MARIA, BUNDA INJIL KEHIDUPAN (Novena Pentakosta Hari Ke-8) - Percik Permenungan

Percik Permenungan

Blog ini berisi renungan dan berbagai katekese tentang iman Katolik.

"Selamat Bergabung & Merenung"

"Selamat Bergabung & Merenung"

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Rabu, 17 November 2021

MARIA, BUNDA INJIL KEHIDUPAN (Novena Pentakosta Hari Ke-8)

  Kita mendengar Injil pada hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku?”. Bagaimana jawaban Anda jika ditanya oleh Yesus: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Tentu masing-masing kita memiliki jawaban yang beragam dari pengalaman hidup yang kita jalani sehari-hari. Memang lebih mudah untuk mengasihi Yesus saat ada dalam situasi yang menyenangkan. Bahkan dalam kondisi yang sulit, justru sering menjauh dan merasa ditinggalkan. Bukan lagi Tuhan yang bertanya kepada kita, tetapi dalam saat sulitjustru kitalah yang berbalik bertanya kepada Tuhan: Tuhan, apakah engkau masih mengasihi aku? Tuhan, mengapa bisa jadi begini? Pertanyaan Yesus dalam Injil hari ini sungguh menggema dalam hidup kita. Pertanyaan itu sekaligus menjadi permenungan mendalam bagi kita. Apakah saya mengasihi-Nya? Sesudah Petrus tiga kali menjawab positif pertanyaan Yesus kepadanya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”, barulah Ia berkata: “Gembalakanlah domba-domba-Ku!” (Yoh 21:17).

Gembala yang baik adalah gembala yang mengasihi dombanya, seperti Yesus yang mengasihi domba-domba-Nya. Ia rela mengorbankan hidup-Nya bagi mereka. Injil hari ini menunjukkan bagaimana orang harus bersikap dan berbuat sebagai gembala atau pemimpin yang baik. Penggembalaan seperti itu harus menjadi cita-cita setiap gembala. Imam dalam Gereja disebut pastor. Dalam bahasa Latin, pastor berarti gembala. Model gembala yang digambarkan dalam Kitab Suci bukan hanya berlaku bagi pastor dalam bidang keagamaan, tapi juga berlaku bagi setiap orang yang berperan sebagai pemimpin, pendamping, pembesar, kepala rumah tangga, dll. Kebesaran pemimpin ialah kasihnya yang utuh dan bersedia berkorban dalam pelayanannya. Mengasihi Yesus dapat kita wujudkan dengan cara setia melaksanakan firman-Nya. Dalam hal kesetiaan pada sabda, perlulah sejenak kita belajar dari Maria. Bunda Maria telah mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah secara baik. Hal ini terungkap secara jelas sejak peristiwa kunjungan Malaikat Tuhan hingga wafat dan kebangkitan Yesus, dan bahkan berlanjut hingga peristiwa pentekosta. Maria telah mengambil bagian secara penuh dalam karya keselamatan. Karya tersebut dapat terlaksana karena Maria berserah diri pada kehendak Allah, dan karena memiliki kepekaan terhadap sapaan Tuhan. Kualitas pendengaran dan kepekaan menanggapi Firman Allah melebihi manusia pada umumnya. Yesus pernah menegaskan bahwa: ”Menjadi saudara-saudari dan ibu-Nya, berarti mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah”. Penegasan ini disampaikan Yesus ketika Ia mengajar banyak orang yang mengerumuni-Nya. Dengan penegasan ini, Yesus tidak bermaksud menolak Maria, tetapi menegaskan peran Maria yang telah melahirkan-Nya. Maria telah menjadi ibu Yesus bukan terutama karena ia telah mengandung dan melahirkan-Nya, melainkan karena Maria telah mendengarkan dan melaksanakannya. Maria telah dengan setia mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar