![]() |
| Ilustrasi Kristus Raja Semesta Alam (Foto: Katolisitas.org) |
Hari Raya Kristus Raja ditetapkan oleh Paus Pius XI pada
tahun 1925. Pada waktu itu dalam situasi fasisme yang anti Gereja, Paus ingin
menegaskan bahwa Gereja tidak tergantung dari kuasa politik mana pun, melainkan
hanya mengaku satu penguasa saja, Yakni Krisus Raja. Tetapi hal itu tidak
berarti bahwa baru sejak tahun 1925 Kristus diakui sebagai Raja. Sebaliknya,
dari semula Gereja mengakui bahwa Kristus adalah Raja, sebagaimana tampak dari
Injil hari ini.
Hari raya Kristus Raja ini menghantar kita kembali kepada peristiwa perjanjian Lama. Dalam Bacaan I, yang diambil dari Kitab kedua Samuel, Figur Raja Daud, yang dipilih untuk memerintah Israel sesudah Saul, ditampilkan kepada kita. Allah telah mengatakan kepadanya: “Engkaulah yang harus menggembalakan umatKu Israel” (2 Sam 5:2). Karena itu semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan Tuhan; kemudian atas kekuatan Yahwe Daud diurapi menjadi Raja.
Peristiwa Perjanjian Lama ini juga sangat penting untuk perayaan ini. Hal ini mengingatkan kita akan kata-kata saat Maria mendengar berita dari malaikat, bahwa: “Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, Bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:32-33).
Pernyataan ini mau menunjukkan satu perbedaan antara Kristus Raja dan Raja Daud. Kerajaan Daud bersifat temporal dan masa lampau, tetapi kerajaan Kristus ‘tidak berkesudahan’ kerajaan Kristus adalah kerajaan abadi, kekal, sejak kerajaan itu dilahirkan dari keabadian dan sampai keabadian.
Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Santo Paulus dalam
suratnya kepada umat di Kolose, dalam bacaan kedua. “Kristus adalah gambar
Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang
diciptakan.…Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada
di dalam Dia”.
Kerajaan Kristus adalah kekal, selalu berada dalam keabadian. Ia adalah raja karena Ia sehakekat dengan Bapa; Ia adalah raja karena ia menjadi manusia dan sebagai manusia ia menang sebagai raja melalui salib.
Injil Lukas menghantar kita kepada kebenaran ini. Penderitaannya di Kalvari disertai dengan cemoohan para pemimpin yang hadir: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah”. Para serdadu pun mengolok Dia namun sekaligus sebuah pengakuan bahwa Yesus adalah Raja: “Jika Engkau adalah Raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu”.
Nada-nada yang sama juga dimaklumkan oleh salah seorang penjahat: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami”. Namun, salah seorang penjahat berpaling kepada Yesus dan berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Pada saat itu juga, dalam kondisinya sebagai penjahat besar, ia sangat yakin untuk kemudian ia maklumkan bahwa Yesus adalah Raja. Selanjutnya sebuah maklumat kerajaan terpampang pada palang salib: INRI, Yesus dari Nasareth Raja orang Yahudi.
Pada satu pihak kerajaan Yesus adalah obyek ejekan,
sementara pada pihak lain kerajaan Kristus menjadi obyek pengakuan iman dan
harapan. Kristus yang tersalib dalam kesadaran penuh membuka pintu kerajaannya
bukan hanya bagi penyamun yang bertobat itu, tetapi bagi seluruh manusia. Kristus
adalah Raja, pada tempat pertama, karena ia berkodrat dengan Bapa; lalu sebagai
manusia, ia adalah Raja melalui SalibNya, dengannya semua manusia tertebus;
akhirnya, kekuatan sebagai Raja dikukuhkan dengan kebangkitan-Nya dari alam
maut.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar