Oleh: H. Dasriminocarm@
Pilkada adalah bentuk
apresiasi hak politik rakyat. Karena itu rakyat harus memiliki kesadaran moral
politik untuk menyukseskan penyelenggaraan pilkada yang bersih, jujur dan adil,
serta jauh dari praktek kotor yang menodai asas demokrasi. Harus selalu disadari
bahwa pada saat-saat menjelang pilkada, banyak dari calon pemimpin kita akan
menggunakan politik kemasan, untuk merayu suara rakyat. Calon-calon
pemimpin kita akan membungkus diri dalam kemasan yang menarik dengan
janji-janjinya. Namun harus selalu diingat pula bahwa kemasan yang menarik,
belum tentu menunjukkan mutu dari isi yang sesungguhnya. Masyarakat harus
pandai memilih pemimpinnya bukan karena melihat kemasan luar yang menarik,
melainkan harus menukik lebih dalam untuk mengetahui isi yang sesungguhnya
yakni pemimpin yang berkompeten demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
Siapa
saja dapat dipilih menjadi pemimpin, asalkan dia memenuhi sejumlah persyaratan
yang niscaya dapat menghantar semua masyarakat kepada kesejahteraan dan
kebaikan hidup. Kebaikan umum semua warga hendaknya menjadi visi utama seorang
pemimpin, dan oleh karena itu pelbagai aspek pengabdiannya harus diarahkan dari
dan menuju visi ini. Namun pemimpin yang baik dan bijaksana harus juga
mencermati pelbagai kondisi, peluang dan sumber daya dalam wilayahnya sendiri.
Untuk itu setiap anggota masyarakat harus memilki sikap yang kritis yang bisa
mengevaluasi atau menilai para pemimpin serta kinerja mereka yang sungguh
bertanggungjawab atas kehidupan bersama.
Seorang pemimpin yang baik
adalah orang yang memiliki visi utama yaitu kesejahteraan dan kebaikan
masyarakat. Visi ini mesti juga dijabarkan dengan baik melalui
strategi-strategi demi kebaikan umum. Gagal melihat ke depan adalah tanda
kegagalan selanjutnya.
Seorang pemimpin yang baik
harus cemerlang dalam berpikir (konseptual), namun juga praktis-pragmatis dalam
pelaksanaan. Apa yang diucapkan secara teoretis harus juga diungkapkan melalui
tindakan konkrit yang bisa mendatangkan manfaat besar untuk rakyat. Dia tidak
hanya berteori tetapi juga berbuat. Karl Marx, pengkritik utama kaum idealis
dan rationis yang mengatakan bahwa kita tidak haya berteori dan berkata-kata
secara bijak tentang masarakat dan kenyataan sosial yang memprihatinkan. Yang
jauh lebih penting adalah bagaimana kita merubahnya.
Selain itu, seorang pemimpin
juga harus terbuka dan siap bekerjasama. Ia siap bekerjasama dengan pelbagai
komponen lain dalam masyarakat. Untuk itu seorang pemimpin harus memiliki
pemahaman sosial budaya dan moral-etis yang benar dan baik, dan nilai-nilai ini
juga harus sungguh terungkap dalam hidupnya. Kita sungguh membutuhkan pemimpin
yang mampu berkomunikasi dan berorganisasi.
Pemimpin yang efektif adalah
orang yang memiliki semangat demokratis yang tinggi dalam hidupnya. Ia lebih
memperhatikan pribadi atau manusia (peoplework) dan bukan hanya
berorientasi pada kertas dan kesibukan kerja (paperwork). Orang lain,
rekan kerja atau rakyat biasa haruslah dilihat sebagai kesempatan (opportunity)
dan bukannya gangguan (interupsi). Sikap otoriter harus dihindarkan dalam
pelbagai pengambilan keputusan (decision-making).
Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu
menyiapkan pemimpin-pemimpin ke depan dan dengan relah, bisa melepaskan tugas
dan jabatan yang selama ini diemban. Melepaskan jabatan selalu berat, tetapi
harus dibuat dengan rela dan sportif. Selain itu kita membutuhkan pemimpin yang
tegas dan berani mengambil arah. Mari memilih pemimpin yang baik. Hasil pilihan Anda, turut menentukan nilai raportmu tentang kesadaran Anda dalam berpolik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar