Menjadi GARAM dan TERANG (Renungan Minggu Biasa V-Tahun A) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Jumat, 03 Februari 2023

Menjadi GARAM dan TERANG (Renungan Minggu Biasa V-Tahun A)

 


Garam dan terang memainkan peranan penting dalam dunia Yahudi dan Timur Tengah kuno bahkan dalam kehidupan harian kita. Kitab Suci dan Liturgi Gereja mencatat berbagai lambang dan fungsi garam dan terang itu:

1.Garam adalah lambang kemurnian; karena garam adalah benda yang paling bersih, sebab ia berasal dari laut dan matahari.

2. Garam memberi rasa kepada segala sesuatu.

Di samping itu, terang berfungsi: bila dilihat semua orang. Ia berfungsi sebagai penuntun jalan. Ingat saja mercu suar dipantai laut atau lampu-lampu lalu lintas. Alangkah susahnya, bila jalan itu gelap dan tidak diterangi sinar lampu. Terang sering berfungsi sebagai peringatan. Lampu merah mengingatkan manusia akan bahaya: STOP! Hati-hati.

Yesus dalam Injil hari ini berbicara tentang “Garam dan Terang. Agaknya kiasan mengenai garam dan terang dunia saling melengkapi. Hubungan timbal balik antara kiasan-kiasan ini nampak misalnya dalam keserupaan pengungkapan: “Kamu adalah garam dunia”, dan “Kamu adalah terang dunia”. Juga terdapat keserupaan dalam isinya: “selaku garam, kamu harus asin; selaku terang kamu harus bercahaya”.

 Yang lebih penting, Yesus menyapa Para muridNya sebagai “garam dan terang dunia”, “Kamu adalah Garam dan terang dunia”. Itu berarti fungsi dan peranan para murid-Nya sangat penting, penting sekali. Mateus mencatat ucapan Yesus ini langsung sesudah ajaran-Nya tentang “Kedelapan Sabda Bahagia”.  Hal ini mau menekankan bahwa yang layak menjadi garam dan terang dunia adalah mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berduka cinta, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hati, yang membawa damai, yang dianiaya oleh sebab kebenaran, dan yang dicela karena Aku.

Yang layak menjadi garam dan terang adalah mereka yang berbahagia ini. Orang yang dalam dirinya ada “kebahagiaan”, hampir pasti akan dapat menyalurkan kebahagiaan itu kepada orang lain. Itu berarti ia dapat menggarami dan menerangi orang lain. Mereka yang miskin, yang tak mengharapkan apa-apa pun dari dirinya sendiri, yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Allah, mereka ini dapat langsung melihat “kehendak Allah; mereka ini dapat langsung melihat “terang” dan “kebenaran” yang kemudian dapat mewartakannya; dapat memberi kesaksiannya (ingat para gembala).

 Mereka dapat menggarami dan menerangi dunia dalam kondisinya yang seperti itu; dan bukan seperti kebanyakan manusia dunia, yang oleh ketamakan, keangkuhan dan kesombongan, mereka menjadi gelap, mata gelap, hati gelap, tidak dapat melihat terang dan kebenaran dalam diri Yesus; yang dengan sendirinya tidak mampu menggarami dan menerangi dunia.

“Kamu adalah Garam dan Terang dunia”. Yesus pun menyapa kita sebagai garam dan terang dunia. Itu berarti seperti para murid Yesus, kita pun mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun dunia ini, dalam membangun lingkungan dan masyarakat serta umat kita. Mutu kekeristenan kiranya nampak dalam tugas kita sebagai penuntun jalan. Dalam arti memberi teladan yang baik. Sebagai pengiman Kristus, kita tidak membawa kepada dunia suatu filsafat baru, atau suatu ajaran hikmat yang hebat, tetapi membawa sikap yang baik yang nampak dalam perbuatan-perbuatan kita yang baik.


@Dasriminocarm

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar