Menjadi Anak Allah yang Sejati (Renungan Katolik, Minggu Biasa II Tahun A/I) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Sabtu, 14 Januari 2023

Menjadi Anak Allah yang Sejati (Renungan Katolik, Minggu Biasa II Tahun A/I)


Peranan Roh Kudus, kerendahan hati Yesus ditonjolkan dalam bacaan-bacaan hari ini. Nabi Yesaya menceriterakan seorang hamba Yahwe, hamba dari Allah, hamba pilihan Allah. Yesus bersama orang banyak turun ke dalam sungai untuk dibaptis meskipun Ia tidak memerlukan pertobatan sama sekali. Dalam kerendahan hati seorang Hamba Yahwe, Ia mewartakan ketundukan pada kehendak Allah yang menyelamatkan.

Injil memuat 3 hal: (i) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan, (ii) sewaktu keluar dari air, ia melihat langit terbelah dan Roh turun kepadanya seperti burung merpati, (iii) saat itu juga ada suara dari langit mengatakan "Engkau anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan".

Dengan ini penginjil hendak menegaskan bahwa baptisan Yesus berbeda dengan baptisan lain sebagai tanda pertobatan dan pengampunan dosa. Pembaptisan Yesus lebih dimaknai sebagai tanda solidaritas hidup-Nya kepada kemanusiaan kita yang lemah. Pembaptisan Yesus masih merupakan kelanjutan dari peristiwa Natal, ketika Sang Sabda menjadi manusia dalam segala hal, kecuali dosa.

Pewahyuan yang diterima Yesus dari Bapa setelah keluar dari air menjelaskan lebih lanjut arti dari pembaptisan-Nya. Dengan baptisan di Sungai Yordan, Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah. "Engkau anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan".  Matius “Inilah AnakKu....” Ia kemudian memberi makna menjadi Anak Allah melalui sikap hidup, pekerjaan, serta pewartaan-Nya.

 Jalan yang ditempuh-Nya menjadi Anak Allah bukanlah jalan pintas, tetapi jalan panjang penuh tantangan. Dalam perjalanan panjang itu terdapat beberapa tonggak peristiwa penting. Di Gunung Tabor ketika Yesus dimuliakan, jati diri Yesus sebagai Anak Allah diteguhkan, melalui suara yang terdengar dari dalam awan, yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9: 35).

Ketika di Gunung Golgota, saat Ia telah melakukan segala kehendak Bapa-Nya, jati diri Yesus sebagai Anak Allah diakui, bukan oleh para murid-Nya tetapi oleh kepala pasukan yang melihat peristiwa kematian-Nya dengan berkata, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (Mat 27:54 / Mrk 15:39).

Makna pembaptisan Yesus diperjelas oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Peneggelaman Yesus ke dalam air dipandang sebagai gambaran dari kematian-Nya. Sedangkan keluar dari air, dan kata-kata Bapa mengantisipasi kebangkitan-Nya. Kebangkitanlah yang menetapkan Yesus sebagai Putra Bapa.

Melalui sakramen Baptis, seseorang sudah dinobatkan menjadi anak-anak Allah. Pewahyuan diri Yesus sebagai Anak yang dikasihi Allah menjadi petunjuk bagi kita semua, bahwa dalam diri pribadi setiap manusia tersimpan benih keputraan oleh karena kasih Allah. Maka kita patut mensyukuri Sakramen Pembaptisan yang telah kita terima, seraya berjuang menjalankan tugas perutusan kita sebagai anak-anak Allah, di tengan kehidupan kita.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar