” realitas. Dalam bahasa kaum skolastik, matematika lebih
merupakan “scientia media”, atau sarana menuju pembentukan realitas, bukan
“scientia suprema”, atau sains tentang kebenaran paling ultim dari realitas. Ia
berkaitan dengan simbol kuantitatif, bukan berkaitan dengan inteligibilitas
realitas, nilai, makna dan tujuan manusia.
Demikianpun persoalan
Allah. Jika Allah hanya sekadar abstraksi matematis, maka Allah tentu suatu
ciptaan abstraksi manusia, dan Allah semacam ini palsu. Namun, konsep
Tritunggal berkaitan dengan Allah yang konkret, di mana “peristiwa” konkret
sejarah menghantar Gereja pada kesimpulan mengenai kesatuan substansi dengan
tiga persona berbeda, yang dinamakan Tritunggal. Tidak mudah memahaminya,
karena orang mesti paham apa yang dimaksud “substansi”, atau “persona”, atau
kategori-kategori filsafat lainnya. Tidak setiap orang Kristen mampu
menjelaskannya, namun terdapat intuisi iman yang dipelihara, yang sama dari
masa ke masa, yang dinamakan “sensus fidelium”, yaitu rasa iman umat beriman.
Sejak awal mula, terdapat rasa beriman yang sama, pengalaman akan yang “tak
terperikan” yang sama, pengalaman akan Allah yang sama, namun tetap saja sekaligus
beda dalam sejarah konkret. Pengalaman akan Allah yang sama dalam tiga pribadi
berbeda, merupakan dasar dari iman Trinitaris, yang coba secara gagap
dijelaskan dalam bahasa.
Soalnya kini tentu
bagaimana menjelaskan tiga pribadi konkret, yang dalam sejarah konkret hadir
dalam cara berbeda, namun sekaligus dialami sebagai Allah yang esa? Saat ingin
paham, maka orang butuh teologi sistematik, yang tidak selamanya mudah. Jadi,
pemahaman bukan pada taraf iman, melainkan pada taraf penjelasan tentang iman.
Tidak setiap orang
Kristen bisa menjelaskan soal Tritunggal, karena tidak setiap orang ahli
sejarah Gereja dan teologi sistematik. Namun, setiap orang Kristen punya
pengalaman intuitif tentang kebenaran iman: satu Allah tiga pribadi, dalam
relasi kasih tak terbatas. Untunglah syarat keselamatan bukan karena orang
mampu menjelaskan soal iman Trinitaris, namun kalau orang mempunyai iman, dalam
partisipasi konkret dengan kasih Trinitaris.
Selamat merayakan hari raya Tritunggal Mahakudus.
*)Dunia Filsafat Ledalero-Maumere


Tidak ada komentar:
Posting Komentar