PILKADA: PENENTU KESADARAN POLITIK RAKYAT - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Selasa, 16 November 2021

PILKADA: PENENTU KESADARAN POLITIK RAKYAT

 

 Oleh: H. Dasriminocarm@

Pilkada adalah bentuk apresiasi hak politik rakyat. Karena itu rakyat harus memiliki kesadaran moral politik untuk menyukseskan penyelenggaraan pilkada yang bersih, jujur dan adil, serta jauh dari praktek kotor yang menodai asas demokrasi. Harus selalu disadari bahwa pada saat-saat menjelang pilkada, banyak dari calon pemimpin kita akan menggunakan politik kemasan, untuk merayu suara rakyat. Calon-calon pemimpin kita akan membungkus diri dalam kemasan yang menarik dengan janji-janjinya. Namun harus selalu diingat pula bahwa kemasan yang menarik, belum tentu menunjukkan mutu dari isi yang sesungguhnya. Masyarakat harus pandai memilih pemimpinnya bukan karena melihat kemasan luar yang menarik, melainkan harus menukik lebih dalam untuk mengetahui isi yang sesungguhnya yakni pemimpin yang berkompeten demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
            Siapa saja dapat dipilih menjadi pemimpin, asalkan dia memenuhi sejumlah persyaratan yang niscaya dapat menghantar semua masyarakat kepada kesejahteraan dan kebaikan hidup. Kebaikan umum semua warga hendaknya menjadi visi utama seorang pemimpin, dan oleh karena itu pelbagai aspek pengabdiannya harus diarahkan dari dan menuju visi ini. Namun pemimpin yang baik dan bijaksana harus juga mencermati pelbagai kondisi, peluang dan sumber daya dalam wilayahnya sendiri. Untuk itu setiap anggota masyarakat harus memilki sikap yang kritis yang bisa mengevaluasi atau menilai para pemimpin serta kinerja mereka yang sungguh bertanggungjawab atas kehidupan bersama.
Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memiliki visi utama yaitu kesejahteraan dan kebaikan masyarakat. Visi ini mesti juga dijabarkan dengan baik melalui strategi-strategi demi kebaikan umum. Gagal melihat ke depan adalah tanda kegagalan selanjutnya.
Seorang pemimpin yang baik harus cemerlang dalam berpikir (konseptual), namun juga praktis-pragmatis dalam pelaksanaan. Apa yang diucapkan secara teoretis harus juga diungkapkan melalui tindakan konkrit yang bisa mendatangkan manfaat besar untuk rakyat. Dia tidak hanya berteori tetapi juga berbuat. Karl Marx, pengkritik utama kaum idealis dan rationis yang mengatakan bahwa kita tidak haya berteori dan berkata-kata secara bijak tentang masarakat dan kenyataan sosial yang memprihatinkan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita merubahnya.
Selain itu, seorang pemimpin juga harus terbuka dan siap bekerjasama. Ia siap bekerjasama dengan pelbagai komponen lain dalam masyarakat. Untuk itu seorang pemimpin harus memiliki pemahaman sosial budaya dan moral-etis yang benar dan baik, dan nilai-nilai ini juga harus sungguh terungkap dalam hidupnya. Kita sungguh membutuhkan pemimpin yang mampu berkomunikasi dan berorganisasi.
Pemimpin yang efektif adalah orang yang memiliki semangat demokratis yang tinggi dalam hidupnya. Ia lebih memperhatikan pribadi atau manusia (peoplework) dan bukan hanya berorientasi pada kertas dan kesibukan kerja (paperwork). Orang lain, rekan kerja atau rakyat biasa haruslah dilihat sebagai kesempatan (opportunity) dan bukannya gangguan (interupsi). Sikap otoriter harus dihindarkan dalam pelbagai pengambilan keputusan (decision-making).
Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin ke depan dan dengan relah, bisa melepaskan tugas dan jabatan yang selama ini diemban. Melepaskan jabatan selalu berat, tetapi harus dibuat dengan rela dan sportif. Selain itu kita membutuhkan pemimpin yang tegas dan berani mengambil arah. 
Mari memilih pemimpin yang baik. Hasil pilihan Anda, turut menentukan nilai raportmu tentang kesadaran Anda dalam berpolik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar